The Love Story of Kinanti & Kinoy

The Love Story of Kinanti & Kinoy
episode 99. Kinanti berangkat Ke Jakarta



πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Setelah Kinoy pergi ke Medan dan meniggalkannya. Kinanti pun segera menyetujui beasiswa dari fakultas Bunga bangsa di Jakarta.


ia berfikir bahwa jika dia masih di situ dia akan teringat terus dengan bayang-bayang Kinoy. Lalu dengan berat hati ia mengatakan kepada Nenek.


Ia menghampiri Nenek yang sedang duduk di kursi taman belakang rumah.


"Nek..!" Kinanti memanggil Neneknya


"Eh, Kinanti..sini duduk?" sahut Nenek.


Kinanti pun duduk di samping Nenek. Kinanti sangat gelisah. Ia ingin memberitahukan bahwa ia akan menyetujui Beasiswa yang di rekomendasikan untuknya.


"Kinanti..kenapa?sepertinya kamu gelisah sekali!" sindir Nenek.


Kinanti menyodorkan sebuah surat untuk Nenek.


"Ini, Nek!"


"Apa, ini?" tanya Nenek.


"Ini, Nek..Ada 3 orang yang mendapatkan Beasiswa dari fakultas Bunga Bangsa di Jakarta. Nah Kinanti salah satunya yang mendapatkan beasiswa itu" kata Kinanti.


"Alhamdulillah..selamat, Cu kamu mendapatkan beasiswa!" ucap Nenek.


Kinanti pun terlihat murung dan sedih. Lalu Nenek pun bertanya.


"Bukannya bahagia mendapatkan beasiswa eh..ini malah sedih! Ada apa? Apa kamu tidak senang dengan itu?"


"Enggak, Nek! bukannya Kinanti tidak senang dengan kabar baik itu, tapi...!" sahut Kinanti.


"Tapi..kenapa?" tanya Nenek


Kinanti langsung memeluk Nenek dan berkata.


"Kinanti..sedih karena jika Kinanti pergi ke Jakarta, lalu siapa yang akan menemani Nenek di sini?" keluh Kinanti.


"Kamu nggak perlu khawatir sama Nenek, karena di sini Nenek nggak sendirian. Ada Om dan tante kamu di sini, ada Pak Agus, ada bibi..dan ada Pak satpam serta Pak Ujang tukang kebun kita." kata Nenek


"Nenek mengizinkan kamu jika itu demi cita-citamu. Tapi Nenek pesan Sebelum kamu pergi alangkah baik jika kamu ziarah dulu ke makam Ibu dan Ayahmu!" usul Nenek.


"Iya, Nek!"


Kinanti mencium Neneknya dan mengucapkan.


"Terima kasih ya, Nek karena sudah mengizinkan Kinanti!"


"Iya.." sahut Nenek.


Kemudian Kinanti pergi ke kamar untuk mengambil handphone nya. Ia berniat untuk menghubungi Bu guru karena ia menyetujui beasiswa itu. Setelah menghubungi Kinanti pun berangkat pada besok lusa.


Hari ini ia ingin mengajak Nenek untuk ziarah ke makam orang tuanya. Setelah memberitahu rencananya hari ini, mereka pun segera bersiap-siap pergi ke makam untuk ziarah.


Sesampainya disana,mereka membacakan doa dan menaburkan bunga di atas makam itu. Kemudian Kinanti mengusap kedua pusara makam orang tuanya sambil berkata.


"Mah...Bah...Kinanti pamit pergi ke Jakarta untuk kuliah di sana.Ayah dan Ibu restui Kinanti ya..agar Kita bisa kuliah hingga lulus jadi sarjana,ya.." ucap Kinanti dengan meneteskan airmata.


Kinanti pun mencium kedua nisan orang tuanya. Nenek pun ikut sedih. Kinanti dan Nenek pun pergi meninggalkan makam itu dan Kembali pulang.


Setelah sampai rumah, Kinanti pun mempersiapkan segala sesuatunya. Sebelum dia pergi hari itu dia mengurus paspornya dulu. Karena membuat paspor butuh waktu maka dari itu ia menunda keberangkatannya selama satu minggu lagi. Dan itu berarti ada beberapa hari untuknya menghabiskan waktu bersama Neneknya.


🌺🌺🌺🌺


Satu minggu pun berlalu, tibalah waktunya Kinanti untuk segera pergi ke Jakarta untuk mengurus Kuliahnya.Nenek pun merasa sedih dan semua orang yang ada di dalam rumah itu juga merasa sedih.


Dengan berat hati Nenek mengantarkan Kinanti ke bandara. Pak Agus pun mengambil koper Kinanti dan memasukannya di bagasi mobil.


Kinanti di temani Nenek masuk ke dalam mobil. Mobil pun di nyalakan Pak Agus segera memasang sabuk pengaman.


Nenek mulai bertanya Apakah ada barang yang tertinggal.


"Kinanti..Apakah semua barang sudah beres? Apakah ada barang yang tertinggal?" tanya Nenek.


"Enggak Nek, sepertinya tidak ada barang yang tertinggal. Semuanya sudah beres!" kata Kinanti.


Sesampainya di sana Kinanti pun segera di antar sampai ke bagian check in. Di situlah kesedihan di antara Nenek dan Kinanti mulai pecah.


Nenek tak tahan dengan perasaannya kala mengantarkan Kinanti ke bandara.Nenek berpesan.


"Kinanti..belajarlah sungguh-sungguh, raih cita-citamu. Kamu harus bisa jadi seseorang yang sukses di masa depan. Kamu boleh saja mengutamakan pendidikanmu tetapi kamu harus mengutamakan ibadahmu kepada Allah," ucap Nenek menasehati Kinanti.


Kinanti yang berdiri memegangi koper pun langsung melepaskan koper itu dan langsung memeluk Nenek.


"Terima kasih, Karena Nenek sudah menasehati Kinanti..Kinanti nggak akan penah lupa dengan nasehat Nenek. Kinanti sayang Nenek" sahut Kinanti.


Lalu mereka berdua menangis sambil berpelukan. Nenek menegur Kinanti.


"Kinan..tuh sudah waktunya sebentar lagi pesawatnya berangkat!" tegur Nenek.


Lalu Kinanti pun menarik kopernya dan bersiap untuk masuk ke dalam. Kinanti mengatakan Sesuatu.


"Nek, Pak Agus Kinanti..berangkat dulu, ya!"


"Kinanti..!" panggil Nenek.


"Iya, Nek" sahut Kinanti.


"Jangan lupa, jika sudah sampai segera beri tahu Nenek, ya" pinta Nenek.


"Iya, Nek"


Lalu Kinanti berjalan meninggalkan Nenek dan Pak Agus. Kinanti menoleh ke belakang dan berkata kepada Pak Agus.


"Pak! tolong jagain Nenek ya..selama Kinanti di Jakarta!"


"Siap, Non! Non jangan khawatir..di sini banyak kok yang nemenin Nyonya Boss!" sahut Pak Agus.


"Terima kasih, ya Pak"


Lalu Kinanti melanjutkan langkah kakinya.ia berkata dalam hati.


"Di sini aku juga merasakan apa yang dirasakan Kinoy ketika hendak pergi ia merasakan sulit untuk meninggalkan orang yang Kita sayangi, namun Kita harus tetap pergi walaupun itu hanya sementara."


Kinanti pun masuk ke dalam. Dan isak tangis Nenek megiringi Keberangkatan Kinanti. Tak beberapa lama kemudian terdengar suara pesawat tujuan jakarta yang di tumpangi Kinanti telah berangkat.


Nenek pun menangis karena baru kali ini ia merasakan kesedihan yang mendalam saat cucu kesayangannya pergi ke kota seberang laut.


Lalu Pak Agus pun berkata.


"Nyoya boss! mari kita pulang..Lagi pula kan masih ada tuan Bambang beserta istrinya. Nyonya boss, juga tidak kesepian Non Vita kan juga cucu Nyonya, kan?"


"Iya, Pak..ayo kita pulang.."


Nenek dan Pak Agus pun berjalan menuju keluar dari bandara. Sesampainya di depan bandara, Pak Agus menyuruh Nenek Kinanti untuk menunggu di situ.


"Emm..Nyonya boss! Nyonya tunggu di sini saya biar saya yang mengambil mobilnya di parkiran!"


"Iya, baiklah Pak!"


Lalu Pak Agus mengambil mobil di parkiran. Sesampainya di depan Nenek pun masuk ke dalam mobil dan mereka segera pulang ke rumah.


Sementara itu Kinanti yang berada di dalam pesawat sedang duduk memandangi sebuah bingkai foto di dalam dompet kecil. Foto itu adalah fotonya bersama Kinoy saat di taman kota.


Ia memandangi foto itu dan kembali mengingat kisah manis saat jalan-jalan di taman kota. Kinoy merupakan cowok yang sangat romantis. Ia meneteskan airmata kala mengingat semua kenangan manisnya bersama Kinoy.