The Love Story of Kinanti & Kinoy

The Love Story of Kinanti & Kinoy
episode 89. Kinanti sudah boleh pulang



🥀🥀🥀🥀


Setelah hampir 1 minggu berada di rumah sakit.pagi itu dokter dan suster masuk dan memeriksa keadaan Kinanti. Kinoy yang tidur dalam posisi duduk di atas kursi sambil memegang tangan Kinanti.


"Tok..tok..tok!"


"Eh, Dokter!" tegur Kinoy dengan terkejut.


Ia pun langsung membangunkan Kinanti yang masih tertidur.


"Sayang..ayo, bangun Dokter sudah datang untuk memeriksa keadaanmu!" ujar Kinoy sambil mengusap kepala Kinanti. Kinanti pun terbangun sambil melihat dokter dan suster masuk untuk memeriksanya.


"Eh, Dokter!"


Dokter pun mulai memeriksanya. Detelah di periksa Keadaan Kinanti sudah mulai pulih kembali, namun ada sedikit rasa nyeri di bagian kepalanya saja. Kemungkinan hari ini Kinanti sudah boleh pulang, tapi harus tetap beristirahat. Kinoy dan Kinanti bahagia mendengarnya. Lalu Kinoy segera menghubungi nenek.


"Halo, Nek!"


"Halo, Kinoy, ada apa?"


"Nek, Aku ada berita bagus untuk Nenek!"


"Berita apa, itu?"


"Nek,keadaan Kinanti mulai membaik. Dan kata Dokter, mulai hari ini Kinanti sudah boleh pulang ke rumah, tapi harus tetap istirahat, nggak boleh beraktivitas dulu, Nek!" jelas Kinoy.


"Alhamdulillah, ya allah!" ucap Nenek dengan perasaan bahagia.


"Ya, sudah! nanti Nenek ke sana untuk jemput Kinanti," sahut Nenek.


"Iya, Nek!"


Lalu Kinoy pun mendekati Kinanti dan mengatakan sesuatu.


"Sayang..aku bahagia sekali. Sekarang kamu sudah sembuh dan kamu juga sudah boleh pulang!"


"Iya..aku bahagia dengan keadaan aku yang sudah membaik"


Lalu Kinanti pun memegang tangan Kinoy dan mulai bertanya.


"Apa kamu masih mencintai aku setulus hati meskipun aku sudah tak miskin lagi?" tanya Kinanti.


"Sayang..kamu nih apa-apasn sih!" balas Kinoy sambil memegang wajah Kinanti.


"Jawab saja yang jujur!" tegas Kinanti.


Lalu Kinoy mendekati Kinanti dan berkata.


"Sungguh aku benar-benar mencintaimu."


"Bener..walaupun aku dan Vita adalah saudara sepupu,?" tanya Kinanti kembali.


"Saudara Sepupu?" tanya Kinoy dengan terkejut.


"Apa Kamu tidak mengetahui hal ini?"


"Enggak tuh! aku sama sekali nggak tahu. Bagaimana ceritanya kamu dan Vita adalah sepupu?" tanya Kinoy kembali.


"Coba ceritakan sama aku!" sahut Kinoy.


"Jadi..kemarin ada orang tua Vita datang ke sini katanya sih untuk jenguk aku, tapi.. mereka terkejut saat melihat Nenek bersamaku. Lalu mereka memanggil nenek dengan sebutan Ibu, mereka bertekuk lutut di hadapan Nenek untuk meminta maaf kepada Nenek" ucap Kinanti mulai menjelaskan.


"Lalu?" tanya Kinoy.


"Lalu..mereka meminta maaf kepada Nenek. Ayah Vita bilang ia sengaja merusak rem mobil milik ayahku dan ingin menguasai semua aset kekayaan milik ayahku,"


"Lalu Om Bambang siapa nya ayahmu?" tanya Kinoy dengan semakin penasaran.


"Katanya sih Om Bambang adalah..adik kandung dari Ayahku!" jelas Kinanti.


"Astaga! jadi selama ini Vita adalah keluargamu! kok bisa ya, sejahat itu sama kamu," kata Kinoy.


"Aku jadi penasaran dengan semua rahasia besar ini! aku akan minta Nenek untuk menjelaskan semuanya, nanti di saat pulang ke rumah." ujar Kinanti.


"Iya, ayo cepat berberes..katanya ingin cepet pulang," tegur Kinoy.


Tiba-tiba Kinanti merasakan sakit pada kepalanya. Kinoy pun mulai panik dan khawatir.


"Aww...!" keluh Kinanti.


"Ada, apa? apa kepalamu masih sakit? sebaiknya kamu duduk dulu deh, nggak usah banyak gerak dulu!" kata Kinoy mulai khawatir.


Saat Kinoy mulai panik karena khawatir, tiba-tiba Kinanti tertawa dan itu adalah sakit pura-pura saja, Kinanti menjahili Kinoy dengan pura-pura sakit agar dapat perhatian dari Kinoy.


"Ha..ha..ha!kaku ketipu.."


"Apa? kamu cuma pura-pura sakit..padahal aku khawatir banget sama Kamu" keluh Kinoy.


Kinanti pun mengejek Kinoy, Kinanti pun berlari mengelilingi Kursi untuk menghindari Kinoy menangkapnya.


"Awas kamu, ya! sini kamu..jangan lari!"


"Silahkan saja tangkap aku,kalo bisa.blee!" Kinanti mengejek Kinoy.


"Awas kamu, ya!" sahut Kinoy.


Lalu Saat Kinanti hendak berlari, tiba-tiba kaki Kinanti tersandung sehingga membuatnya ingin terjatuh. Untung Kinoy cepat menolong Kinanti. Kinoy segera mengulurkan tangannya untuk menangkap Kinanti yang hendak terjatuh. Dan Kinanti pun terjatuh dalam pelukan Kinoy. Mereka saling bertatapan.


Tatapan mata Keduanya sungguh dalam. Seperti mata mereka berdua saling berbicara, membicarakan cinta.


Tak lama Kemudian Nenek datang dan membuka pintu. Keduanya terkejut dan berkata.


"Eh, Nenek sudah datang,"


Nenek pun berkata.


"Ayo..kalian ngapain tadi? duh..mesranya tatap-tatapan mata."


Kinanti pun merasa malu, mukanya memerah seketika dan berkata.


"Iih..Nenek ini apa-apaan sih! selalu saja mengejek cucunya!" keluh Kinanti.


"semuanya sudah siap?" tanya Nenek.


"Sudah, Nek! ayo kita pulang!"


"Ayo!" sahut Nenek.


Lalu mereka pun segera keluar dari ruangan itu menuju luar. Tapi saat hendak berjalan menuju pintu depan suster segera memanggil untuk menyelesaikan pembayaran terlebih dahulu.


Lalu Kinoy pun menyuruh Kinanti dan Nenek keluar terlebih dahulu biar dia yang menyekesaikan pembayaran itu, namun Nenek menolaknya tapi Kinoy bersikeras untuk segera membayar semua biaya pengobatan Kinanti selama di rumah sakit.


Nenek pun berterima kasih pada Kinoy, mamun Kinoy membalasanya dengan senyuman. Akhirnya mereka pun keluar dari rumah sakit itu setelah menyelesaikan pembayaran biaya rumah sakit selama Kinanti dirawat.


Nenek sangat bersyukur sekali. Dengan hadirnya Kinoy di hidup Kinanti, itu membuatnya tidak terlalu khawatir terhadap Kinanti.


"Alhamdulillah, berkat hadirnya Kinoy di hidup Kinanti. Membuat Kinanti tampak ceria dan bahagia. walaupun ada segelintir masalah akibat keduanya bersama, tetapi itu semua bisa di lewati mereka berdua." gumam Nenek dalam hati.


"Terima kasih yaa Allah. Engkau telah menghadirkan Kinoy sebagai teman Kinanti. Selama ini Kinanti merasa kesepian semenjak kedua orang tuanya nya meninggal akibat kecelakaan. Semoga cinta mereka awet hingga menikah nanti di suatu hari," ucap Nenek dalam hati.


Kinoy sangat perhatian kepada Kinanti. Ia juga bisa menghibur Kinanti, tapi sayangnya Kinoy itu terlalu cepat marah dan mudah terpancing emosi. Kinoy sangat menyayangi Kinanti dan Nenek. Nenek Kinanti sudah di anggapnya seperti Nenek sendiri.


Kinoy mencoba untuk tidak emosi lagi. Dan ia telah berjanji kepada Kinanti untuk tidak cepat marah dan cepat terpancing emosi. Karena masyarakat Banjarmasin terkenal ramah dan sopan santun nya.


Tidak seperti Masyarakat di kota kota besar dengan gaya perkataan nya yang agak sedikit kasar. Kinanti meminta Kinoy untuk menghargai budaya dan kearifan lokal di Banjarmasin, karena Kinoy termasuk warga pendatang di Banjarmasin. Jadi harus menaati semua peraturan atau petuah petuah warga Banjarmasin.


Kinoy pun menyanggupinya.


"Kinoy, di sini ku tidak boleh lagi cepat marah dan mudah terpancing emosi. Hargai budaya dan kearifan lokal dari kami warga Kalimantan. Hindari berkata kasar di sini. Karena orang Kalimantan khususnya Banjarmasin terkenal dengan akhlak sopan santunnya," ujar Kinanti.


"Iya, aku paham. Sebagai warga pendatang, aku harus menghargai budaya dan petuah petuah di sini. Maaf, ya..kalau aku pernah berlaku kasar di sini. Aku Jan tidak lagi berantem di sini" ujar Kinoy.