
*****
Saat pagi hari datang. Sejuknya udara pagi seakan menyapa. Kinanti pun bersiap untuk berangkat ke sekolah. Ternyata ia mendapati Kinoy tak menjemputnya, setelah kemarin di jemput sama anak buah dari Ayahnya.
Ia kembali berjalan kaki, untuk sampai ke sekolah. Kali ini ia tidak naik bis untuk sampai di sekolah, namun ia hanya berjalan kaki saja. Sesampainya di pintu gerbang sekolah, Ia terkejut saat melihat Kinoy datang ke sekolah bersama Vita, menaiki motor besar milik Kinoy.
Ia merasa sangat cemburu melihat kebersamaan Vita dan Kinoy. Padahal sebelum Kinoy berangkat ke sekolah bersama Vita. Ayahnya Kinoy, mengancam Kinoy jika masih berhubungan dengan Kinanti. Ia harus menjemput Vita di rumahnya. Ia berangkat ke sekolah harus bersama Vita, tidak boleh meninggalkan Vita sendirian. Jika ia masih tidak memperdulikan Vita. Maka Ayahnya akan mencabut fasilitas kemewahan untuk Kinoy.
"Kinoy..kamu mau berangkat ke sekolah, ya?"
"Iya, Pah Aada apa ya?"
"Nak, kamu harus jemput Vita di rumahnya, ya. Dia ingin berangkat bersama kamu!"
"Nggak, ah! males banget, Pah berangkat bersama Vita, si cewek centil itu"
"Kamu harus jemput dia, sekarang juga! Papah tak mau kamu menolaknya"
"Tapi, Pah!"
"Jika kamu menolak apa yang Papah perintahkan, berarti kamu siap meninggalkan semua fasilitas yang Papah berikan kepada kamu? mau, Papah ambil semua fasilitas kemewahan ini!"
"Tapi..Pah!"
"Tidak usah tapi-tapian" sahut Ayahnya.
Lalu, Kinoy pun berangkat ke sekolah. Namun ia tidak melupakan perintah Ayahnya. Dengan perasaan terpaksa, ia pun harus menjemput Vita dan berangkat ke sekolah bersama.
Saat sampai di sekolah, Kinoy pun merasa tidak enak hati dengan Kinanti. Kinanti merasakan cemburu saat Vita bersama dengan Kinoy. Kinoy pun menanggil Kinanti dan mengejarnya.Vita meraih tangan Kinoy, saat Kinoy hendak mengejar Kinanti.
"Kinanti.. Kinanti, tunggu!"
"Kinoy.."
"I.ih. Kamu nih apa-apaan sih? gara-gara kamu sih!"
"Kinoy..sebentar lagi, kita tunangan. Aku harap kamu tidak membuatku kecewa!"
"Kamu, tau kan jika kamu mengecewakan aku! aku akan laporkan kamu kepada Om Herlambang"
"Ya..baiklah." kata Kinoy dengan terpaksa.
Kini Vita dan Kinoy pun berjalan memasuki kelas dengan bergandengan tangan. Saat memasuki kelas, Kinoy dan Vita bertemu dengan Dina dan Amel.
Dina dan Amel memberikan selamat kepada Vita. Dina dan Amel pun mengabarkan kepada semua teman yang ada di dalam kelas itu. Kinanti pun terkejut saat mendengar hal itu.
"Iya, nih pake acara gandengan tangan nih!" sahut Amel.
"Ini loh..kami berdua di jodohin sama orang tua kami masing-masing dan rencananya sebentar lagi, kami akan tunangan" ucap Vita.
"Ah, yang bener kamu, Vit? kamu bohong ya?"
"Iya, beneran. Ngapain aku bohong! kalo nggak percaya tanya aja sama Kinoy nya sendiri!" sahut Vita.
Mendengar hal itu, Kinanti pun menjadi sedih dan marah. Kinanti pun menghentakkan tangan ke atas meja dengan keras dan pergi keluar kelas. Kinoy pun hanya terdiam saja melihat Vita berbicara seperti itu.
Melihat Kinanti meneteskan airmata dan pergi keluar kelas. Saat itu juga Kinoy pun melepaskan gandengan tangan itu dan kembali mengejar Kinanti.
"Kinanti.. Kinanti! tunggu, aku bisa jelasin ini semua!" jelas Kinoy.
Namun Kinanti tak menghiraukannya. Kinanti pergi ke pojok kelas. Ia duduk di kursi itu, dan menangis.
Kinoy pun menyusulnya. Sesampainya di sana Kinoy memegang tangan Kinanti.
"Sayang, aku bisa jelasin semua. Ini..nggak seperti apa yang kamu lihat!"
"Udahlah..kita akhiri saja, hubungan ini. Toh kita berbeda"
"Maksudmu, apa? aku nggak ngerti!"
Kinanti pun menjelaskan bahwa mereka berdua tidak bisa bersatu, karena cinta berbeda kasta. Ia juga menceritakan bahwa anak buah ayahnya, yang kemarin menjemput Kinoy, datang dan menghancurkan seisi toko. Rombongan itu juga mengancam Kinanti. Kinanti harus bisa menjauhi Kinoy, kalau tidak nasib mereka akan lebih bahaya lagi dari itu.
"Kemarin, saat kamu pulang. Tidak lama kemudian datanglah segerombolan lelaki berbadan besar. Mereka memakai pakaian hitam yang serba rapi. Kemudian mereka mengacak-ngacak dan menghancurkan semua dagangan kami. Ia mendorong Nenek hingga Nenek terjatuh. Ia juga mengancamku, jika aku harus menjauhimu. Kalau tidak nasib kami akan terancam" curhat Kinanti.
"Maka dari itu, lebih baik kita putus aja!" uca Kinanti sambil meneteskan airmata.
"ini, pasti kerjaan Papah! tapi aku sayang sama kamu. Aku nggak mau putus dari kamu" kata Kinoy.
"Mau bagaimana lagi, ini jalan yang terbaik untuk kita"
"Lebih, baik kita putus saja" ucap Kinanti.
Kinanti pun pergi meninggalkan Kinoy sendiri, ia berhalan meninggalkan Kinoy sambil berderai air mata.
Namun Kinoy tidak mau putus dari Kinanti. Ia sangat mencintai Kinanti, bahkan ia reka mati demi Kinanti.
~🌹BERSAMBUNG🌹~