The Love Story of Kinanti & Kinoy

The Love Story of Kinanti & Kinoy
episode 58. Terpaksa putus menyiksa hati



Keesokan harinya saat menikmati hari pertama libur sekolah, sejak tadi pagi Kinanti tak kunjung keluar dari kamar. Ia membereskan tempat tidurnya. Setelah selesai membereskan kamar tidurnya, tidak sengaja, menyentuh sebuah bingkai foto.


Yang tak lain adalah fotonya bersama Kinoy saat masih menjadi sepasang kekasih. Ia merasa sedih kala melihat foto itu. Ia berkata sambil berurai air mata.


"Kinoy..aku nggak bisa membohongi diriku sendiri, bahwa aku sangat merindukanmu. Merindukan saat-saat kebersamaan kita dulu" gumam Kinanti.


Kinanti pun duduk di kursi, dan ia memulai menulis di sebuah buku diary berwarna pink. Ia mulai menuliskan sebuah kata-kata bernadakan cinta dan kesedihan.


"Dear deary...


Teruntuk dirimu yang di sana..


Tahukah kamu, bahwa aku masih mencintaimu..


Namun semesta rupanya, tak mengijinkan kita bersama memadu cinta kasih..


Aku juga tahu, bahwa kamu masih mencintaiku..


Kita gagal dalam memperjuangkan kisah ini..


Kisah cinta yang manis di awal..membuatku terbuai akan indahnya romansa percintaan..


Tetapi saat pahit empedu yang ku rasakan di pertengahan kisah ini...


Membuatku sakit dan tak bisa berjuang bersamamu lagi..


Kita memang saling mencintai..


Namun,Status..!


Derajat..!


Harta..!


Tahta.. !


dan Jabatan..!


Cintaku ini seperti Pungguk Merindukan Bulan.


Mustahil untuk kita bisa bersama lagi.." seperti itu tulisan yang di tulis Kinanti pada buku Diary nya.


Saat menulis tak terasa Air mata menetes membasahi pipi. Ia kembali mengambil fotonya bersama Kinoy itu, sambil meraba wajah Kinoy yang tampak bahagia di dalam foto itu sambil berkata.


"Mengapa, Ayahmu tidak menyukai aku? apa salahku? sehingga Ayahmu mengancamku dengan begitu kejamnya? dari awal juga, aku sadar bahwa kita itu berbeda! kamu orang kaya sedangkan aku orang miskin dan kampungan. Jujur, aku nggak sanggup melihat kamu bersama Vita!. aku cinta sama kamu, tapi aku harus bisa menjauhimu"


Kinanti pun menutup foto itu dan menghapus airmatanya.


"Aku harus bisa melupakanmu! iya harus bisa!" ucap Kinanti sambil menghapus airmatanya.


Tak lama kemudian handphonenya berdering. Ia mengambil handphone nya itu. Dan ternyata itu adalah pesan dari Anton. Anton mengirimkan pesan.


"Kinanti..Kamu nggak boleh bersedih..kalo kamu sedih..kamu nggak cantik lagi!"


"Apa'an sih kamu " balas Kinanti.


"Tersenyumlah..jangan terlalu larut dalam kesedihan..",isi pesan Anton.


"Iya, terima kasih ya atas perhatiannya" balas Kinanti.


"Iya, sama-sama. Kalo kamu mau curhat..aku siap kok jadi pendengar yang baik buat kamu!" ucap Anton.


"Iya" balas Kinanti.


Walaupun Anton mencoba menasehatinya, agar tidak larut dalam kesedihan. Tetap saja Kinanti, merasakan kesedihan yang teramat dalam. Ia mencintai seseorang, namun harus di paksakan untuk menjauhi orang itu.


Hidup nya pun semakin menderita, saat Kinoy masuk di kehidupannya. Hidup nya menjadi tidak tenang, karena Pak Herlambang Ayahnya Kinoy mencoba mengintimidasi dirinya agar dirinya segera cepat menjauhi Kinoy.


Karena dirinya dan Kinoy sangatlah berbeda. Bagaikan Langit dan Bumi. Kinoy itu tidak selevel dengan dirinya. Dirinya hanya benalu yang masuk di kehidupan Kinoy saja. Seperti itulah perkataan dari Pak Herlambang kepada Kinanti.


Kinanti merasa terhina di hadapan Pak Herlambang, yang mengagungkan kekayaan dan jabatan.


"Pak Herlambang takut sekali kalau kariernya hancur, karena Kinoy berhubungan dengan aku, sicewek kampung yang miskin itu" keluh Kinanti sambil menangis.