The Love Story of Kinanti & Kinoy

The Love Story of Kinanti & Kinoy
episode 59 Pelukan terakhir dari Kinoy



Saat malam melanda Kinanti, duduk sendiri di depan jendela yang terbuka. Melihat suasana malam yang begitu dingin dan indah. Di kegelapan malam ini, Kinanti mencoba mengingat kembali kisah cintanya bersama Kinoy. Yang pada awalnya nya manis, namun kini terpaksa terpisah karena cinta berbeda kasta.



Ia berkata dengan memandangi rembulan.


"Jika tahu akan sesakit ini..aku nggak akan mau menjadi kekasihmu" ucap Kinanti.


"Biarlah ku sendiri..di dalam kisah ini, mencintaimu,namun hanya sebatas mimpi. Mimpi yang takkan bisa menjadi kenyataan!"


Kinanti kini mencoba tegar dalam menghadapi semua permasalahannya. Kinanti mencoba tidak mengenang lagi kisah manisnya bersama Kinoy Prayoga.


"Sudah, ya Kinanti..sudah! jangan lagi mengenang kisah manis itu, kini kamu harus bisa move on dari dia!" kata dirinya berbicara sendiri sambil menyapu airmatanya.


Kini tidak bisa di pungkiri nya, bahwa dirinya masih sangat mencintai Kinoy. Namun dirinya tidak bisa bersama lagi dengan Kinoy. Sesaat dirinya duduk menyendiri di depan jendela kamarnya, terdengar suara memanggilnya. Ia pun langsung menengok kearah suara itu, ternyata itu adalah suara dari Kinoy. Kinoy memanggilnya dan ingin mencoba mengatakan sesuatu padanya.


"Kinanti..Kinanti..Kinanti keluarlah, aku perlu ngomong sama kamu!" panggil Kinoy.


"Nggak! maaf diantara kita nggak ada yang perlu di omongin!" ketus Kinanti.


"Ayolah, Kinanti! sebentar saja" pinta Kinoy.


"Aku sangat mencintaimu Kinan! ayolah!" bujuk Kinoy memohon kepada Kinanti.


Kinanti pun terdiam sambil berpikir. Lalu ia pun mengatakan kepada Kinoy.


"Baiklah, aku akan keluar!"


Kinanti pun keluar dari kamarnya dan pergi keluar rumah, untuk menemui Kinoy. Sesampainya di luar rumah, Kinoy pun langsung menghampiri Kinanti.


"Akhirnya kamu, mau juga keluar untuk menemuiku!" ucap Kinoy sambil tersenyum.


"Ada apa sih, kok kamu ke sini?" tanya Kinanti sambil memalingkan muka kepada Kinoy.


"Kenapa? apa kamu nggak suka aku kesini?" tanya Kinoy.


"Cepat, katakanlah apa yang ingin kamu bicarakan!" ketus Kinanti.


"Aku masih mencintaimu..aku nggak mau kita berpisah! bisakah kita bersama lagi..seperti dulu!"


Kinoy masih memegang kedua tangannya.


"Kita saling mencintai satu sama lain, namun kita tidak bisa bersama karena perjodohan itu, tapi itu bukan kemauanku. Bisakah kamu, berjuang bersamaku? kita perjuangkan lagi kisah cinta kita sampai kata restu di berikan!" ucap Kinoy sambil membujuk Kinanti.


Telah terjadi hujan yang sangat lebat, pada malam itu. Tak terasa hujan pun turun membasahi keduanya, Kinanti dan Kinoy yang berdiri berdua di luar rumah pun basah kuyup.


Kinanti pun tak mampu menahan bendungan airmatanya lagi, saat Kinoy mengatakan masih mencintainya dan ingin berjuang bersama dengannya.


"Kita lupakan saja kisah cinta yang pernah kita lalui bersama!" ucap Kinanti sambil melepaskan kedua tangannya yang di pegang oleh Kinoy.


"Mengapa? apa kamu tidak ingin berjuang bersama ku?" tanya Kinoy kembali.


"Aku ingin kamu lupakan saja aku dan kisah kita. Anggap saja kita tidak pernah saling kenal, karena itu lebih baik dari pada kita bersama, namun banyak sekali rintangan dalam kisah itu!" kata Kinanti berbalik arah dan ingin masuk kedalam rumah.


Kinanti hendak meninggalkan Kinoy sendiri di luar. Sesaat Kinanti berbalik arah dan berjalan selangkah menuju ke dalam rumah, Kinoy menarik tangannya dan memeluknya.


Kinoy pun memeluk Kinanti sambil mengatakan suatu hal.


"Aku mencintaimu Kinanti..aku mencintaimu.." ucap Kinoy sambil meneteskan airmata.


Lalu Kinanti pun membalas perkataan Kinoy dari dalam hati.


"Aku juga mencintaimu Kinoy..sangat mencintaimu, namun lebih baik kita saling menjauh dan lupakanlah kisah yang pernah ada" ucap Kinanti dalam hati.


Kinanti dan Kinoy saling meneteskan airmata di saat berpelukan.


"Mungkin, ini pelukan yang terakhir untukku" kata Kinanti sambil menangis.


Kinanti pun kembali meneruskan langkah kakinya, menuju masuk ke dalam rumah. Ia pun langsung menutup pintu, tanpa melihat ke arah Kinoy.


Kinanti pun berdiri bersandar di belakang pintu sambil menangis.