
Anton dan Kinanti pun berbalik arah menuju salon kecantikan tadi. Anton tidak memarahinya gara-gara kelalaian nya. Kado itu tertinggal di atas kursi menunggu di dalam salon kecantikan itu.
Anton pun bersama Kinanti dengan kecepatan mobil yang lumayan laju. Membuat mereka cepat santai. Tidak memerlukan waktu lama, untuk sampai di sebuah salon kecantikan tadi. Kinanti pun bergegas membuka pintu mobil, untuk segera turun mengambil kado itu. Ternyata Anton melarangnya. Anton menyuruh Kinanti tetap berada di dalam mobil.
"Akhirnya..kita sampai juga!" ucap Kinanti sambil berusaha membuka pintu mobil.
Anton pun menyapa Kinanti, yang sedang kesusahan membuka pintu mobil.
"Kinanti..kamu mau kemana?"
"Ya. .mau keluarlah, mengambil kado yang tertinggal tadi!" ketus Kinanti.
"Ya..sudah! lebih baik, kamu tetap berada di mobil. Jangan khawatir, masalah kado biar aku yang mengambilnya" pinta Anton.
"Em..baiklah!" sahut Kinanti.
Lalu Anton keluar dari mobilnya dan berjalan menuju pintu salon kecantikan itu. Anton pun masuk menuju kursi menunggu di samping kiri pada ruangan itu. Ia melihat ada dua kotak kado masih terbungkus rapi di atas kursi.
"Nah. ini dia, kadonya!" kata Anton sambil menunjuk ke arah kado tersebut.
Anton langsung mengambil kado tersebut dan kembali ke mobil. Sesaat Anton kembali masuk ke dalam mobil, ia menaruh kado tersebut tepat di kursi belakang dalam mobilnya. Kinanti pun berkata.
"Syukurlah..kadonya masih ada. KU pikir..kado itu sudah nggak ada lagi!" ucap Kinanti merasa lega.
Lalu Anton pun kembali mengendarai mobilnya. Mereka berjalan menuju caffe tempat acara ulang tahun Vita.
Di sepanjang jalan,Kinanti menatap Anton dengan penuh rasa.
"Aduh..aku jadi nggak enak sama Anton. Selama ini sikapku selalu jutek sama dia. Padahal dia juga anak yang baik dan penuh perhatian!" gumam Kinanti dalam hati.
"Kenapa? kok kamu menatap aku seperti itu?"
"Enggak..enggak kok. Aku cuma berkata dalam hati..bahwa kamu juga orang yang baik!" ucap Kinanti.
"Udah..jangan terlalu menatap aku seperti itu..hati-hati, nanti kamu naksir sama aku!" ucap Anton sambil menggoda Kinanti.
"Idih..Pede amat! nggak bakal, lah!" sahut Kinanti sambil membuang muka pada Anton.
Kenapa? karena kamu masih mencintai Kinoy?
Mendengar perkataan Anton tadi, Kinanti jadi bersedih bahkan meneteskan airmata. Ia mengingat kejadian dari awal perseteruan nya dengan orang tua Kinoy bahkan kejadian penculikan itu.
Melihat Kinanti menangis, ia pun segera menghentikan mobilnya secara mendadak.
"Aduh..kok kamu nangis? apa perkataanku tadi menyinggung perasaanmu? aku minta maaf, ya. Aku janji nggak bakalan ngomong kaya gitu lagi!" ucap Anton mulai panik dan gelisah.
"Udahlah..nggak papa. Aku cuma teringat sedikit aja kok, kejadian yang membuat hubungan kami terpaksa putus" sahut Kinanti sambil menyapu airmatanya.
"Udah..kamu jangan menangis lagi. Aku kan selalu ada buat kamu!" ucap Anton menyapu airmata Kinanti dengan selembar tissu.
Kinanti pun menyaksikan Anton begitu perhatian dengannya. Lalu tak sengaja ia memeluk Anton sambil menangis tersedu-sedu.
Anton pun terkejut dengan sikap Kinanti, yang tiba-tiba memeluknya sambil menangis. Ia pun berkata.
"Sudahlah..hapus airmatamu itu. TaK pantas kamu menangisi cowok seperti Kinoy itu. Yang tidak mau memperjuangkan cintanya. Sudahlah..hapus airmatamu!"