
🥀🥀🥀🥀
"iya, memang benar kok!" sahut Kinanti.
"Sudahlah! hentikan jangan lagi bully dia, kasihan dia," ucap Kinanti.
Dina pun semakin kesal dengan Kinanti yang membela Vita.
"Seharusnya tuh, Kinanti merasa marah bahkan dendam sama Vita. Jadi..aku lebih gampang untuk membuat mereka berdua bermusuhan lagi!" gumam Dina dalam hati.
Lalu Kinoy pun menarik tangan Kinanti pergi meninggalkan Dina dan Amel. Ia tidak ingin Kinanti berdebat dengan Dina dan Amel. Mereka berdua berjalan menuju kantin untuk duduk santai menunggu pengumuman pembagian kelas.
Saat mereka santai di kantin, tiba-tiba datanglah Anton. Kinoy berdiri untuk membelikan Kinanti air minum. Saat Kinoy memesan minuman, Anton pun datang menghampiri Kinanti.
"Eh, Kinanti..! bagaimana keadaanmu?" tanya Anton.
"Eh, kamu Ton! Iya alhamdulillah aku udah agak mendingan kok."
"Syukurlah kalo gitu. Eh..apa aku boleh duduk disini sebentar?"
"Boleh kok! ada apa, ya?" tanya Kinanti.
"Aku mau nanti saat jam istirahat, kamu mau dengerin aku curhat?" pinta Anton.
"Iya, nanti, ya!" sahut Kinanti.
Saat selesai membeli minuman untuk Kinanti. Ia pun berbalik arah dan berjalan menuju tempat Kinanti. Ia terkejut dengan Kedatangan Anton yang duduk bersebelahan dengan Kinanti.
Kinoy pun segera menghampiri Kinanti dan Anton. Kinoy menaruh minuman itu ke atas meja dan menyerahkan minuman itu pada Kinanti. Kinoy pun menanyakan perihal apa yang membuatnya untuk menghampiri Kinanti. Dengan nada suara keras Kinoy pun bertanya.
"Ngapain Lu ke sini nyamperin pacar gua? Ada perihal apa yang membuat Lu menghampirinya?"
"Santai, Bro..santai!" balas Anton.
Kinoy pun menggenggam tangannya hendak memukul Anton. Kinanti pun mulai panik. Ia menjadi penengah antara Kinoy dan Anton. Saat Kinoy hendak memukul Anton, tiba-tiba bel pun berbunyi. Semua siswa dan siswi di minta untuk berkumpul di lapangan.
Kinanti pun menarik tangan Kinoy membawanya pergi menuju lapangan untuk berbaris di sana. Mengapa semua murid di suruh berkumpul di sana, ternyata itu adalah rencana para guru untuk membagi kelas.
Mendengar pembagian kelas itu, Kinoy pun menjadi marah, karena ia pikir bahwa Anton masih mendekati Kinanti. Lalu setelah semua kelas di bagikan, semua murid masuk ke dalam kelas masing-masing.
Setelah semua murid masuk ke dalam kelas masing-masing, Bu Guru pun juga masuk kedalam kelas. Kali ini untuk murid kelas XII di anjurkan untuk duduk sendiri-sendiri tanpa berdua seperti biasanya. Itu menjadi berita yang membuat hati Kinoy menjadi tenang.
Ia selalu saja berpikiran buruk terhadap Anton. Padahal sebenarnya, Anton hanya ingin mencurahkan semua perasaan cinta yang di rasakannya saat belakangan ini kepada Vita.
Dengan berbalas surat di dalam kelas, adalah satu-satunya cara untuk Anton mengobrol kepada Kinanti tanpa Adanya Kinoy.
"Kinanti...! ambillah surat ini dan balas, ya!" bisik Anton dengan menyerahkan selembar kertas yang di lipatnya.
Kinanti pun menyambutnya. Kinanti membuka surat itu.
"Kinanti..lewat kertas ini saja,kita mengobrol. Karena aku mau jujur sama perasaanku sendiri" isi surat Anton.
Kinanti membalasnya.
"kalo mau curhat, katakanlah! aku siap kok mendengarkannya!"
Anton menulis lagi di secarik kertas itu.
"Aku mau jujur sama perasaan yang belakangan ini aku rasakan. Sepertinya..aku jatuh cinta sama Vita. Menurutmu bagaimana?"
"Kinanti pun membalas.
"kalo menurutku sih..kalian cocok, tapi..Vitanya kan masih di penjara?"
"iya. Apa kamu bisa membebaskan Vita dari hukumannya? aku janji Vita nggak bakalan gangguin kalian lagi!" pinta Anton.
"Em..nanti, ya saat pulang sekolah, aku coba ngomong sama Nenek. Siapa tahu Nenek bisa membantu. Aku juga bakalan ngomong ke Kinoy kalo sebaiknya Vita di bebaskan saja. Lagi pula dia kan masih seorang pelajar!" sahut Kinanti.
"Iya, terima kasih, ya. Nanti bolehkah kalian berdua Comblangin aku sama Vita?"
"iya sama-sama. Boleh juga tuh, nanti kami yang atur segalanya ya!" kata Kinanti.