The Love Story of Kinanti & Kinoy

The Love Story of Kinanti & Kinoy
episode 98. Pelukan Terakhir Kinoy untuk Kinanti sebelum Kinoy pergi ke medan



πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Malam itu adalah malam acara perpisahan di sekolah, semua murid yang lulus mengadakan acara perpisahan dengan sesama teman dan para guru.


Kinanti yang tampak murung di kamar tidak ingin sekali menghadiri acara tersebut karena begitu sakit rasanya jika menghadiri acara malam itu saat ia dan Kinoy sudah tak lagi bersama sebagai pasangan kekasih.


Nenek mengetuk pintu kamar Kinanti.


"Tok..tok..tok"


"Kinanti..!" Nenek memanggilnya


"I..iya, Nek!" sahut Kinanti.


Kinanti membuka pintu.sebelum membuka pintu ia menghapus semua airmatanya.


"Iya, Nek"


Apa kamu sakit?" tanya Nenek


"Enggak kok, Nek.Kinanti nggak sakit.Tuh..Kinanti masih sehat bugar, kan." sahut Kinanti


"tapi kenapa kamu nggak ikut menghadiri acara malam perpisahan di sekolah?" tanya Nenek


"Nggak papa kok, Nek! Kinanti..cuma males aja!"


"Benar kamu cuma malas saja? Apa kamu lagi berantem ya..sama Kinoy?" tanya Nenek dengan penasaran


"Inikan acara penting bagi kalian para murid yang baru saja lulus!" kata Nenek


" Iya, deh Kinanti akan hadir acara malam ini!"


"Ya udah! Nenek akan panggil Pak Agus untuk antar kamu, ya!" ujar Nenek sambil menepuk bahu Kinanti


Lalu Nenek pun keluar dari kamar Kinanti sambil menutup pintu kamar Kinanti. Kinanti pun bersiap untuk pergi ke acara perpisahan sekolah malam ini.


Nenek pun berjalan menghampiri Pak Agus yang berada di kamar belakang.


"Pak Agus!..Pak Agus!"


Dengan sigap Pak Agus pun segera menghampiri Nyonya Boss.Oh iya Nyonya Boss adalah panggilan mereka kepada Nenek Kinanti.


"Iya, siap Nyonya Boss!"


"Pak Agus! bisakah Antarkan Kinanti ke sekolahan untuk menghadiri perpisahan!"


"Siap ! Nyonya boss!"


"Oh..ya Pak pulangnya jangan terlalu larut malam, ya!"


"Siap, Nyonya boss!"


Lalu Nenek pun segera meninggalkan Pak Agus. Nenek pun kembali ke kamar Kinanti, namun Nenek tidak jadi mengahampiri Kinanti. Nenek pun pergi ke ruang tamu.


Kinanti pun sudah siap untuk pergi. Kinanti pun pamit kepada Nenek.


"Nek! Kinanti jalan dulu, ya!" kata Kinanti sambil mencium Neneknya.


"Iya, hati-hati di jalan!"


"Iya, Nek! Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!" sahut Nenek.


Kinanti pun berjalan keluar menuju mobil. Pak Agus pun sudah siap untuk mengantarkannyaIa pun masuk kedalam mobil.


"Ayo Pak, jalan!"


"Iya, Non!"


Tak berapa lama kemudian akhirnya pun mereka sampai di acara tersebut. Kinanti turun dari mobil dan berjalan ke dalam menghampiri semua teman-temannya.


Baru saja memasuki gerbang sekolah, tiba-tiba Anton memanggil.


"Kinanti...Kinanti..!"


"Eh, Anton! Ada apa?" tanya Kinanti.


Anton berlari menghampirinya. Anton dengan nafas yang ngos-ngosan ia menghampiri Kinanti. Kinanti kembali bertanya padanya.


"Anton! ada apa, sih?"


Anton pun mengatur nafasnya dan berkata dengan pelan-pelan.


"Itu..itu..!"


"Itu..apa?" tanya Anton


"Itu..Kinoy!" kata Anton sambil mengatur nafasnya.


"Iya, kenapa Kinoy?" tanya Kinanti dengan penasaran.


"Kinoy..sudah berada di bandara! katanya malam ini dia akan terbang menuju Medan untuk menemui Om dan tantenya di sana!" kata Anton.


"Apa? yang benar kamu?" tanya Kinanti lagi untuk memastikan berita itu.


"Iya, bener kok! tadi aku tidak sengaja mendengar Ibu kepala sekolah berbicara di telpon dengan seseorang!"


"I..iya!"


Lalu Kinanti masuk kembali kedalam mobil. Pak Agus tampak kebingungan dengan Kinanti. Sesekali Pak Agus mencoba bertanya pada Kinanti.


"Non..kok nggak jadi ke dalam?"


"Pak! nanti saja masuk ke acara itu, lebih baik bapak Antarkan saja saya ke bandara."


"Ngapain ke bandara, Non?"


"Udah, Pak! cepetan!" pinta Kinanti.


Kinanti pun mengambil ponselnya dan membuka galeri foto-foto mereka berdua penuh dengan kenangan manis.


🌺🌺🌺🌺


Sesampainya di depan bandara, Kinanti pun keluar dari mobil sambil berlari. Ia berlari mencari Kinoy. Saat itu Kinoy sedang menunggu di lobby. Kinoy berharap Kinanti datang untuk mengantarkannya pergi.


Sesekali Kinoy melihat ke arah jam tangannya. Kinanti pun berlari kesana-kemari mencari Kinoy. Sesekali Kinanti memanggil Nama Kinoy.


"Kinoy..Kinoy..!" teriak Kinanti.


walaupun Kinanti berteriak memanggil nama Kinoy, Namun Kinoy tak kunjung menghampirinya. Saat itu bagian informasi berkata.


"Pemberitahuan kepada seluruh penumpang pesawat tujuan Medan di persilahkan memasuki ruang keberangkatan!"


Mendengar informasi itu Kinoy langsung berjalan. Saat tas kopernya di periksa oleh petugas saat itu juga Sura teriakan Kinanti terdengar.


"Kinoy.."


Kinoy yang mendengar pun berbalik arah,ia berjalan menuju sumber suara itu. Tiba-tiba Kinanti kelihat Kinoy sedang berdiri jauh di depannya. Kinanti pun segera berlari menghampiri Kinoy.


"Kinoy..!" teriak Kinanti sambil meneteskan airmata.


Kinanti pun berlari dan mendekap serta memeluk Kinoy. Ia menangis dalam pelukan Kinoy. Ia sangat sedih saat Kinoy akan meninggalkannya.


"Kamu benar-benar akan pergi jauh..?" tanya Kinanti.


"Iya, aku akan pergi ke Medan untuk kuliah di sana. Setelah selesai kuliah aku akan kembali kebsini dan kembali bersamamu lagi," ucap Kinoy sambil membelai rambut Kinanti.


"Tapi..apakah Kita bisa LDR-an gitu?" tanya Kinanti mulai membujuk Kinoy.


"LDR-an? kurasa itu lebih menyakitkan dari pada Kita putus!" sahut Kinoy.


"Tapi..kita nggak bakalan bisa bertemu seperti biasanya lagi!" kata Kinanti.


Lalu Kinoy memegang muka Kinanti dan berkata.


"Hei..kita terpisah cuma sementara nanti..aku janji jika kuliahku sudah selesai aku akan kembali lagi ke sini bersamamu!"


"Benarkah itu?" tanya Kinanti.


"Iya, aku janji!" sahut Kinoy.


Waktu keberangkatan Kinoy pun semakin dekat. Bagian informasi sekali lagi memberikan informasi kalau pesawat tujuan Medan sebentar lagi akan pergi.


Lalu Kinoy pamit pergi kepada Kinanti.


"Kinanti..aku pamit pergi ya..aku harap kamu bisa melepas aku pergi dengan sedikit tersenyum!" kata Kinoy.


Kinoy pun berbalik arah dan melajutkan lagi jalannya. Saat dua langkah pertama Kinoy meninggalkan Kinanti. Kinanti pun berlari dan memeluk Kinoy dari belakang.


"Kinoy..!"


Langkah kaki Kinoy pun terhenti. Kinanti berlari menghampiri Kinoy dan memeluknya.


"Aku ingin mengatakan bahwa..aku sangat mencintaimu..ku tak sanggup kehilanganmu," kata Kinanti dengan meneteskan airmata.


Kinoy pun berkata.


"Aku juga sangat mencintaimu..aku juga tak sanggup kalo kehilanganmu, jika kita berjodoh suatu saat kita akan bertemu kembali, namun sekarang Aku harus pergi!" sahut Kinoy juga sambil meneteskan airmata.


Lalu Kinoy pun melanjutkan langkah kakinya menuju ke dalam. Kinanti pun melambaikan tangan sambil tersenyum walau airmata menetes membasahi pipi.


"Dahh...selamat jalan, semoga selamat sampai tujuan!" ucap Kinanti.


Kinoy yang berjalan memasuki ruangan itu pun juga membalas lambaian tangan Kinanti. Tak berapa lama kemudian Kinoy pun masuk ke dalam pesawat. Kinanti hanya terdiam terpaku menyaksikan Kinoy pergi.


Terdengar suara pesawat yang hendak segera berangkat.ia pun berkat.


"Hanya waktu yang mampu mengerti betapa beratnya perpisahan ini. Semoga kisah cinta ini menjadi penghujung kisah cintaku di suatu hari nanti" ucap Kinanti dalam hati sambil menangis.


Kini Kinoy pun sudah pergi. Ia segera kembali menghampiri Pak Agus di parkiran. Ia berjalan menuju mobil. Saat ia memasuki mobil Pak Agus supirnya pun bertanya.


"Kenapa Non Kinan menangis?"


"Nggak papa kok, Pak! Pak kita pulang aja ya..!" sajut Kinanti.


Sesampainya di rumah Kinanti langsung masuk ke dalam kamar dan mengunci kamarnya.


ia mengingat Pelukan terakhir dari Kinoy. Ia berpikir.


"mungkin hari ini atau esok tak kan ada lagi senyum indah di wajahku, karena hal yang selalu membuatku tersenyum adalah ketika kau masih di sini bersamaku, namun Kini senyum itu telah pergi bersamamu."