
🥀🥀🥀🥀
Mendengar pertanyaan dari Kinanti, Pak Bambang dan istrinya pun menghampiri Kinanti dan memegang tangan Kinanti sambil berkata.
"Maafkan kami..maafkan kami.sungguh kami minta maaf, kami menyesal sekali.."
Kinanti pun berkata.
"Om..Tante..! Kinanti sudah memaafkan kalian.." sahut Kinanti.
Nenek pun menghampiri Kinanti dan menegurnya.
"Kinanti! kamu nih apa-apaan sih! mereka itu udah jahat sama Kita!" ucap Nenek.
"Udahlah, Nek! buat apa Kita emosi, kan semuanya juga sudah berlalu!" balas Kinanti.
"Tuh kan! kalian dengar sendiri kan! bahwa Kinanti keponakan yang kalian jahati selama ini di memaafkan kalian tanpa menaruh dendam sedikit pun! " tegur Nenek memarahi Pak Bambang dan istrinya.
Lalu Pak Bambang pun bertekuk lutut di hadapan Nenek dan berkata.
"Apa ibu tidak bisa memaafkan kami? apa yang harus kami lakukan supaya ibu bisa memaafkan kami?" tanya Pak Bambang pada Nenek.
Kemudian nenek pun duduk dan menangis. Di sela tangisnya itu, Nenek berkata kepada Pak Bambang.
"Baiklah! jika kamu mau Ibu memaafkan kalian. Bisakah kalian mempertanggung jawabkan semua perbuatan kalian di hadapan Polisi? dan jangan lupa balikin semua aset kekayaan dari abangmu Ali karena bagaimana pun Kinanti adalah anak nya yang berhak atas semua aset kekayaan dari Alm Ayahnya"
Mendengar permintaan Nenek, Pak Bambang dan istri pun terdiam sejenak. Lalu Istrinya berkata.
"Mas..walau bagaimana pun kita harus mempertanggung jawabkan semua perbuatan kita! aku nggak mau kita selalu di kejar perasaan bersalah," bisik istrinya.
Pak Bambang pun terdiam. Ia benar-benar merasa kalut saat itu. Ada perasaan egois yang terlintas di pikirannya, namun perkataan dari istrinya itu ada benarnya juga. Jika memghindar dari tanggung jawab, maka mereka akan selalu di hantui rasa bersalah terus menerus. Pak Bambang pun berkata pada Nenek.
"Baiklah, Bu! kami akan mempertanggung jawabkan perbuatan kami. dan kami akan menyerahkan semua aset kekayaan milik Alm Bang Ali!"
Lalu Pak Bambang menelpon anak buahnya untuk mengambil surat-surat penting yang ada di laci meja kerja di dalam rumah. Surat-surat penting itu ada pada tas plastik berwarna kuning.
"Halo..tolong ambilkan tas plastik berwarna kuning di dalam laci meja kerja saya,di dalam rumah! dan antarkan ke tempat saya di depan rumah sakit!" perintah Pak Bambang kepada anak buahnya.
"Baiklah, boss!"
Tak lama kemudian datanglah anak buahnya, mengantarkan sebuah berkas di dalam tak plastik berwarna kuning. Anak buahnya menghubunginya.
"kring..kring..kring"
"Halo, boss! boss dimana? saya sudah membawakan apa yang boss suruh!"
"Iya! tunggu saya di depan rumah sakit. Nanti saya akan menyusul ke sana!"
"Baiklah, boss!"
Lalu Pak Bambang pamit keluar untuk memgambil sesuatu.
"Bu, Bolehkah saya ijin keluar untuk mengambil sesuatu?" kata Pak Bambang.
"Ya sudah pergi sana!" sahit Nenek.
Lalu Pak Bambang keluar untuk menemui anak buahnya. Pak Bambang berjalan dengan begitu cepat. Sesampainya di depan rumah sakit.
"Boss!" sapa anak buahnya melambaikan tangan.
Pak Bambang pun menghampiri anak buahnya.
anak buahnya menyerahkan tas berisi semua berkas penting itu.
"Ini, Boss berkasnya!"
"Iya, terima kasih ya!"
Kemudian Pak Bambang pun masuk ke dalam rumah sakit itu lagi dan menemui Ibunya.
"Bu! ini semua berkas-berkas mengenai aset kekayaan milik Bang Ali,saya kembalikan. Tapi nama nya masih asli milik Bang Ali!" ujar Pak Bambang.
Mendengar hal itu, Kinanti terkejut.
Setelah menyelesaikan pemakaman Semua orang telah pergi meninggalkan Kinoy dan Ibunya. Kinoy terduduk sambil memegang nisan Ayahnya dan berkata.
Papah..tak pernah terpikirkan olehku, bahwa pengorbananmu sangat besar. Seharusnya aku yang terkubur di sini..bukannya Ppah,!" kata Kinoy sambil menangis.
Lalu Ibunya duduk disamping Kinoy sambil menegang pundak Kinoy.
"Sudahlah, Nak! kamu nggak boleh berkata begitu. Walau bagaimana pun kerasnya Papah, namun Papah selalu memenuhi tugasnya untuk selalu melindungi istri dan anaknya dari bahaya yang mengancam.sudah ya, Nak! Kita ikhlaskan kepergian Papah!" bujuk Ibunya.
Lalu Kinoy pun mengatakan sesuatu kepada nisan ayahnya.
"Papah..terima kasih untuk semua kasih sayang yang Papah berikan untuk Kinoy! Kinoy akan mewujudkan keinginan Papah untuk meneruskan bisnis Papah. Maafin Kinoy, Pah! mungkin selama ini Kinoy masih belum bisa menjadi anak yang bisa di banggakan oleh Papah! Kinoy juga janji agar jagain Mamah dan bakalan jadi anak yang baik buat Mamah" kata Kinoy.
Anak buah Ayahnya pun berkata.
"Tuan Muda, Kinoy! ayo kita pulang. Nyonya Boss! ayo kita pulang!"
"Iya, Pak!" sahut Ibu.
"Mas Herlambang..kami pulang dulu, ya" ucap Ibu sambil menangis.
"Ayo, Pak!" sahut Ibu.
Kinoy dan Ibunya pun segera pulang meninggalkan makam itu. Sementara itu Setelah selesai menyerahkan semua aset kekayaan milik Alm Pak Ali ayahnya Kinanti, lalu Pak Bambang dan istrinya pun segera mendatangi kantor polisi, untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatannya.
Namun Karena Kinanti adalah anak yang berhati baik, maka ia memaafkan semua kejahatan Pak Bambang. Ia juga menyuruh, Pak Bambang untuk mengurus perusahaan milik ayahnya sementara ia masih sekolah. Ia juga mempersilahkan Pak Bambang untuk tinggal di Paviliun.
"Om, aku udah maafin Om, kok. Jadi Om nggak perlu menyerahkan diri ke polisi, karena aku masih memerlukan Om untuk mengurus perusahaan sementara aku masih sekolah. Nggak mungkin kan, Nenek yang ngurus perusahaan? Oh, ya Om! Om bisa kok tinggal di Paviliun dekat rumah!" usul Kinanti.
"Aduhh, Kinanti terima kasih atas kebaikan kamu, tapi Om dan Tante nggak pantes untuk itu karena Kami pernah jahat sama kamu!" kata Pak Bambang merasa bersalah.
"Udah lah, Om..udah terima saja, Lagi pula, kan kita keluarga.."
"Baiklah! Jika itu mau kamu! Om mau, Kok!" kata Pak Bambang.
"Terima kasih, Kinanti..terima kasih!" ucap istri Pak Bambang.
Lalu Pak Bambang pun membawa Nenek untuk segera bersiap menempati rumah mewah milik Kinanti.
"Bu, ayo kita beres-beres untuk pindah rumah! "
"Tapi..Kinanti..gimana?" tanya Nenek.
"Udah, nggak perlu khawatir..bentar lagi Kinoy juga ke sini untuk temenin Kinanti, Nek!" sahut Kinanti.
"Baiklah! tapi jaga dirimu baik-baik, ya!" balas Nenek sambil mencium kening Kinanti.
Mereka pun segera pergi. Tak lama kemudian Kinoy pun datang tanpa memberitahu lebih dulu.
"Hai..sayang! gimana kabarmu?" kata Kinoy.
"Aku, alhamdulillah baik. Kamu gimna?" tanya Kinanti.
"Kabarku.." kata Kinoy sambil menangis.
"Kok kamu sedih? ada apa?" tanya Kinanti.
"Papahku..Papahku meninggal dunia!" sahut Kinoy.
"Astaga! maaf, ya aku nggak tahu. Aku turut berduka cita ya!"
Kinoy pun segera memeluk Kinanti yang sedang duduk di atas kasur rumah sakit. Kinoy menangis dalam pelukan Kinanti. Kinanti pun mencoba menghibur Kinoy yang sedang sedih.
"Sayang..udah, jangan nagis lagi..karena pangeran hati aku jelek kalau terus bersedih..sebagai gantinya aku mau nemenin kamu untuk malam ini!" kata Kinanti sambil memegang wajah Kinoy yang begitu tampan.
"Apa aku boleh minta sesuatu?" tanya Kinoy.
"Minta apa, ya?" tanya Kinanti.
"Aku mau minta pelukanmu karena aku masih kangen sama, pacar aku ini!" jelas Kinoy sambil mencubit pipi Kinanti.
Lalu tanpa menjawab Kinanti pun segera berdiri dan Kinoy pun memeluk Kinanti dengan penuh cinta.