
🥀🥀🥀🥀
"Kami mencoba meminta sempel darah milik pasien yang bernama Kinanti Larasati untuk di cocokan dengan bercak darah yang kamu temui. Dan akhirnya ada kecocokan diantara 2 sempel itu" ujar Pak Dokter.
"Benar, Dok?" tanya Kinoy sekali lagi untuk meyakinkan.
"Iya, memang betul ada kecocokan antara dua sempel darah itu. Bisa di katakan sempel bercak darah itu adalah milik Kinanti Larasati" lanjut Pak Dokter.
"Kalau begitu, saya pulang dulu, ya Dok. Terima kasih ya atas informasinya" ucap Kinoy.
"Iya sama-sama," sahut Dokter.
Lalu Kinoy pun keluar dari ruangan itu dan menyembunyikan surat itu dari balik belakang bajunya. Kinoy segera menuju rumahnya untuk megambil semua barang bukti itu yang berada di handphone miliknya dan menyerahkannya pada polisi.
Tak berapa lama kemudian, Kinoy pun akhirnya sampai di depan rumahnya. Ia pun langsung berjalan menuju ke pintu depan. Ia mencoba membuka pintu. Ia bergegas masuk ke dalam.
"Aku..pulang..!" ucap Kinoy.
Lalu Ayahnya yang duduk di sofa ruang tamu. Ayahnya pun menegurnya.
"kinoy..kemana saja kamu, kok jam segini baru pulang?"
"Maaf, Pah Kinoy ada sedikit urusan" sahut Kinoy.
Lalu Kinoy berlari menuju kamarnya. Kinoy mengambil handphone miliknya dan mencoba memprint gambar bercak darah yang ada di mobil Vita serta gambar plat Mobil Vita.
Ia mengambil surat hasil cek sempel darah itu dan menaruhnya pada tas. Kinoy menutup pintu kamarnya. Sebelum pergi menemui polisi, terlebih dahulu ia mandi dan mengganti pakaiannya.
Setelah selesai mandi, ia mengambil tas dan kunci motornya dan segera pergi. Ia menutup pintu kamarnya. Ia berjalan ke arah pintu depan.
Ayah memanggilnya dan bertanya, "Kinoy..kamu mau kemana?"
"Kinoy mau menemui Vita, Pah!" sahut Kinoy berbohong pada Ayahnya.
"Bagus..bagus, tumben kamu mau pergi menemui Vita di rumahnya" gerutu Ayahnya.
"I..itu Yah, Kinoy mau mengatakan bahwa Kinoy akan bertunangan dengan Vita secepatnya!,"
"Benarkah, itu?"
"Sudahlah,Yah..Kinoy kan udah besar. Kita tak perlu ikut campur urusan dia" Ibunya.
Lalu Kinoy berpamitan kepada orang tuanya.
"Yah, Bu Kinoy berangkat dulu ya?"
"Iya, hati-hati ya, Nak!" kata kedua orang tuanya.
Lalu Kinoy pun keluar. Saat mengendarai motornya ia pun berkata dalam hati,"Sebentar lagi kejahatan lu, Vita bakalan terbongkar"
Kinoy pun segera pergi ke kantor polisi untuk melaporkan kejadian itu. Sebelum ia pergi ke kantor polisi terlebih dahulu ia memutar arah, agar kelihatan anak buah Ayahnya bahwa ia benar-benar ke rumah Vita.
"Kaya nya tuh anak buah Ayah sudah nggak ngeliat lagi. Lebih baik aku segera pergi ke kantor polisi. Tapi aku ngambil jalan pintas saja," gerutu Kinoy.
Setelah beberapa saat Kinoy pun sampai di depan kantor polisi. Ia segera turun dari motornya. Ia mencoba melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kantor polisi itu.
Saat di depan pintu kantor polisi.
"Permisi, Pak..bolehkah saya masuk?"
"Boleh! Ada apa ya, Nak?"
"Ini, Pak saya mau melaporkan sesuatu tindak kejahatan!" ujar Kinoy.
"Oh..mari duduk di sini! coba ceritakan, Apa yang ingin kamu laporkan kepada Kami, " sahut Pak polisi.
"Sebenarnya saya ingin melaporkan seorang teman perempuan saya karena dia telah menabrak teman baik saya hingga terluka cukup parah. Dia berusaha menyembunyikan kejahatan nya itu, Pak. " kata Kinoy.
"Apa,kamu punya bukti-bukti untuk memberatkan dia?"
"Oh, tentu Pak, saya mempunyai buktinya. Sebentar Pak, saya ambilkan dulu" ujar Kinoy.
Kinoy lalu mengambil beberapa lembar foto bukti bercak darah yang masih menempel di mobil Vita dan di dekat nomor plat mobil Vita, serta bukti surat hasil cek bercak darah itu. Kinoy juga membuka bukti yang bisa memberatkan Vita, berupa video kesaksian Vita.
🌺 BERSAMBUNG🌺
"