
Sesampainya di depan rumah, ia langsung berlari sambil memanggil Neneknya.
"Nenek.. Nenek..Kinanti pulang Nek!"
Nenek pun juga berlari menghampiri Kinanti. Nenek pun bertanya,"Kinanti..kemana aja sih, kamu? Nenek khawatir sama kamu!"
Nenek pun menangis dan memeluk kinanti. Kinanti pun juga menangis dalam pelukan neneknya. Ia mengingat perkataan Ayahnya Kinoy tadi. Airmata pun mengalir dari matanya.
Nenek bertanya kenapa ia menangis.
"Cu..kamu kenapa? sepertinya ada yang ingin kamu katakan, katakanlah"
"Aku, ingin sekali mengatakannya, namun aku juga tidak ingin Nenek ikut dalam permasalahan ini. Aku takut Nenek sampai kenapa-kenapa!" gumam Kinanti dalam hati.
"Oh, enggak papa Nek?" dalih Kinanti berbohong kepada Nenek.
"Katakan! kemana kamu, kok sejak kemarin menghilang dengan tiba-tiba?" tanya Nenek sambil memarahinya.
"A..e...," sahut Kinanti berbicara seperti orang gagu saja.
"Katakanlah! jangan membuat Nenek khawatir?"
"Sebenarnya, kemarin..!" lanjut Kinanti ingin mengatakan sejujurnya tentang kejadian yang ia alami, namun ia tak sanggup untuk mengatakannya.
"Oh, iya Nek! Kemarin Kinanti saat hendak berangkat sekolah, tiba-tiba Kinanti melihat Ibu-Ibu yang berjalan dengan memegang perutnya sambil merintih kesakitan dan..ternyata Ibu itu hendak melahirkan, Nek!" dalih Kinanti berbohong kepada Nenek menutupi kejadian yang ia alami kemarin.
"Terus,bagaimana sampai kamu, nggak pulang-pulang ke rumah?" tanya Nenek kembali bertanya.
"Terus, Kinanti menghampiri Ibu itu, dan segera membawa Ibu itu ke puskesmas terdekat. Lalu saat Kinanti hendak pulang ke rumah untuk menemui Nenek, Ibu itu melarang Kinanti pulang, Nek. Kinanti di suruh menemaninya sampai keluarganya datang" dalih Kinanti mengarang semua cerita itu.
"Kinanti, menemaninya sampai keluarganya datang. Kinanti juga membantu mengantarkannya hingga pulang ke rumah, Nek. Tapi itu suatu perbuatan yang mulia kan, Nek?" ujar Kinanti mencoba menghangatkan suasana.
"Iya, betul sekali. Menolong orang itu adalah suatu perbuatan yang mulia, apalagi jika di lakukan tanpa mengharapkan suatu imbalan" jelas Nenek.
"Ya, sudah mandi sana! Jangan lupa makan ya" perintah Nenek.
"Iya, Nenekku sayang.." goda Kinanti sambil memeluk Neneknya.
"Halo, Kinoy?"
"Iya, ada apa, Nek?"
"Nenek, mau mengatakan bahwa Kinanti sudah pulang ke rumah" ucap Nenek sambil merasa senang dengan kepulangan Kinanti.
"Iya, benarkah itu Nek? syukur deh kalo gitu !"
"Bagaimana ceritanya Kinanti bisa pulang, bukankah dia itu menghilang secara tiba-tiba?" tanya Kinoy dengan merasa kebingungan.
"Entar.. Nenek ceritakan pokoknya, ceritanya panjang sekali..!"
"Iya, Nek"
"Udah dulu, ya cu" kata Nenek.
"Iya Nek. Kalo ada apa-apa, jangan sungkan untuk memberitahu Kinoy, ya Nek!" sahut Kinoy.
Lalu saat Kinanti selesai mandi, ia melihat Nenek di depan telpon rumah. Kinanti pun menyapa Nenek.
"Nek.. Nenek ngapain berdiri di depan telpon? Nenek mau nelpon seseorang, ya?"
"Enggak, Nenek cuma mau membersihkan debu di dekat telpon ini saja kok!"
"Uh.. Nenek bohong! pasti Nenek mau nelpon seseorang, kan?" ucap Knanti sambil menggoda Neneknya.
"Ya, sudah makan sana!" sahut Nenek.
"Enggak mau! Kinanti maunya makan bareng sama Nenek!" ujar Kinanti sambil bermanja kepada Nenek.
"Ya, sudah ayo!" ujar Nenek.
Lalu Kinanti dan Nenek pergi makan di dapur, saat itu Nenek juga tidak lupa untuk menutup pintu setiap mereka pergi makan di dapur.