The Love Story of Kinanti & Kinoy

The Love Story of Kinanti & Kinoy
episode 72



"Nek, Kinoy pamit pulang dulu, ya?" ucap Kinoy.


"Iya, terima kasih ya karena kamu udah nolongin Kinanti!" sahut Nenek.


Kinoy pun menarik tangan Nenek dan bersalaman sebelum pulang Ia pun berjalan menuju pintu keluar. Ia menelpon anak buah ayahnya.


"Halo, jemput saya di rumah sakit. Saya tunggu di parkiran mobil. Sekarang !"


"Siap, tuan muda"


Kinoy berjalan menuju tempat parkir mobil. Ia berjalan sambil memikirkan kejadian yang menimpa Kinanti. Seingatnya mobil mewah berwarna hitam, itu seperti mobil Pak Bambang, Ayah dari Vita. Namun siapa yang memakai mobil Pak Bambang dan mencelakakan Kinanti?


"Mobil mewah berwarna hitam itu adalah mobil yang menabrak Kinanti, tapi siapa yang mengendarai mobil itu? " pikir Kinoy.


"Apa jangan-jangan Vita, yang mencelakakan Kinanti? Ah..nggak mungkin. Mana mungkin Vita yang melakukan itu, dia kan masih berada di dalam caffe itu?" gumam Kinoy dalam hati.


"Tapi..siapa orang yang telah melakukan hal itu?" pikir Kinoy kembali.


Tak berapa lama ia berdiri di parkiran mobil. Tiba-tiba klakson mobil pun berbunyi.


"Tiin..tiin!"


"Tuan muda Kinoy!" sapa supir mobil itu.


Kinoy pun terkejut.


"Eh, iya!" sahut Kinoy sambil menghampiri mobil itu.


"Pak, apa Papah sama Mamah sudah pulang?" tanya Kinoy sebelum masuk ke dalam mobil.


"Oh,Tuan dan Nyonya sudah pulang, Den!"


"Oh, begitu ya? ya udah kita langsung pulang ke rumah aja, lagipula kan Papah sama Mamah juga sudah pulang!" sahut Kinoy berbicara pada supir nya.


"Siap, Den!" jawab supir itu.


Kinoy pun masuk ke dalam mobil.mereka pun segera pulang. Saat di perjalanan, ia berpikir lagi.


"Kalo memang mobil mewah berwarna hitam itu milik Om Bambang, seharusnya ada bekas darah yang menempel di bagian depan mobil, itu kan?"


Mobil pun berhenti sejenak, tiba-tiba handphone milik Pak supir pun berdering. Secepatnya ia mengangkat telpon itu.


"Halo, Pak Boss!"


"Halo..apa kamu bersama Tuan muda Kinoy?" tanya Pak Herlambang.


"Iya, benar Pak Boss. Saya bersama Tuan muda Kinoy"


"Cepat, suruh dia pulang. Karena ada yang ingin saya bicarakan padanya!" perintah Pak Herlambang pada supirnya.


"Baiklah, Pak Boss!"


Kemudian Pak supir pun menyalakan mobil hingga mobil itu kembali berjalan. Pak supir itu berkata.


"Den..Aden di suruh Pak Boss, cepat pulang karena ada yang ingin di bicarakan katanya!" kata Pak supir.


"Baiklah!" sahut Kinoy pada supirnya.


Tak beberapa lama kemudian, mereka pun sampai di depan rumah.


"Tiin..tiin,," suara klakson mobil.


Pak Satpam pun membukakan pintu pagar rumah. Mobil itu pun masuk. Mobil itu berhenti tepat di depan rumah. Kinoy pun keluar dari mobil Dan berjalan menuju pintu rumah. Dan mobil itu pun masuk di dalam garasi.


"Aku, pulang!"


"Nah..ini dia anak yang di tunggu-tunggu, akhirnya dia pulang juga!" ucap Ayahnya.


Kinoy pun langsung masuk dan berjalan ke arah kamarnya melewati Ayahnya yang berdiri di ruang tamu.


"Kinoy..Kinoy berhenti dulu! Papah mau ngomong sama kamu!"


"Apa lagi sih, Pah! aku tuh cape, Pah pengen tidur!" jawab Kinoy.


Ayah nya menarik tangan Kinoy sambil berkata.


"Tunggu dulu, Papah mau bicara!"


"Aduuhh..Apa lagi sih, ah?" tanya Kinoy.


"Kamu nih, apa-apaan sih? ngapain kamu batalin pertunangan itu? kamu mau bikin bisnis Papah hancur, ya. Iya?" tanya Pak Herlambang kepada Kinoy anaknya.


"Pah, aku tuh nggak pernah cinta sama Vita. Aku cinta nya sama Kinanti, bukan sama Vita!" jelas Kinoy.


"Cinta..cinta! tahu apa sih kamu sama cinta!. Cinta itu nggak bisa kasih kamu harta!" sahut Ayahnya.


"Papah itu egois banget, ya! cuma mikirin bisnisnya. Nggak pernah mikirin perasaan anaknya!" keluh Kinoy.


Kinoy pun pergi ke kamar meninggalkan Ayahnya yang berdiri sendiri di ruang tamu. Saat melangkahkan kaki ke anak tangga, Ayahnya pun berkata hingga membuatnya marah sekali.


"Kamu itu di tipu sama Kinanti anak kampung itu! dia itu cuma mau harta kamu aja! dia itu cuma mau sama kamu,karena kekayaan kita aja. Dasar gadis kampung matre!" ucap Ayahnya yang menghina Kinanti.


Mendengar perkataan ayahnya yang kasar itu, Kinoy pun menghampiri Ayahnya dan berkata.


"Iya, Kinanti memang gadis kampung yang nggak selevel dengan kita..Tapi dia baik hati, Pah. Asal Papah tahu, tadi saat di tengah jalan Kinoy hampir tertabrak mobil. Namun apa yang di lakukan Kinanti? Kinanti menyelamatkan nyawa Kinoy, Pah. Kinanti mendorong Kinoy ke tepi jalan, Kinanti menggantikan posisi Kinoy yang hampir tertabrak. Dia tertabrak mobil karena menyelamatkan nyawa Kinoy, Pah. Kinoy merasa berhutang budi dengannya!"


Sesaat Kinoy berkata jujur, Ayahnya hanya terdiam terpaku mendengar kesaksian Kinoy mengenai Kinanti. Kinoy pun kembali bertanya kepada Ayahnya.


"Kenapa, Papah diam?"


"Ya, sudahlah..!" ucap Kinoy.


Kinoy pun kembali menaiki anak tangga menuju kamar tidurnya. Setelah sampai di depan pintu kamar. Ia membuka pintu kamar dan menghempaskan dirinya di atas kasur. Ia pun menghela nafas.


Kinoy masih memikirkan siapa pelaku di balik kecelakaan Kinanti. Ia bingung mengapa orang itu mengincar nyawanya. Ia merasakan bingung sekali. Sesekali ia melihat gambar Kinanti di layar handphone miliknya sambil berkata.


"Kamu itu cantik..tapi kamu terlalu baik. Kamu itu seperti malaikat pelindung untukku.


"You are like a guardian angel to me!"


"Demi kamu, aku akan menyelidiki siapa dalang di balik kecelakaan itu. Iya, aku janji Kinanti. Aku janji" kata Kinoy sambil memandangi gambar Kinanti di layar handphone miliknya.


Kinoy pun mencium gambar Kinanti dan memeluknya.


"Aku berterima kasih padamu,karena kamu menyelamatkan nyawaku.namun aku merasa sakit jika kamu sakit.aku akan selalu bersamamu!" kata Kinoy.


Kinoy pun akhirnya tertidur.Sementara itu saat Kinanti di rumah sakit,nenek menangis."Sebenarnya, apa yang terjadi, kenapa kecelakaan itu menimpamu?"


Nenek menangis sambil mengelus muka cucunya,Kinanti.nenek tidak sanggup melihat Kinanti terbaring lemah tak sadarkan diri di dalam rumah sakit.nenek tak punya daya aoa pun,nenek hanya bisa menangis di samping kinanti yang madih tak sadarkan diri.


Hati nenek hancur, remuk redam saat menyaksikan cucunya yang begitu ceria, kini terbaring lemah tak sadarkan diri. Nenek hanya bisa menangis sambil memandangi Kinanti.Kinanti sudah tak punya orangtua dan kini ia mengalami kecelakaan.


"Malangnya nasibmu, cu! kamu sudah yatim-piatu, kini kamu harus mengalami musibah sebesar ini.nenek hanya bisa berdoa, agar kmau cepat sadar dan sembuh!" kata Nenek sambil menangisi keadaan Kinanti.