
*****
Setelah makan siang bersama, kini mereka masing-masing pulang. Orang tua Kinoy kembali berkata agar perjodohan ini tetap berjalan. Karena ia takut Pak Bambang tidak lagi menjual berlian itu pada dirinya. Dan secara otomatis itu membuat Kinoy menjadi marah. Kinoy tidak suka adanya perjodohan di antara ia dan Vita. Karena ia tidak menyukai Vita.
"Saya yakin kan, agar perjodohan ini tetap berjalan demi bisnis kita!" kata Pak Herlambang.
"Iya, Pak!"
"Terima kasih, Pak Bambang, atas undangan makan siangnya," ucap Pak Herlambang.
"Iya, sama-sama Pak" sahut Pak Bambang, sambil berjabat tangan dengan Pak Herlambang.
Kemudian, Kinoy beserta orang tuanya pun kembali pulang ke rumah. Sesaat pulang ke rumah, Pak Herlambang menghempaskan diri duduk di kursi tamu, sembari melepaskan dasinya. Ia berkata kepada Kinoy agar bisa menjalin hubungan dengan Vita.
"Kinoy, kamu harus mau menjalin hubungan baik dengan Vita! dengerin Papah! perjodohan ini harus tetap berjalan!" tegas Ayahnya sambil menunjuk ke arah Kinoy.
"Papah, nggak boleh gitu dong? aku kan punya pilihan sendiri! Papah itu nggak berhak mengatur semua urusan hidup aku! karena Papah itu egois, hanya mementingkan bisnisnya saja! tanpa memikirkan perasaan istri dan anaknya! lagipula Papah nggak pernah betah di rumah! selalu saja sibuk dan pergi!" berontak Kinoy dengan sangat marah.
Lalu Ayahnya berdiri dan menampar muka Kinoy. Kinoy pun terkejut. Kinoy terus memberontak kepada Ayahnya. Ia mengatakan.
"Plaaakk!"
"Papah itu egois! Papah cuma memikirkan nasib perusahaan saja. Tak pernah memikirkan perasaan Anaknya!" keluh Kinoy.
Lalu Kinoy pun mengambil kunci motornya, yang berada di kamar tidurnya dan lalu pergi meninggalkan Ayahnya yang sedang berdiri di dekat kursi tamu. Saat Kinoy pergi ayahnya pun berteriak memangil-manggil Kinoy. Namun Kinoy tak menghiraukannya.
"Kinoy...Kinoy! jangan pergi, dengerin Papah dulu!" ucap Ayahnya.
Sementara itu di tempat berbeda. Kinanti yang saat ini sedang membantu Neneknya di toko pun merasakan bahagia. Karena ia dan Kinoy tidak jadi putus. DI saat rasa bahagia itu, tiba-tiba Kinoy pun datang. Kinoy bertemu Kinanti di toko oleh-oleh milik Neneknya Kinanti.
"Kinoy..kamu ngapain ke sini? bukankah kamu lagi ada acara ya sama teman Ayahmu?" tanya Kinanti.
"Boleh kan..aku bantuin kamu di sini?"
"Ya, bolehlah! siapa juga yang mau ngelarang kamu!" ketus Kinanti.
Lalu, Kinoy pun membantu Kinanti di toko milik neneknya Kinanti. Di saat mereka saling bercanda di dalam toko itu. Tiba-tiba Ayahnya menelpon Kinoy. Namun Kinoy tidak memperdulikannya.
Ayahnya menghubungi Kinoy. Namun selalu di matikan oleh Kinoy. Kinoy tak mau mengangkat telpon dari Ayahnya. Hal itu membuat Ayahnya menjadi marah. Ayahnya menelpon vita, karena tadi sempat bertukar nomor handphone dengan Pak Bambang dan Vita.
"Halo, Vita..ini Om, Ayahnya Kinoy"
"Iya, ada apa, Om?"
"Apa, kamu tahu dimana Kinoy berada, saat ini?"
"Oh, nggak, Om. Tapi biasanya kata teman-teman yang lain. Dia sering ke toko oleh-oleh milik Kinanti, Om"
"Kinanti? siapa itu Kinanti?"
"Itu, Om pacar baru Kinoy. Dia berani ngerebut Kinoy dari aku, Om. Padahal kan aku cinta sama dia. Tapi dia memilih cewek miskin itu sebagai pacarnya" keluh Vita berpura-pura sedih, agar Ayahnya Kinoy membenci Kinanti.
"Apa? kirim lokasi toko oleh-oleh itu!" pinta Ayahnya kinoy.
"I..iya, Om" sahut Vita berpura-pura sedih.
Lalu Vita mengirimkan lokasi toko oleh-oleh milik Kinanti.