
🥀🥀🥀🥀
Sebelum kejadian penembakan itu, Kinanti yang berada di rumah sakit pun bermimpi di dalam tidurnya. Ia bermimpi bahwa seorang gadis sedang menembak Kinoy hingga meninggal. Di dalam mimpinya itu, ia tidak bisa menolong Kinoy karena kakinya sulit untuk bergerak seperti ada yang memegang kakinya dengan kuat sehingga ia tidak dapat menolong Kinoy.
Kinanti pun berteriak memanggil nama Kinoy.
"Kinoy awas! Ki..noy!" kata Kinanti berteriak.
Nenek yang tertidur akhirnya terbangun.Nenek menghampiri Kinanti dan bertanya.
"Kinanti..ada apa, Cu?"
"Nenek..nggak papa kok, Nek!" sahut Kinanti.
"Kenapa? ayolah ceritakan pada nenek,"
"Em..Kinanti mimpi buruk, Nek!"
"Mimpi buruk? mimpi apa,coba ceritakan pada Nenek,"
Kinanti pun bercerita pada nenek tentang mimpi buruk yang di alaminya.
"Oh..itu biasanya kalau seseorang memimpikan seseorang yang meninggal, biasanya kata orang jaman dulu, orang itu panjang umurnya" jawab Nenek.
"Sudah ah..tidur lagi ini masih malam lo," perintah Nenek.
"Iya, baik Nek!" sahut Kinanti.
Kinanti pun mulai memejamkan matanya walau pun secara terpaksa. Sementara itu Kinoy membawa ibunya pulang kerumahnya untuk melakukan acara pemakaman ayahnya.
Orang tua Vita pun tidak menyangka bahwa anaknya begitu gelap mata hingga ingin membunuh orang.
"Yah, bagaimana kalau besok pagi kita menjenguk Kinanti orang yamg telah di tabrak Vita!" usul Ibunya Vita.
"Ide yang bagus, Bu! besok pagi kita jenguk Kinanti dan Kita mencoba meminta maaf kepadanya tentang kejahatan Vita padanya" ucap Ayahnya Vita.
Keesokan harinya saat pagi hari Kinoy sudah sibuk bersama ibunya mempersiapkan pemakaman ayahnya. Sedangkan orang tua Vita sedang sibuk mencari Kinanti larasati di sejumlah rumah sakit di seluruh kota.
Namun mereka tak kunjung menemukan Kinanti. Karena sudah capek dan Lelah, maka mereka beristirahat di warteg dekat rumah sakit terakhir yang belum mereka datangi.
Saat ingin memesan makanan ibu Vita pun menyuruh suaminya agar masuk ke dalam rumah sakit itu dan mencari Kinanti. Suaminya pun mau masuk ke dalam rumah sakit itu.
Mereka berjalan memasuki pintu utama rumah sakit. Mereka bertanya kepada petugas kasir rumah sakit.
"Maaf, mba apa di sini ada pasien yang bernama Kinanti Larasati?" tanya Pak Bambang.
"Oh..sebentar ya, Pak/Bu kami coba cek namanya dulu di daftar pasien!" sahut petugas itu.
"Dimana ruangan itu?" tanya Ibunya Vita.
"Bapak lurus saja..di sana tinggal belok kanan, dan ruangan itu ada di tengah" ujar petugas itu.
Lalu Mereka pun segera berjalan mencari ruangan tempat Kinanti di rawat. Tak perlu waktu lama untuk mereka menemukan ruang tempat Kinanti di rawat. Mereka pun sampai di depan pintu ruang inap tempat Kinanti di rawat.
"Tok..tok..tok!"
"Iya,siapa ya?" tanya Nenek.
"Apakah ini ruangan tempat Kinanti Larasati di rawat?" tanya Pak Bambang sambil membuka pintu.
Nenek pun terkejut saat mendengar suara itu. Nenek pun berbalik arah menghampiri orang itu.
Pak Bambang pun terkejut.
"Ibu!" ucap mereka berdua.
"Kalian..!" kata Nenek dengan perasaan terkejut.
"Ngapain kalian ke sini! Apa kalian belum cukup membuat hidup kami menderita!" ucap Nenek dengan sangat marah.
Pak Bambang bertanya pada Nenek.
"Apa Kinanti adalah keponakan kami? Apa Kinanti adalah anak Abang Ali, Bu?" tanya Pak Bambang.
"Iya, memang benar Kinanti adalah anak Abang mu Ali!" sahut Nenek.
Pak Bambang dan istri pun bertekuk lutut di hadapan Nenek. Mereka memohon maaf dari Nenek.
"Maafkan atas semua kejahatan kami, Bu! jujur kami berdua yang telah merencanakan kecelakaan Bag Ali dan istrinya, Bu! kami juga merampas harta kekayaan dari Bang Ali!" ucap Pak Bambang sambil menangis.
"Apa? kalian yang telah merencanakan kecelakaan itu?" tanya Nenek dengan terkejut.
"Iya, Bu! pada awalnya kami memotong kabel rem mobil milik Bang ali, berharap bisa membuat Bang Ali meninggal dan kami akan dapat menguasai harta kekayaannya!" jelas Pak Bambang mulai jujur pada Nenek.
Nenek Biyah adalah Ibu kandung dari Pak Bambang yang tak lain adalah adik kandung dari Ayahnya Kinanti. Mereka berdua adalah paman dan bibi Kinanti.
Kinanti pun bangun dari tidurnya dan tidak sengaja mendengar percakapan mereka bertiga.
"Apa? Om dan tante adalah Paman dan bibi aku?" tanya Kinanti.
"Iya, cu"
"Apa benar kalian yamg sudah merencanakan kecelakaan kedua orang tuaku?" tanya Kinanti dengan perasaan marah bercampur sedih.