
*****
Mereka lalu berdiri dan mulai berjalan menyusuri hutan mencari jalan menuju enda camping mereka. Kinoy tak lupa untuk menggandeng tangan Kinanti. Tapi Kinanti masih berasa lemah. Ia merasa lemah pada tungkai kakinya, akibat terjatuh dan terperosok ke dalam jurang.
Kaki nya juga tak luput dari luka. Kinanti menggunakan celana jeans yang kainnya bertekstur tipis. Sehingga kakinya mudah terluka. Kinanti mengalami luka lecet pada bagian kakinya. Tetapi ia tetap menyembunyikan luka itu dari Kinoy.
Kinanti juga mengalami lecet pada tangannya. Tetapi luka itu tidak separah kakinya. Saat itu Kinanti membohongi Kinoy. Ia berpura-pura baik-baik saja. Ia menahan rasa sakit pada kakinya.
Kinoy pun berjalan bersama dengan Kinanti. Sesekali ia bertanya kepada Kinanti dengan keadaan Kinanti yang sehabis mengalami jatuh kemarin.
"apa kamu baik-baik saja? kok rasanya aneh. Nggak seperti biasanya kamu jalan lambat?" tanya Kinoy.
Lalu Kinanti pun menjawab dengan tegas.
"iya, nggak papa!" sahut Kinanti dengan berpura-pura tidak sakit.
"ah, yang bener kamu?" tanya Kinoy sambil mengejek kinanti.
"iya, nggak papa. Beneran deh!" sahut Kinanti sambil tersenyum.
Kinanti, bukannya tidak mau jujur kepada Kinoy. Ia hanya tidak mau Kinoy terlalu khawatir keadaannya. Karena jika Kinoy khawatir keadaannya, Kinoy bahkan langsung melakukan apa pun untuk membantu mengobatinya.
Kemudian mereka pun berjalan dan tetap berjalan. Setelah sampai di depan ujung tikungan, lalu Kinoy pun berkata kepada Kinanti.
"hah! pantesan kamu tersesa! kamu salah ngambil jalan! apa kamu nggak liat, jangan masuk jalan ini. Jalan ini berbahaya!" kata Kinoy.
Kinanti pun melihat tulisan itu terpampang besar di atas kayu yang tertempel di batang pohon kayu besar itu.
"oh, iya..ya" sahut Kinanti.
Lalu saat hendak melanjutkan perjalanan lagi, tiba-tiba Kinanti terhenti. Ia mengatakan bahwa, ia tidak sanggup lagi kalau harus berjalan. Karena kakinya sakit dan merasa lemah. Mendengar hal itu, Kinoy pun langsung mengahampiri Kinanti.
"aduh..!" lirih Kinanti sambil meringis kesakitan.
"iya, sayang. Kamu kenapa?" Kinoy bertanya pada Kinanti dengan penuh khawatir.
"aduh..Kakiku!" keluh Kinanti sambil memegang lututnya.
Lalu Kinoy pun mendekati Kinanti. Ia meraba bagian kaki Kinanti agar bisa mengetahui dimana sakit itu.
"sini, kaki mu! sakitnya di bagian mana?" tanya Kinoy.
"itu...Di lutut !" sahut Kinanti.
Lalu Kinoy kembali meraba bagian lutut Kinanti. Kinoy memegang lutut Kinanti yang terasa sakit. Saat di sentuh. Kinanti pun menjerit kesakitan. Kinoy pun menyuruh Kinanti membuka celananya di bagian lututnya, agar bisa melihat lutut yang sakit itu.
Kinanti pun melipat ujung celana di kakinya. Saat melihat kinanti membuka lututnya. Sontak mengejutkan Kinoy. Kinoy pun merasa terkejut. Ternyata Kinanti mengalami luka lecet di bagian lututnya.
Lalu Kinoy pun berdiri dan kemudian menggendong Kinanti yang mengalami luka pada lutut kakinya. Tapi sebelum menggendong Kinanti. Kinoy pun marah dan bertanya kepada Kinanti, mengapa dia sembuyikan luka itu.
"mengapa, kamu bohong sama aku?".
"katamu kemarin, keadaanmu tidak papa? tapi mengapa kamu sembunyikan kakimu yang luka itu?" kinoy bertanya pada Kinanti.
"maafian aku, sayang. Bukannya aku mau membohongimu, namun hanya saja aku tidak mau kamu, terlalu khawatir sama aku!" jelas Kinanti.