
Anton yang melihat Kinanti sedang menangis pun turut ikut bersedih. Ia mengatakan tak baik terlalu larut dalam kesedihan. Anton pun berkata sambil membiarkan Kinanti menangis dalam pelukannya.
"Menangislah..jika itu bisa membuat perasaanmu menjadi lega, tapi jangan terlalu larut dalam kesedihan!"
Anron pun melepaskan pelukan itu sambil memegang kedua tangan Kinanti.
"Seharusnya kamu nggak perlu sampai menangis begini. Nanti penampilanmu menjadi rusak karena airmatamu! hapuslah airmata mu dan mulailah tersenyum. Sedih gara-gara sebuah percintaan itu adalah hal biasa bagi manusia!"
Ayolah tersenyum! bangkitlah dari kesedihan. Putus satu kan..masih bisa tumbuh seribu cinta yang lain!" bujuk Anton.
Kinanti pun memghapus Airmatanya dan mengatakan kepada Anton. Agar segera melanjutkan perjalanan. Tetapi Anton meminta Kinanti agar saat di sana, Kinanti jangan terlalu bawa perasaan. Karena mungkin Pak Herlambang bisa ada di situ.
Tak beberapa lama kemudian mereka pun sampai di sebuah caffe tempat acara ulang tahun Vita. Saat itu tepat pukul 8 malam mereka sampai di depan caffe.
Mereka berdua pun memarkirkan mobil di parkiran mobil. Setelah itu Anton pun turun dari mobil bersamaan dengan Kinanti. Mereka saling membawa kado masing-masing. Paling Besar adalah kado milik Kinanti.
Anton menghampiri Kinanti, sambil mengulurkan tangannya.
"Ayo, masuk ke dalam bersamaku?"
Kinanti pun menyambut uluran tangan Anton. Kinanti pun menggandeng tangan Anton. Anton memanggil, pelayan caffe.
"Pelayan!"
"Iya, ada yang saya bantu, Mas?"
"Bisakah kamu membawa kado kami masuk ke dalam?"
"Oh, tentu bisa!"
Sesampainya di depan pintu caffe, mereka berdua di hadang oleh dua orang bertubuh besar, yang bertugas memeriksa undangan. Karena para tamu yamg hadir di sana, wajib membawa undangan dan di perlihatkan ke dua orang tersebut, sebagai tanda tamu undangan resmi.kalau tidak bisa menunjukan undangan itu, maka tentunya tamu itu tidak di persilakan masuk.
"Eits..mana undanganmu?" tanya orang itu menanyai Kinanti.
Kinanti dan Anton pun memperlihatkan undangan itu.
"Ini undangannya!" sahut Anton dan Kinanti.
"Ya, silahkan masuk!" ujar Orang itu.
Lalu mereka berdua pun masuk kedalam caffe itu. Saat Kinanti melangkahkan kaki mencoba masuk ke dalam caffe tersebut, tiba-tiba semua orang menatapnya dengan penuh keanehan.
Kinanti dan Anton pun berjalan menuju tempat Vita berdiri. Semua orang terpesona akan kecantikan Kinanti saat itu. Kinanti masih menggandeng tangan Anton. Mereka berdua pun mengampiri Vita. Disana Vita, tampak cantik dengan memakai gaun putih. Di sampingnya tampak Kinoy, setia mendampingi Vita.
"Hai..Vita..selamat ulang tahun, ya,!" ucap Dina dan Amel sahabat Vita.
Kinanti pun datang bersama Anton. Mereka tampak serasi. Anton memakai jas hitam dan celana hitam panjang, begitu serasi dengan Kinanti yang memakai gaun cantik berwarna pink dengan dompet pink yang di hiasi mutiara.
Dina dan Amel pun takjub melihat Kinanti dan Anton.
"Waw..Kinanti cantik banget! sainganmu, Vit!" sindir Amel dan Dina.
"Hah! kok bisa berpasangan dengan Anton? loh, bagaimana mungkin, si Kinanti cewek kampungan itu, bisa secepat itu move on dari Kinoy!" ucap Dina memperkeruh keadaan.
"Udah..udah! ngapain sih? lagian nih ya, nggak bakalan ada yang menyaingi kecantikannya Vita Anggraini, walaupun itu si cewek kampungan itu!" ketus Vita.