
*****
Lalu, Kinoy bertanya kepada Kinanti,"Apa yang mereka lakukan padamu?"
"Jawab, aku Kinanti?"
Kinanti, pun menjawab dengan suara pelan.
"Mereka, mengacak-ngacak dan menghamburkan semua dagangan Nenek. Dan semua dagangan Nenek hancur berantakan" jawab Kinanti sambil menangis.
"Keterlaluan! Pasti ini semua kerjaan Papah!" desis Kinoy semakin marah.
Lalu Kinoy pulang ke rumahnya. Ia ingin menemui Ayahnya. Sebelum, ia pulang menemui Ayahnya terlebih dahulu, ia mengantarkan Kinanti pulang ke rumah.
Setelah selesai mengantarkan Kinanti pulang ke rumah, ia pun segera ingin menemui ayahnya. Namun saat itu ia masih di jam pelajaran, lalu Kinoy pun kembali ke sekolah.
"Aku akan segera, menemui Papah! Dan meminta Papah untuk menjelaskan kejadian ini! eh, astaga! aku kan masih di jam pelajaran, nanti saja lah aku menemui Papah setelah pulang sekolah saja!" gerutu Kinoy.
Kinoy pun segera melanjutkan perjalanannya untuk kembali ke sekolah. Setelah sampai di sekolah, tiba-tiba handphone nya berdering. Ia pun, mengangkat telpon itu, setelah memarkirkan motornya.
"Halo?"
"Kinoy, ini Papah!"
"Iya, Pah, ada apa?"
"Kamu, masih berhubungan dengan si cewek kampungan itu?"
"Maksud Papah, Kinanti?"
"Iya, memangnya siapa lagi?"
"Kalo iya memangnya kenapa? masalah buat, Papah?"
"Papah, memang nggak pernah berubah! Papah itu egois, selalu memikirkan bisnis nya, tapi melupakan anaknya sendiri!"
"Apa, kamu bilang! kamu jadi anak jangan kurang ajar, ya Kinoy!"
"Papah, tega berbuat jahat kepada Kinanti dan Neneknya. Papah juga merusak toko, dimana itu satu-satunya tempat mata pencaharian nyeneknya"
"Jika kamu, tidak ingin Kinanti dan Neneknya tersakiti oleh Papah, maka kamu harus mengikuti apa yang Papah perintahkan"
Lalu, Kinoy pun berpikir dengan tawaran Ayahnya. Saat itu Kinoy menyetujui tawataran Ayahnya, dengan satu syarat, yaitu Ayahnya tidak mengganggu kehidupan Kinanti dan Neneknya lagi.
"Oke, aku menyetujui perjodohan itu. Tapi dengan satu syarat?"
"Apa itu, katakanlah?"
"Papah, harus berjanji, tidak akan mengganggu dan menyakiti Kinanti serta Neneknya lagi!"
"Baiklah, Papah setuju!" sahut Ayahnya dengan berpura-pura.
Kinoy pun menutup telponnya dan langsung masuk ke kelas. Saat Kinoy masih berada di sekolahan. Ayahnya yang kini sedang berada di rumah pun ingkar janji kepada Kinoy.
Ayahnya bergumam,"Aku, tak akan membiarkan Kinanti mendekati Kinoy lagi! aku harus berbuat sesuatu agar bisa menjauhkan Kinanti dari Kinoy. Aku harus bisa membuat Kinanti menjauh dari Kinoy! Dengan begitu perjodohan dan bisnisku tetap berjalan".
Ayah Kinoy, sangat membenci Kinanti dan Neneknya. Hal apa pun yang menyangkut nama Kinanti, ia akan tindak tegas. Ia langsung berbuat sesuatu, walaupun itu bisa membahayakan Kinanti.
Suatu hari, Pak Herlambang ayahnya Kinoy, mencoba masuk ke dalam kamar Kinoy. Diam-diam Pak Herlambang mengambil handphone milik Kinoy. Beliau memeriksa nomor telpon, yang ada di handphone itu. Beliau juga memeriksa pesan di handpone Kinoy. Ada begitu banyak pesan, hingga telunjuk tangannya terhenti pada satu pesan. Pesan itu dari nomor handphone milik Kinanti.
Beliau pun langsung membaca isi pesan itu. Isi dari pesan itu adalah Kebucinan Kinoy dan Kinanti. Kata-kata mesra di pesan itu, membuat hati Pak Herlambang menjadi marah. Beliau pun menyalin nomor itu.
Kemudian setelah menyalin nomor itu, Pak Herlambang pun keluar dari kamar Kinoy. Beliau berjalan menuju ruang kerjanya, yang berada di dalam rumah.