
" Tentu saja karena kau adalah satu satunya perempuan yang ada di keluarga Luo ini. Namun masalahnya kakek belum pernah melihat dan mendengar cicit dari kaisar naga ini. Hingga sangat sulit untuk menemukannya dan melancarkan kesepakatan ini.
Tapi sekali lagi itu terserah mu! Itu adalah hidupmu. Hanya kau yang berhak untuk mengaturnya", ucap kakek Luo.
" Mmmm.. aku paham maksud kakek. Kakek hanya ingin aku bahagiakan?, Aku juga ingin begitu. Apa mungkin karena pengalaman ibu yang di jodohkan dengan ayah?", Ucap Xiao An.
" Ya, begitulah. Kakek tidak mau mengulang hal seperti itu di kehidupan kakek yang sekarang dan selanjutnya. Kakek tau pentingnya untuk mengenal sikap dan kepribadian setiap anggota keluarga dan kakek gagal mengetahui sikap dan kepribadian ayahmu dulu. Hingga dia menjadi orang yang bodoh, mau saja di manfaatkan orang lain.
Sudah larut, sebaiknya kau kembali ke kamarmu dan tidurlah lebih awal", ucap kakek Luo. Lalu Xiao An pun bergegas untuk kembali. Namun saat dia akan membuka pintu, dia teringat sesuatu yang akhir-akhir ini sangat mengganggunya.
" Eh, kakek!, Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan kepadamu", ucap Xiao An.
" Ada apa?", Ucap kakek Luo. Xiao An pun kembali menghampiri kakek Luo dan duduk di sampingnya.
" Kakek, kenapa akhir akhir ini aku merasa kekuatanku perlahan menghilang. Kultivasiku tetap, tapi kekuatanku dalam membaca pikiran, kekuatan mataku, bahkan kekuatan detoksifikasi racun di tubuhku pun merasa terganggu", ucap Xiao An dengan wajah yang kelihatan kebingungan.
" Tunggu! kakek rasa, kakek pernah mendengar hal itu sebelumnya. Oh ya, sebelum kakek kembali ke rumah, kakek membaca buku yang tidak sengaja kakek temukan di laci meja ketua akademi sebelumnya. Buku itu cukup lusuh, tebal dan beberapa tulisannya tidak bisa di baca karena menggunakan huruf kuno.
Buku itu berisi tentang seorang kaisar naga pertama yang berhasil menundukkan seluruh dunia. Di salah satu bagian awal, di ceritakan bahwa kaisar itu tiba tiba kehilangan kekuatannya dalam hal memprediksi. Sama hal nya dengan kekuatan membaca pikiran milikmu.
Tapi alasannya dia kehilangan kekuatan itu, dia bertemu dengan 3 orang penantang yang bisa merebut kedudukannya sebagai kaisar. Beberapa bulan setelah itu, perang antar ras terjadi dan itu adalah perang terbesar di dunia. Mereka terbagi menjadi 4 kubu, 1. Kubu kaisar naga, dan lainnya adalah kubu dari para penantang.
Mereka mempunyai ciri tanda naga yang berukuran sedang di dahi mereka atau sering disebut dengan ras naga murni", jelas kakek Luo dengan misterius.
" Ras naga murni? Berarti aku sudah pernah bertemu dengan 3 ras naga murni yang akan merebutkan kedudukan ku?", Ucap Xiao An yang masih dalam keadaan bingung.
" Kemungkinan itu adalah benar. Kakek sebagai seorang ras naga pun hanya tau 1 orang ras naga murni, itu adalah Xu Kai.
Tapi semua itu tentu bisa di bicarakan dengan baik. Tidak perlu melalui peperangan, mungkin Xu Kai akan menerimamu menjadi kaisar naga. Tetapi 2 orang lainnya kakek tidak pernah tau siapa mereka dan dimana mereka sekarang", ucap kakek Luo.
Xiao An tampak sangat berpikir keras mengetahui hal ini. Bukan membuatnya tenang, tapi membuatnya semakin bingung dan gelisah.
" Sudahlah, jangan terlalu di pikirkan! Ini sudah malam, sebaiknya pergi tidur", ucap kakek Luo mencoba untuk meyakinkan Xiao An untuk tidak terlalu memikirkan hal itu.
" Baik, kek", Ucap Xiao An. Lalu dia pun pergi ke kamarnya. Sepanjang jalan menuju kamarnya, Xiao An merasa ada seseorang yang sedang memperhatikan setiap gerak geriknya. Itu sangat mengganggunya, karena kesal dia pun mempercepat langkahnya.
Sampailah di depan pintu kamarnya. Dia langsung membukanya lalu menutupnya dengan cepat dan menguncinya dari dalam, berharap orang itu tidak masuk ke kamarnya.
Setelah itu, Xiao An naik ke ranjangnya dan bersiap untuk tidur. Baru menutup mata beberapa menit, Xiao An merasa ada seseorang di belakangnya. Namun dia mengabaikan hal itu dan menganggap itu hanyalah perasaannya saja.
Tiba tiba Xiao An terbangun karena dia merasa ada tangan yang melingkar di perutnya. Saat itu dia ingin berteriak, tapi suaranya tidak keluar. Seakan tertahan oleh sesuatu. Saat dia menoleh, terlihat sesosok laki-laki yang sedang berdiri membelakanginya.
Karena penasaran, Xiao melangkah mendekati sosok itu dan menepuk bahunya.
" Siapa kau?", Ucap Xiao An. Tapi sebelum dia mendapatkan jawabannya, laki-laki itu berbalik dan langsung memeluknya dengan erat. Seketika Xiao An membulatkan matanya.
' aroma ini..... Aku tau siapa dia! Dia orang itu! Orang yang melihatku ganti baju saat di hutan', batin Xiao An.
Beberapa detik berlalu, laki-laki itu pun melepaskan pelukannya perlahan sembari mengatakan sesuatu di telinga Xiao An.
" Siapa kau sebenarnya? Jawab aku!!, Kenapa kau yakin kalau aku akan menikah denganmu?", Ucap Xiao An setengah berbisik, khawatir jika sampai ada orang yang terbangun karena mendengar suaranya.
" Kau akan tau siapa aku sebentar lagi, tapi untuk saat ini aku tidak bisa memberitahumu. Aku punya urusan yang sangat mendesak. Aku kesini untuk pamit kepadamu", ucap orang itu. Lalu dia memeluk Xiao An untuk kedua kalinya. Kali ini pelukan itu semakin lembut dan hangat membuat Xiao An sedikit luluh. Dia kembali membisikkan sesuatu di telinga Xiao An. Saat itu Xiao An hanya terdiam kaku.
" Sampai jumpa lagi, tunggu aku. Aku tidak akan membiarkanmu menikah dengan orang lain karena hanya aku yang berhak memilikimu", Ucap orang itu. Lalu orang itu pun melepaskan pelukannya, lalu mencium dahi Xiao An dan bermaksud untuk pergi. Namun Xiao An masih penasaran dengan identitas orang itu.
" Tunggu! Setidaknya aku tau namamu", ucap Xiao An.
" Ao Tian!, Long Ao Tian. aku berharap kau akan mengingat namaku seumur hidupmu", ucap Ao Tian sembari tersenyum lembut kemudian menghilang.
Xiao An bergegas kembali ke ranjangnya lalu tidur. Tapi dia terus memikirkan orang itu, sebenarnya kenapa dia bisa menyukainya. Apalagi hingga meyakinkan Xiao An untuk menunggunya.
' sebenarnya apa tujuannya di balik semua ini', batin Xiao An. Perlahan Xiao An pun tertidur.
Keesokan harinya, Xiao An bangun dan segera mandi dan bersiap-siap. Setelah beberapa saat, Xiao An pun keluar dari kamarnya dan pergi menuju aula keluarga. Disana sedang di adakan rapat keluarga mengenai kepala keluarga yang pantas untuk menjadi bagian dari keluarga cabang.
Hanya anggota keluarga saja yang boleh masuk dan mengikuti rapat ini. Xiao An sebagai anggota tentu saja di perbolehkan untuk mengikuti rapat ini. Oleh karena itu, dia masuk ke aula dan duduk di kursi kosong yang sudah tersedia. Beberapa orang merasa tererusik oleh kedatangan Xiao An yang sangat tiba tiba.
" Kenapa?, Bukankah aku juga anggota keluarga Luo?", Ucap Xiao An dengan santainya. Dan mereka hanya bisa diam menyetujui hal itu. Lalu kakek Luo pun melanjutkan perkataannya.
" Aku sudah memutuskan 3 kepala keluarga cabang yang akan menjadi kepala keluarga inti yang baru. Aku memilih mereka sesuai syarat yang sudah di setujui sejak lama.
Dengan ini, aku menerima Luo Wei Qing, Luo Yun Heng , dan Luo Qing Yun menjadi kepala keluarga inti. Selamat untuk kalian bertiga, semoga kalian nyaman berada di lingkungan yang baru", ucap kakek Luo dengan ramah. Mereka bertiga senantiasa maju dan berlutut di hadapan kakek Luo sebagai tanda hormat dan syukur mereka kepada seorang patriak keluarga.
Namun lagi lagi orang yang sebelumnya mengejek Xiao An saat pesta ulang tahun, Luo Yun Feng kakak dari Luo Yun Heng tidak terima dengan ini.
" Apa?, Patriak bukankah aku sudah berkorban lebih banyak untuk keluarga ini? Kenapa aku tidak terpilih?", Ucap Luo Yun Feng. Orang orang yang mendengar hal itu hanya bisa bergosip.
" Ini sudah jelas dan aku sudah memutuskan hal ini sejak lama. Kenapa aku tidak memilihmu? Karena kau terlalu sombong dengan prestasimu yang sama sekali tidak sebanding dengan prestasi cucuku. Apa kau pernah melihat mereka menyombongkan diri mereka di hadapan banyak orang? Atau mengolok olok orang lain? Jangan lupa kau dan istrimu sering memojokkan kepala keluarga cabang yang lain. Kau pikir kau itu sangat kuat dan berkuasa? Tidak!!! Jika harus jujur, kau itu hanya aib keluarga. Camkan itu!!!", Ucap kakek Luo dengan marahnya. Luo Yun Feng hanya diam dan menahan amarahnya lalu pergi dengan terburu buru bersama istrinya.
" Maaf kalian harus mendengar hal yang memalukan seperti ini", ucap kakek Luo.
" Tidak apa patriak, kami sudah terbiasa dengan hal itu. Mereka memang sudah sangat keterlaluan", ucap para anggota yang hadir di rapat itu.
" Akhirnya, rapat sudah selesai. Kalian bisa pergi sekarang. Oh ya, mampirlah ke rumah makan Haozi. Disana makanannya sangat enak dan tentu saja untuk kalian gratis. Bawalah keluarga kalian kesana!", ucap kakek Luo dengan ramah.
' aduh... Apa kakek tidak terlalu bersemangat? Sampai-sampai menyuruh mereka untuk mampir ke rumah makan milikku', batin Xiao An. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
" Baik patriak. Kami pasti akan mampir kesana", ucap orang orang itu.
" Ya, bersenang senang lah!", Ucap kakek Luo.
" Kakek, aku akan pergi menemui ayah dan selir itu. Mungkin aku akan kembali nanti malam", bisik Xiao An.
" Berhati-hatilah", ucap kakek Luo, Lalu Xiao An pun pergi. Tidak lupa, Xiao An mengajak Xiao Yu untuk ikut bersamanya.