The Lord Of The Dragon Race

The Lord Of The Dragon Race
Bagian 69



Hari ini adalah hari dimana festival tahun baru akan dilaksanakan. Dimana lentera dinyalakan. Hiasan merah memenuhi seluruh kota. Suasana ramai dan damai dipenuhi tawa riang. Pertunjukkan drama ditayangkan di atas panggung yang megah. Anak anak bermain berlarian kesana kemari sembari membawa manisan buah di tangannya.


Di setiap rumah mereka menyediakan berbagai hidangan mewah terutama keluarga keluarga besar. Para murid dipulangkan ke rumah mereka masing masing untuk merayakan bersama keluarga mereka.


Begitu pun dengan rumah makan Haozi, saat ini mereka sedang merayakan tahun baru dan berbagi kebahagiaan dengan cara menggratiskan setiap makanan yang di pesan.


Saat ini Xiao An berada di keluarga Luo bersama anggota keluarga lainnya. Karena ini keluarga inti, jadi perayaan yang besar berada di kediaman keluarga Xiao An. Hanya sebagian tokoh besar yang datang dari keluarga cabang. Mereka membawa anak dan cucu cucu mereka untuk di perkenalkan ke seluruh keluarga dan tentu saja ini dilakukan agar lebih saling mengenal antara keluarga inti dan keluarga cabang.


Kebetulan keluarga inti Luo hanya memiliki 2 kepala keluarga. Pertama, Luo Tian Heng sebagai paman Xiao An namun dia telah meninggal 7thn yang lalu yang di ketahui penyebabnya karena dia diracuni oleh selir Jiang.


Dia mempunyai istri yang sangat cantik dan baik, namun karena kecantikannya membuat selir Jiang itu cemburu, dia pun ikut di racuni oleh nya 3 THN kemudian setelah Luo Tian Heng meninggal. Mereka meninggalkan 1 anak laki-laki yang sekarang ini telah berusia 21 thn. Kenapa sebelumnya tidak ada kabar mengenai hal ini? Karena diketahui anak laki laki ini melakukan perjalanan atau yang sering di sebut mengembara.


Tidak ada yang mengetahui kejahatan selir Jiang karena semua orang di bungkam oleh dirinya sendiri. Hanya kakek Luo dan anak dari Luo Tian Heng yang mengetahui hal itu. Saat itu Luo Tian Xing atau ayahnya Xiao An sepenuhnya di kontrol oleh selir jiang.


Sejak umurnya 17 thn dia sudah mengembara, kira kira saat Xiao An berusia 11 atau 12 THN. Dan saat ini karena kedua kepala keluarga inti itu tidak ada, maka kakek Luo berencana untuk mengangkat beberapa kepala keluarga cabang untuk menjadi kepala keluarga inti.


Suasana di keluarga Luo ini sangat ramai, banyak anak anak yang sedang bermain di taman, bahkan beberapa remaja sedang bermain pedang di arena keluarga. Saat ini Xiao An sedang duduk diam di kursi taman sembari memperhatikan anak anak yang sedang bermain.


" Huh, mereka sangat lucu. Aku ingin menyapa mereka tapi aku tidak bisa. Aku tidak tau bagaimana berbicara Dengan anak kecil", gumam Xiao An.


" Eh, bukan kah kau Xiao An?, Sudah lama tidak bertemu", ucap seorang tetua dari keluarga cabang, Luo Yu Hao.


" Hah? Anda siapa?", Ucap Xiao An agak bingung.


" Sudah ku duga pasti nak Xiao An tidak mengenal kakek tua ini. Dulu kau tidak sekuat ini, kau sangat lemah dan ditindas dimana mana. Apa kau masih ingat saat perjamuan seperti ini terjadi saat nak Xiao An berusia 5 THN? Saat itu kakek tua ini tidak sengaja menabrak nak Xiao An karena terburu buru. Lalu, kakek tua ini memberikan permen dan manisan buah kepadamu", ucap tetua itu.


" Oh, kakek janggut panjang!, Eh maaf dulu aku selalu memanggil tetua seperti itu" ucap Xiao An. Saat itu karena Xiao An tidak tau siapa dia, jadi Xiao An memanggilnya dengan kakek janggut panjang karena janggutnya yang panjang hampir menyentuh lantai.


" Tidak perlu canggung seperti itu, kakek tua ini tidak keberatan dipanggil seperti itu. Kenapa kau sendiri di sini?", Ucap tetua itu dengan sopan dan lembut. Xiao An pun merasa tidak ada yang salah dengan tetua ini. Memang sudah dasarnya tetua ini adalah orang yang baik. Dia jarang tersenyum, dia hanya akan tersenyum kepada anak kecil saja.


" Temanku masih berbaring di tempat tidurnya karena dia ditusuk seseorang. Dan temanku yang lain sedang ada di rumah mereka masing masing merayakan tahun baru ini", ucap Xiao An dengan jujur.


" Oh begitu, itulah kenapa kau sendiri disini. Kakek tua ini mungkin tidak akan hidup lama. Oleh karena itu, kakek tua ini ingin tau sejauh mana pemahaman nak Xiao An. Apa kakek tua ini boleh bertukar beberapa jurus dengan mu nak?", Ucap tetua itu.


" Dengan senang hati aku akan menerimanya", ucap Xiao An. Lalu mereka pun berjalan menuju arena keluarga.


" Lihatlah! Anak muda memang selalu bersemangat", ucap tetua itu sembari berjalan.


"Ya, mereka sangat bersemangat. Pastinya mereka akan menjadi bibit unggul", ucap Xiao An.


Dan mereka berdua pun menghampiri anak-anak itu.


" Eh kakek tetua, kenapa kesini? Apa kalian sedang memperhatikan kami?", ucap salah satu anak laki laki.


" Ya, kalian terlihat sangat bersemangat sekali. Teruslah kembangkan prestasi kalian, jika kalian berkultivasi secukupnya saja jangan di paksakan. Karena jika kalian memaksakannya, maka tubuh kalian akan terluka bahkan kalian juga bisa mati karena itu", ucap tetua itu dengan sopan.


" Kami akan berusaha sekuat tenaga untuk menjadi orang yang kuat dan dihormati oleh orang banyak", ucap anak-anak itu dengan gembira.


" Cita cita kalian sangat hebat tapi untuk meraih semua itu tidak mudah. Semakin kuat dirimu maka semakin banyak musuhmu. Kalian jangan hanya memperkuat diri kalian, tapi kalian juga harus membuat diri kalian pintar dalam hal apapun hingga kalian tidak akan bisa tertipu oleh orang orang licik", ucap tetua itu.


" Oh begitu ya, aku akan belajar dengan giat", ucap salah satu anak.


" Eh, kakak ini....kakak Xiao An ya? Yang ku tau hanya kakak Xiao An yang memakai topeng", ucap seorang anak perempuan.


" Benar, aku Xiao An. Jika kalian punya pertanyaan, silahkan bertanya kepada ku tentang apapun itu aku akan menjawabnya", ucap Xiao An dengan ramah.


Tiga orang anak laki-laki menghampiri Xiao An.


" Kak, apa kau pernah melihat pedang naga milik keluarga kita?", Ucap salah satu anak itu.


" Ya, aku pernah melihatnya. Jika kalian ingin melihatnya aku akan memperlihatkannya", ucap Xiao An. Para remaja itu tiba tiba berkumpul mengelilingi Xiao An.


" Kak aku ingin melihatnya",


" Aku juga",


" Katanya pedang itu sangat hebat",


Lalu Xiao An pun mengeluarkan pedang naga dan memperlihatkannya kepada mereka.



Pedang itu menyala nyala seakan akan ada api yang menyelimutinya.


" Wah keren sekali",


" Pedang itu sangat keren",


" Aku ingin memiliki pedang seperti itu",


" Kenapa pedang ini ada pada kakak", ucap seorang anak laki-laki yang terlihat lebih tua dari yang lainnya.


" Pedang ini diturunkan kepada keturunan keluarga Luo yang paling kuat. Kenapa harus yang paling kuat? Karena pedang ini di incar oleh banyak orang. Jika tidak ada pedang ini, mungkin keluarga kita tidak bisa di sebut sebagai keluarga besar", jelas Xiao An. Dan anak itu mengangguk anggukkan kepalanya seakan akan dia mengerti.


" Kak, bolehkah aku menjadi seorang ahli senjata? Aku sangat menyukai senjata, tapi di keluarga Luo ini tidak ada seorang pun ahli senjata", ucap seorang anak perempuan. Dia terlihat sangat kecewa mengetahui kenyataan itu.


" Kata siapa tidak ada ahli senjata?, Ibu ku adalah ahli senjata", ucap Xiao An terus terang.


" Benarkah? , Tapi aku belum pernah mendengar nya", ucapnya.


" Dia menyembunyikan hal itu dari keluarga, pastinya dia punya alasan kenapa dia menyembunyikannya. Dan kau tidak perlu khawatir karena aku adalah ahli senjata juga", ucap Xiao An.


" Benarkah?, Jadi aku boleh belajar tentang senjata dengan kakak?", Ucap anak perempuan itu dengan antusias.


" Ya, tentu saja", ucap Xiao An dengan ramah.


" Ehm, mungkin lain kali saja kita melakukan pertarungan yang sudah kita bicarakan tadi. Kakek tua ini akan kembali", ucap tetua itu lalu dia pun pergi.


" Oh ya baiklah tidak apa apa. Ayo siapa lagi yang ingin bertanya?", Ucap Xiao An dengan gembira. Sepertinya dia menemukan kebahagiaan saat berbagi ilmu dengan mereka.