The Lord Of The Dragon Race

The Lord Of The Dragon Race
Bagian 17



Dia pun mulai berbicara,


" nak, ini ibu. Ibu sengaja menyimpan sedikit roh ibu di kalung ini. Ibu tau pasti kau sudah mengetahui tentang saudara kembarmu, Kakak laki-laki mu. Maafkan ibu telah memisahkan kalian, Ibu terpaksa. Karena kau tidak akan mati jika teracuni bahkan oleh racun yang paling mematikan sekali pun. Tetapi berbeda dengan kakakmu kakakmu tidak punya tubuh sepertimu. Oleh karena itu, agar kakakmu bisa hidup lama, ibu menitipkannya kepada bibimu. Ibu harap kau memakai kalung ini jika ingin menemukan kakakmu. Kakakmu juga seorang jenius sepertimu, tapi dia masih di bawahmu. Dia punya kalung Yang yang merupakan pasangan kalung Yin mu. Jadi pakai lah ini pemberian dari ibu. ibu juga telah menyimpan pedang yang khusus ibu buatkan untukmu di kotak kayu yang berada di sebelah kanan. Nama pedangnya Bloody Ashura, sesuai dengan tubuhmu. Di dunia ini hanya pedang Nine Angel milik kakakmu yang bisa menandinginya. Semoga kalian cepat bertemu dan hidup dengan bahagia", jelas roh itu kemudian menghilang.


Xiao An sangat mendengarkan setiap kata yang di katakan potongan roh itu dan tak terasa dia menangis. Lalu dengan cepat dia memakai kalung itu dan menyembunyikannya di balik bajunya.



Kalung Yin ( hitam) milik Xiao An dan kalung Yang (putih) milik saudaranya.


Setelah itu, Xiao An mencari pedang yang di sebutkan oleh ibunya. Tepat di sebelah kanan banyak sekali kotak kayu panjang berisikan pedang. Tetapi hanya ada 1 kotak kayu yang sangat menarik dengan ukiran naga dan nama Xiao An di atasnya. Sangat jelas berbeda dengan yang lainnya. Lalu Xiao An pun membuka kotak kayu itu dengan perlahan, sampai terlihatlah sebuah pedang berwarna merah. Dengan permata ungu di tengahnya.



"Wow, keren", ucap Xiao An dengan senyum merekahnya. Xiao An pun mencoba untuk memegangnya dengan hati hati. Tetapi ada rasa familiar yang keluar dari pedang itu yang membuat Xiao An sangat bahagia.


"Aku belum pernah melihat pedang seperti ini sebelumnya", ucap Xiao An . Lalu kembali menyimpan pedang itu di tempatnya.


Kemudian, dia pun keluar dari cincin ruang itu dan tak terasa hari sudah pagi. Xiao An segera membangunkan Tian Yue yang tidur setelah dia menerobos.


Mereka pun bersiap untuk menghadiri pertandingan lanjutan. Tetapi sebelum itu, dia sudah berjanji kepada Hong Jun untuk memberikannya senjata. Mereka berdua pun kembali ke tempat kemarin yang sudah di janjikan.


Setelah mereka sampai, terlihat Hong Jun yang sedang duduk menunggu kedatangan mereka.


"Kalian sudah sampai, bagaimana ? Apakah kau membawa senjatanya?", Ucap Hong Jun .


"Ya aku membawanya. Tapi aku lupa menanyakan senjata apa yang kau mau?", Ucap Xiao An .


"Oh ya, aku lupa mengatakannya. Aku ingin kipas seperti milikku saat ini. Apakah kau punya?", Ucap Hong Jun .


"Ya, ada. Tapi sebelum aku memberikannya kepadamu, letakkan masing masing barang yang ingin kau tukar dengan senjata ini", ucap Xiao An .


Kemudian, Hong Jun pun mengeluarkan barang-barang yang akan di tukarnya dengan senjata. Setelah itu, barulah Xiao An mengeluarkan senjatanya. Dan mereka pun saling bertukar dan memasukkan barang barang itu ke cincin ruang masing-masing.


"Terima kasih sudah mau bertukar dengan ku", ucap Hong Jun .


"Ya, sama sama", ucap Xiao An .


"Kalau begitu, ayo kita mendekati arena karena pertandingan sudah mau di mulai", ucap Hong Jun. Xiao An dan Tian Yue pun mengiyakan ajakannya.


Mereka pun pergi menuju arena.


Saat mereka tiba, sudah banyak murid yang memadati lokasi pertandingan itu. Untuk para murid yang akan bertanding, di sediakan di sebelah kanan. Dan untuk murid yang lainnya, dibebaskan untuk melihat dari sebelah mana pun kecuali dari sebelah kanan tentunya.


"Wahh, ternyata murid senior pun datang untuk melihat pertandingan ini", ucap Hong Jun . Tian Yue yang awalnya bersikap biasa biasa saja, setelah mendengar kata kata Hong Jun, dia merasa gelisah. Tetapi Xiao An tetap mempertahankan wajah tak tak pedulinya itu tanpa merasa gelisah sedikit pun.


Setelah itu, panitia menyebut nama pesertanya. Peserta itu pun naik ke atas arena sembari menantang seseorang. Kemudian memulai pertandingannya. Pertandingan itu tidak begitu lama, langsung melanjutkan peserta selanjutnya.


Memang seperti perkiraan Xiao an. Pertandingan selanjutnya terus bertambah menjadi semakin lama dari sebelumnya. sampai sampai Xiao An bosan karena namanya tak kunjung di panggil. Sembari menunggu giliran, Xiao An memainkan belatinya dengan memutar mutar dengan jarinya.


Tetapi tiba tiba saat Xiao An memutar belatinya itu, Xiao An merasa ada seseorang yang memperhatikannya. Sehingga membuatnya sedikit risih dan segera matanya menelusuri semua orang untuk menemukan siapa yang sedang memperhatikannya.


Xiao An pun menemukan seorang laki-laki yang membuatnya risih. Saat pertama Xiao An melihatnya, ia sedikit terkejut dengan tanda naga yang di miliki laki-laki itu. Itu tanda yang sedikit berbeda dengan yang lainnya. Tentu berbeda juga dengan milik Xiao An. Hanya ada satu gambar naga di keningnya, sama seperti yang lainnya. Ada satu hal yang membedakannya yaitu gambar naga dengan ukuran besar hampir seperti milik Xiao An . Sedangkan milik mereka para ras naga yang lain mempunyai tanda yang agak kecil dari milik Xiao An .


Tentu itu membuat Xiao An sedikit penasaran. Hingga Xiao An pun mengaktifkan mata sebelah kanannya untuk melihat lebih jauh dan menemukan batas kekuatan yang di miliki laki-laki itu.


"Oh, dia cukup kuat. Agak lebih kuat dari yang lainnya", ucap Xiao An .


"Ada apa?, Kau melihat siapa?, Biasanya kau tidak pernah memperhatikan seorang perempuan seperti itu. Apa jangan jangan kau menyukainya?, Ha ha... Akhirnya..", ucap seorang laki-laki yang merupakan teman sang laki-laki yang memperhatikan Xiao An .


"Apa yang kau pikirkan?, Aku hanya penasaran saja", ucap laki-laki itu yang ternyata adalah kakaknya Xu Yuan , Bai Xu Kai dan temannya Lu Xu Ge.


"Sudah, kau jujur saja", ucap Xu Ge.


"Aku bilang hanya penasaran saja", ucap Xu Kai .


Sedangkan Xiao An sudah mengetahui sejauh mana kekuatan yang dimiliki Xu kai. Dan ternyata Xu kai sudah berada di ranah kaisar awal. Dengan elemen petir tingkat 6 dan api tingkat 3 .


"Ada yang berbeda dengan petirnya. Apakah itu dari tanda ras naganya?, Mungkin saja. Karena 4 ras legenda mempunyai kekuatan yang cukup besar dari yang lainnya. Dan tunggu, itu temannya juga ras legenda ?, Wahh ternyata ras teratai hitam. Mungkin saja mereka juga akan mengikuti pertandingan satu benua itu", ucap Xiao An .


Setelah menunggu hingga tengah hari, Xiao An baru menyadari sesuatu. Ya, kapan dia akan bertanding?, Padahal itu sudah pertandingan ke 11. Seharusnya Xiao An bertanding di antara pertandingan ke 1-10, tapi itu sampai sekarang belum di panggil ataupun di tantang. Itu membuat Xiao An bertanya tanya.


Sudah ada 10 orang yang tersingkir dan 9 orang yang maju ke pertandingan selanjutnya sedangkan Xiao An bingung, apakah dia masuk ke pertandingan selanjutnya?. Dia pun menanyakan hal itu kepada tetua yang berada di dekatnya.


"Tetua, Maaf sebelumnya. Saya ingin bertanya kenapa saya tidak di panggil?, Bukankah ini sudah pertandingan ke 11?, Seharusnya saya sudah di panggil", tanya Xiao An .


"Sesuai penampilan yang kau tunjukkan kemarin, para tetua setuju untuk mengakhirkan pertandinganmu. Artinya kau menunggu pemenang pertandingan terakhir dan saat itu kau akan melawannya", jelas tetua itu.


"Itu berarti aku akan memenangkan peringkat 1 atau 2?, Itu tidak adil untuk yang lain", ucap Xiao An .


"Itu sangat adil untuk mu dan juga yang lainnya. Kami melihat potensi besar dari mu. Kami sangat berharap kepadamu ", ucap tetua itu. Dan Xiao An pun kembali ke tempat sebelumnya.


Tak terasa hari sudah sore tetapi pertandingan belum selesai bahkan Xiao An pun belum terpanggil. Kali ini sudah pertandingan ke 17 yang berarti siapa pun pemenangnya akan melawan Xiao An .


Entah kebetulan atau apa, pertandingan ke 17 adalah pertandingan Xiao Shi dengan seorang laki-laki bernama Xi Shui. Pertandingan itu berlangsung cukup lama untuk mengeluarkan pemenangnya. Karena kekuatan keduanya hampir sama dan pertandingan pun berlanjut hingga hari hampir malam, Barulah terlihat siapa pemenangnya.


Ya, itu Xi Shui. Tetapi karena dia terluka, Xiao An yang telah menunggu lama untuk bertanding harus menunggu hari esok. Tapi ketika para murid akan pergi ke kamar masing masing, terdengar suara tetua tertinggi.