
" Ya, aku tau kondisi tubuhmu. Kau sudah bertahan sejauh ini, kau tidak boleh menyerah begitu saja. Bukankah kau ingin membalaskan dendam ibumu?, Kau selalu membicarakan itu. Semangat!!! Jangan menyerah!!, Aku akan selalu berada di belakangmu", ucap Tian Yue. Setidaknya itu membuat Xiao An merasa lebih baik dari pada sebelumnya.
" Kau benar, aku tak boleh menyerah begitu saja. Kalau begitu, ayo berangkat!! Mereka sudah masuk ke kereta. Aku akan berjaga jaga di luar, kau masuklah ke dalam", ucap Xiao An.
"Tidak!, Jika kau berjaga di luar, aku juga akan ikut berjaga di luar bersamamu", ucap Tian Yue.
" Baiklah", ucap Xiao An. Mereka berjaga di depan dengan tetua ke 2 dan 2 guru laki laki, sedangkan yang tetua dan guru lain berjaga di belakang.
Sepanjang perjalan mereka memasang pertahanan mereka dengan terus waspada terutama untuk orang yang berada di depan dan belakang. Setengah perjalanan mereka tidak bertemu dengan orang yang mencoba menghadang bahkan perampok pun tidak ada.
Tapi sejak saat itu, mereka mulai merasa aneh dengan suasana tenang yang mereka rasakan. Seharusnya ada beberapa suara hewan atau bahkan spirit beast yang berada di sekitar jalan itu karena itu jalan hutan. Dan saat itu juga, para tetua dan guru mulai meningkatkan ke waspadaan mereka. Begitu pun dengan para murid yang ikut berjaga jaga di luar.
Ratusan panah tiba tiba menyerang kereta dan orang orang yang berjaga. Segera para tetua melindungi kereta dan menghentikan perjalanan. Sekelompok orang berbaju hitam keluar dari pepohonan dan semak di sekitar jalan itu.
Mereka mulai bertarung dengan para tetua dan sebagian guru. Para murid menjerit ketakutan, guru yang lainnya mencoba menenangkan dan mengamankan mereka.
Awalnya Xiao An dan Tian Yue hanya melihat pertarungan itu dan menjaga para murid agar tidak ada murid yang terluka atau terbunuh. Namun orang orang berpakaian hitam itu terus bermunculan dari berbagai sisi.
Para tetua mulai kewalahan di karenakan jumlah musuh yang terus bertambah. Menurut penglihatan Xiao An, lebih dari 200 orang mengepung kereta mereka. Sedangkan jumlah para tetua dan guru tidak sampai 50. Di tambah dengan ranah yang sama dan bahkan pihak musuh mempunyai kultivator ranah langit tingkat 7. Sedangkan tetua paling kuat saat ini adalah tetua ke 2 yang berada di ranah langit tingkat 6. Itu cukup menyulitkan untuk membunuh mereka meski orang terkuat di pihak musuh belum menampakkan dirinya.
Xiao An dan Tian Yue mulai membantu begitu pun dengan Xu Kai dan murid jenius lainnya. Mereka bertarung sekuat tenaga meski mereka terluka, selama luka itu tidak terlalu parah mereka akan terus bertarung. Pertarungan semakin sengit, beberapa murid yang membantu berhasil membalikkan keadaan meski harus terluka parah.
Xiao An yang melihat para murid itu terluka parah merasa kesal. Dengan ganas Xiao An melampiaskan kekesalannya dan berhasil membunuh semua orang orang berpakaian hitam itu dengan bantuan beberapa orang yang masih kuat bertarung.
Karena sudah terlanjur kesal, dan orang itu belum muncul sampai saat ini, dia berteriak dengan kerasnya.
" Hei kau keluarlah!, Mereka sudah mati dan sekarang tinggal kau sendiri. Jika kau tidak muncul, berarti kau pengecut", ucap Xiao An dengan lantang.
' hah?, Apa masih ada yang tersisa?, Bagaimana dia bisa tau?', batin semua orang.
' bagaimana dia bisa mengetahuinya?, aku bahkan tak merasa ada seseorang yang bersembunyi', batin tetua ke 2.
Sebuah suara datang dari arah samping, dia tertawa begitu keras. Semua orang terkejut mendengarnya.
" Ha ha ha ha, kau pikir kau siapa hah?, Hanya anak kecil sepertimu berani menyuruhku keluar dari persembunyianku", ucap pria tua itu dengan sombongnya.
" Tentu saja aku berani, Kau hanya semut di mataku. untuk apa aku takut", ucap Xiao An. Semua orang kembali terkejut, betapa beraninya Xiao An memprovokasi pria tua itu yang bahkan berada di ranah langit tingkat 7.
" Ha ha ha semut?, Yang ada kau lah semut itu, beraninya kau menantang ku dasar semut!!", Ucap pria tua itu. Lalu dia melayangkan serangan kepada Xiao An setelah dia selesai berbicara. Sayangnya serangan itu di blokir oleh Xiao An.
" Bagus, bagus !!! Ternyata kau masih bisa memblokir serangan ku. Tapi tenang saja, itu hanya sebagian kecil dari kekuatan asliku", ucap pria tua itu. Dengan segera dia mencoba menyerang Xiao An kedua kalinya.
' kali ini, kau tidak akan bisa menahannya, ha ha ha', batin pria itu.
"Apa hanya begini saja kekuatanmu? Heh, ku pikir kau sekuat apa. Ternyata hanya begini", ucap Xiao An. Pria itu semakin kesal, dia sangat marah mendengar ejekan Xiao An.
' awas saja kau!! Kali ini aku akan menyerangmu dengan kekuatan penuhku. Lihat saja siapa yang akan mati!!", Batin pria tua itu.
Lalu pria itu pun menyerang untuk ketiga kalinya, kali ini dengan kekuatan penuhnya dia mencoba untuk membunuh Xiao An. Saat itu, Xiao An mencoba menahannya meski harus mengeluarkan seperempat kekuatannya.
Dia berhasil menahannya untuk ke tiga kalinya dan di saat itu juga dia menyerang pria itu.
Duarrr....
Ledakan terjadi saat serangan itu berhasil mengenai pria itu. Dia terlempar beberapa meter dari posisi awalnya. Dia tidak sempat menahan serangan itu sehingga membuatnya terluka cukup parah. Dia memuntahkan seteguk darah segar dan di saat dia berusaha untuk berdiri, Xiao An menghampirinya dan langsung menginjak perutnya hingga dantiannya hancur. Untuk kedua kalinya dia memuntahkan darah segar dan di saat bersamaan, tetua ke 3 menghampiri Xiao An.
" Bagus!! Itulah balasan untuk orang yang berani memprovokasi Akademi Pedang Surgawi. Awas saja jika kau mencoba untuk menyerang kami lagi!", Ucap tetua ke 3 seolah dia sangat kesal kepada pria tua itu.
Udara dingin menyapu punggung Xiao An, tempat tetua ke 3 saat ini berdiri. Niat membunuh yang begitu kecil hingga beberapa orang tak menyadarinya. Tetua ke 3 mengeluarkan belati kecil dari lengan bajunya. Dia bersiap untuk menerkam Xiao An dari belakang. Namun Tian Yue menyadari hal itu dan segera menghampiri Xiao An.
" Xiao An awas!!!!", Teriak Tian Yue dengan kerasnya sembari menghampirinya.
Clebb....
Suara tusukan itu begitu kecil hingga beberapa orang belum juga menyadarinya. Darah mengalir begitu derasnya mengotori baju yang begitu bersih. Perempuan itu merintih kesakitan sembari menutupi luka agar dia tak kehabisan darah.
" Tian Yue?, Tian Yue?, Kenapa kau malah menghalanginya?, Apa kau bodoh?, Kau bisa menyerangnya dari belakang seperti yang akan dia lakukan kepadaku", ucap Xiao An dengan khawatirnya. Dia tampak sangat kesal namun tetap saja dia tidak bisa memarahi Tian Yue begitu saja karena dia sedang terluka parah.
" Tidak apa apa, aku baik baik saja", ucap Tian Yue lemah.
" Apanya yang baik baik saja?, Lihat perutmu terluka! Apa kau masih bisa tersenyum begitu?", Ucap Xiao An. Lalu Xiao An menatap tetua ke 3 dengan tatapan tajam yang siap menusuk siapa saja yang dia tatap. Dia menyerahkan Tian Yue kepada para tetua. Kemudian dia menghampiri tetua ketiga yang saat ini sedang duduk dengan santainya sembari tertawa, dia sudah seperti orang gila.
" Ha ha ha, kau lihat itu?, Aku ingin membunuhmu tapi dia menghalangiku. Jadi, itu bukan salahku", ucap tetua ke 3.
" Kau seharusnya malu, tidak seharusnya kau menyakiti para murid apalagi sampai membunuhnya", ucap tetua ke 2 dengan marahnya. Semua orang menatapnya dengan penuh kemarahan.
" Dasar brengsek kau!! , Kau tidak layak menjadi seorang tetua", ucap para murid.
" Terserah kalian bicara apa, aku tidak peduli. Lagi pula kalian sangat lemah, tidak bisa mengalahkan ku. Selama ini aku menyembunyikan kekuatan asliku. Asal kau tau, saat ini aku berada di ranah langit tingkat 9, tidak ada yang bisa melawanku dengan kekuatan kalian saat ini, ha ha ha", ucap tetua ke 3.
" KAU!!! Asal kau tau saja, hanya dengan sebagian kecil kekuatanku kau bisa mati. Di atas langit masih ada langit, jadi kau tidak boleh sombong dengan kekuatanmu saat ini", ucap Xiao An.
" Ha ha ha dasar bocah tengik!!!, Berani berbicara omong kosong seperti itu. Rasakan ini...", Ucap tetua ke 3 sembari menyerang Xiao An menggunakan pedang. Dengan segera Xiao An mengeluarkan pedang Bloody Ashura nya dan menahan serangan itu.