
" Oh, begitu. Kau berniat untuk menjadi penguasa yang paling kuat. Ku beri tau, kau dan bangsamu tak akan pernah menjadi seorang penguasa. Jangan bermimpi!!!", Ucap Xiao An. Xiao An sangat sibuk mencari cari informasi dari wanita rubah itu. Sedangkan Xiao Yu dari tadi hanya menyimak pembicaraan mereka dengan santainya, sudah seperti menyaksikan sebuah drama di televisi.
" Kapan kau selesai mencari informasi darinya?, Sebentar lagi, pertandingan ahli senjata akan segera dimulai. Apa kau mau menonton ?", Ucap Xiao Yu.
" Oh, ya benar juga. Sebentar", ucap Xiao An. Lalu dia pun mengunci ruangan itu menggunakan formasi pengunci ruang. Wanita itu tak akan pernah bisa keluar bahkan menggunakan sebagian besar kekuatannya.
" Selesai. Ayo!!", Ucap Xiao An.
" Bagus!!, Dengan begitu, dia tidak bisa keluar", ucap Xiao Yu.
Sepanjang jalan Xiao Yu terus mengoceh menanyakan informasi yang Xiao An dapatkan dari wanita rubah itu.
Setelah sampai, kakek Luo terlihat sangat terkejut atas kedekatan Xiao An dan Xiao Yu. Dia langsung menemui mereka berdua.
" Eh, kakek. Ada apa kek?, Apa kakek mau menonton pertandingan ahli senjata juga?", Ucap Xiao An. Kakek Luo tidak menghiraukan pertanyaan Xiao An. Dia menatap Xiao Yu dengan intens.
" Kakek?", Ucap Xiao An.
" I..ini... Apa dia kakakmu?", Ucap kakek Luo sembari menyentuh wajah Xiao Yu.
" Iya, kek. Dia Xiao Yu, kakakku", ucap Xiao An. Lalu kakek Luo pun langsung memeluknya. Sedangkan Xiao Yu masih merasa bingung.
" Syukurlah kalian akhirnya bertemu. Kakek sudah sangat menantikan hal ini. Kakek selalu merasa was was di saat kakek pergi ke Akademi dan kau hanya di rumah dengan pelayan setia mu ditindas seenaknya. Disaat saat seperti itu, kakek selalu teringat dengan kakakmu. Jika saja saat itu kakakmu ada, pasti dia akan menjagamu", ucap kakek Luo lirih.
Xiao yu menatap Xiao An. Dia tampak sangat menyesal, tapi tak ada yang harus disesali karena itu sudah terjadi.
" Ah, tidak apa kakek. Aku baik baik saja. Buktinya aku masih hidup sampai sekarang. Suatu saat nanti, aku pasti akan membalas mereka, kalian tenang saja", ucap Xiao An dengan santainya.
" Sekarang, kakak sudah ada bersamamu. Jika ada yang mengganggumu, katakan saja siapa orangnya. Kakak akan habisi orang itu", ucap Xiao Yu dengan lantangnya.
" Sudah ku bilang tidak apa apa kak. Saat ini aku sedang memikirkan kejadian yang menimpa ibu", ucap Xiao An.
" Aku akan memhabisi mereka sampai akar akarnya", ucap Xiao Yu.
" Kalian jangan gegabah. Mereka tak semudah yang kita pikirkan. Mereka orang orang licik dapat melakukan apa saja di luar perkiraan kita. Kalian fokus saja kepada kultivasi kalian, jika kalian sudah sangat kuat, habisi mereka", ucap kakek Luo.
" Bukan kalian saja yang geram dan marah karena kejadian itu. Kakek juga sebagai seorang mertua, pastinya kakek merasa gagal. Apalagi, kakek sudah menganggapnya seperti anak kakek sendiri. Maaf untuk ayah kalian. Dia sangat keras kepala atas pilihannya. Kakek merasa tak becus mendidik anak, hingga ayah kalian menjadi orang yang seperti itu. Maafkan kakek", ucap kakek Luo.
" Tidak apa apa kek. Ini sudah terjadi dan tak bisa di ulang lagi", ucap mereka berdua.
" Oh ya, kakek, apa tidak ada yang mengikuti pertandingan ini dari akademi kita ?", Ucap Xiao An.
" Haaaaah, tidak ada guru atau pun tetua yang dapat membuat senjata. Jadi, di akademi kita tidak ada ahli senjata", ucap kakek Luo. Dia tampak sedikit kecewa. Padahal Akademi Pedang Surgawi adalah salah satu akademi terbesar. Namun, tidak memiliki seorang ahli senjata.
Xiao An terlihat sangat bersemangat. Dia meregangkan tangannya sembari berkata,
" Biar aku saja kek. Aku juga bisa membuat senjata", ucap Xiao An.
" Apa benar kau bisa membuat senjata?", Ucap kakek Luo dan Xiao Yu secara bersamaan.
" Ya, aku bisa membuat senjata apapun. Kakek pernah melihat pedang Yin Yang ku kan ? Nah, itu adalah senjata yang ku buat pertama kali", ucap Xiao An dengan percaya diri. Kakek Luo tampak terkejut, berbeda dengan Xiao Yu yang tampak kebingungan karena tak tau pedang mana yang dimaksud Xiao An.
" Jika memang kau ingin mengikuti pertandingan ini, pergilah!! Kakek akan mendukungmu. Bagaimana pun hasilnya, kau sudah berusaha. Tidak apa jika kau kalah", ucap kakek Luo dengan senyuman hangat yang sangat jarang dia tunjukkan.
" Kakak juga mendukungmu, semangat!!!", Ucap Xiao Yu. Lalu Xiao An pun pergi ke arah panitia untuk mendaftarkan dirinya.
" Oh, akhirnya ada juga ahli senjata dari Akademi itu. Padahal sudah lama tidak ada ahli senjata dari Akademi Pedang Surgawi. Ku harap kau akan bekerja keras", ucap panitia itu.
" Aku pasti akan bekerja keras", ucap Xiao An dengan lantang. Panitia itu tersenyum mendengar jawaban Xiao An.
" Baiklah, kau pergi ke arena dan tunggu di sana. Sebentar lagi pertandingan akan dimulai", ucap panitia itu. Lalu Xiao An pun pergi setelah mendengar instruksi panitia itu.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya pertandingan pun di mulai. Para peserta sangat sibuk meleburkan material material yang akan mereka gabungkan menjadi senjata yang sangat hebat.
Disamping itu, Xiao An masih menghitung perbandingan material material. Banyak orang yang meragukan Xiao An, begitu pun dengan panitia itu.
Xiao An melakukan itu bukan tanpa sebab, karena Xiao An ingin senjatanya kuat secara fisik dan juga spiritual atau kekuatannya. Selain itu, dia ingin membuat pedang yang menjadi kesukaannya ketika berlatih dengan sang ayah di dunia asalnya.
Sebuah pedang katana yang mengkilat tanpa karat, panjang dan tajam, sangat mudah menggores jika bersentuhan. Bahkan dulu Xiao An sering bermimpi untuk menjadi seorang pendekar samurai.

Katana milik Xiao An ketika di dunia asalnya
Sebenarnya, Xiao An sedikit tidak suka dengan warna pink yang ada di pegangan dan juga sarung nya. Tapi, mau bagaimana lagi, itu pemberian dari ayahnya. Karena ayahnya sangat jarang menghabiskan waktu di rumah dengan Xiao An, oleh karena itu, hanya sedikit yang di ketahui tentang Xiao An oleh ayahnya. Xiao An sedikit kecewa, tapi dia berusaha untuk tidak menghiraukan warnanya.
Kakek Luo dan Xiao Yu memperhatikan Xiao An sejak dia meninggalkan mereka berdua. Tampak keduanya sangat serius dan penasaran dengan apa yang Xiao An buat.
Peserta lain sudah mulai membentuk senjata mereka sendiri. Ada yang membuat kapak, pedang, jarum, belati dan lain lain.
Xiao An baru akan meleburkan material material nya.
' dari pada menggunakan api biasa, lebih mudah dan cepat menggunakan elemen api milikku', batin Xiao An.
Lalu Xiao An pun mengeluarkan api yang cukup panas untuk meleburkan material itu. Para penonton sedikit bingung dengan apa yang Xiao An lakukan, namun mereka berpikir itu adalah hal yang dapat dilakukan seorang ahli senjata dengan kultivasi yang memiliki elemen api. Berbeda dengan ahli senjata yang tidak mempunyai elemen api atau bukan seorang kultivator. Mereka hanya bisa menggunakan api biasa yang cukup merepotkan untuk mengatur suhu.
Suara palu yang di ketukkan ke material material yang hampir jadi itu menggema di arena. Menciptakan suara bising namun teratur.
Saat itu juga, Xiao An pun mulai menempa senjatanya menggunakan palu kesukaannya yang sudah sejak awal dia gunakan untuk membuat senjata. Palu itu bisa dikatakan sangat cantik dengan ukiran di pegangannya. Dalam menggunakannya pun membuat sang penempa merasa sangat mudah.
Dengan sekali pukul akan membuat besi atau baja setebal apapun menjadi tipis. Yang di katakan tipis ini, tipis yang pas untuk setiap senjata terutama pedang. Apalagi katana yang memang harus terus di lipat 8 kali sampai 16 kali dalam pembuatannya.
Xiao An sangat fokus membuat senjatanya. Tinggal beberapa langkah lagi, kemudian selesai. Para peserta lain sudah banyak yang menyelesaikan senjatanya. Hanya tertinggal 1/4 peserta lagi yang masih membuat senjata, termasuk Xiao An.
" Kira kira, apa yang Xiao An buat?", Ucap kakek Luo.
" Entahlah kakek, aku tidak tau. itu terlihat seperti pedang, tapi sangat panjang. Aku tak pernah melihat senjata seperti itu", ucap Xiao Yu.
" Ya, kau benar. Bahkan pembuatannya pun membutuhkan banyak waktu", ucap kakek Luo.
"Eh, Sepertinya Xiao An telah selesai membuat senjatanya", ucap Xiao Yu.
Xiao An telah menyelesaikan pembuatan senjata itu. Dia tampak sedikit kelelahan.
' tak ku sangka akan membutuhkan banyak tenaga untuk membuatnya. Untung saja aku pernah melihat proses pembuatannya. Jika tidak, mungkin aku hanya akan membuat pedang biasa seperti sebelumnya', batin Xiao An.
Para peserta lain pun sudah menyelesaikan senjatanya. Saat itu, panitia segera memberikan instruksi kepada seluruh peserta.
" Selamat untuk kalian! Sudah membuat senjata yang hebat dan cantik. Sekarang, tolong kalian berbaris di sebelah sana dengan membawa senjata yang kalian buat", ucap panitia sembari menunjukkan arahnya. Lalu mereka pun berbondong bondong berbaris dengan membawa senjata di tempat yang di sebutkan oleh panitia.