Sheila & Rey

Sheila & Rey
Hamil



Dengan sedikit memaksa Akhirnya Rey berhasil membawa istrinya ke dokter, dan saat ini mereka duduk mengantri menunggu giliran untuk masuk.


"Aku enggak apa-apa mas!" ucap Icha menolak, dia takut jika apa yang di inginkan Ray belum juga terkabulkan.


karena sejak tadi Ray terus membicarakan tentang kemungkinan dia hamil.


"Mas, gimana jika hasilnya tidak seperti yang kamu pikirkan?" tanya Icha


"Ya tidak apa-apa, kita bisa mencobanya lagi, masih banyak waktu sayang, kau tenanglah," ucapnya mengusap-ngusap rambut sang istri. Padahal di dalam hatinya saat ini Ray sangat menginginkan apa yang dia ucapkan itu benar, Icha hamil anaknya.


"Nisa.." panggil perawat


Mereka berdua berjalan masuk ke dalam, "Silahkan duduk," ucap dokter wanita yang sudah paruh baya.


"Ada keluhan apa Bu?" tanyanya ramah.


"Istrinya pusing dan mual dok?" sahut Ray cepat, Icha hanya menatap bingung padanya, di dalam hatinya gadis itu sangat takut mengecewakan suaminya.


"Ok, mari saya periksa, ibu silahkan naik keatas ranjang, " perintahnya


"Oh ya, kapan terakhir kali ini menstruasi?" tanya dokter lagi.


Icha terdiam, dia lupa kapan terakhir kali, "saya kurang tau pasti dok, tapi sejak kami menikah saya belum juga menstruasi," sahutnya jujur.


Dokter tersenyum simpul, kemudian dia mulai memeriksa Icha, "Ibu bisa bangun," ucapnya lagi.


"Suster, bantu ibu ini menampung air seninya," kemudian dengan cekatan suster memberikan wadah penampung air seni dan juga alat tes kehamilan, Icha pun berlalu ke kamar mandi.


"Istri saya hamil dok?" tanya Ray dengan penuh harap.


"Kemungkinan besar iya, tapi kita harus memastikan nya dulu," sahut dokter bername tag Listy itu.


Icha keluar dengan membawa alat tes kehamilannya dengan wajah bingung, "Bagaimana Bu?" tanya dokter Listy


"Aku tidak tau dokter, kenapa hasilnya seperti ini?" tanya Icha menyerahkan nya kepada dokter tersebut, Dokter Listy menerimanya dan tersemyum "mari ibu, silahkan kembali berbaring di tempat tadi,"


Lagi Icha berbaring, kemudian dokter memerintahkan asistennya untuk mengoleskan gel ke perut Icha dan kemudian dokter mulai memeriksa, pelan dan hati-hati. Hingga dia tersenyum, "nah ini calon bayi kalian, selamat istri anda hamil,"


"Hamil?" ucap Icha dan Rey bersamaan


"Iya, dan kamu bisa lihat bukan? besarnya masih sebiji kacang hijau,"


"Terimakasih kasih ya Allah," ucap Rey bahagia


Mereka berdua tak mampu menutupi rasa bahagianya, Rey dengan penuh semangat memeluk istrinya pulang kerumah.


"Sayang aku sangat bahagia," ucap Ray mengecup kening istrinya.


"Aku juga mas, enggak yangka kota langsung diberi rejeki," ucap Icha


"Mulai sekarang kamu enggak boleh mengerjakan apapun, aku akan mencari pembantu yang akan membereskan rumah,"


"Tapi mas.."


"Enggak ada tapi-tapian sayang, kamu harus dengar nasehat dokter, banyak istirahat. Aku enggak mau terjadi apa-apa pada mu dan juga bayi kita." ucapnya


"Kamu benar, tapi bukan berarti aku hanya duduk diam aja, aku akan bosan mas." protes Icha


"Kau boleh ke kafe, tapi ingat tidak boleh mengerjakan apapun."


"Iya, iya..." sahut Icha sewot


"Oh ya, kamu pengen apa?* tanya Ray antusias


"Enggak ada."


"Kok enggak ada?"


"Ya memang enggak ada, mau gimana lagi,"


"Kok aneh?" ucap Ray


"Aneh gimana?" tanya Icha heran


"Biasanya kan ibu hamil suka minta yang aneh-aneh, suka makan apa gitu,"


"Oh maksud kamu ngidam" ucap Icha Tertawa lucu melihat wajah suaminya


"Nah iya itu, katakan aku pasti akan memenuhinya."


"Apa ya...enggak ada tuh, aku lagi nggak pengen apa-apa, maunya cuma di peluk kamu." ucap Icha malu lalu memeluk suaminya. Dia membenamkan kepalanya di dada Ray, rasanya sangat nyaman sekali.


Ray tersemyum lucu, mungkin anaknya memang lagi pengen bermanja dengannya.


Kebahagiaan tengah menyelimuti pasangan muda ini, cinta mereka yang begitu kuat mampu bertahan dari berbagai macam rintangan. Cinta Ray yang begitu besar pada Icha membuatnya mampu berubah menjadi lebih baik lagi.


"Tamat"


Sampai ketemu di Sheila and Rey season 2.