
Setelah mengantarkan pesanan Rey, Sheila masih berdiri di belakang nya.
"Ok, hari ini tugasmu hanya sampai disini, tapi ingat besok pagi jangan lupa dengan tugasmu??" ucap Rey tanpa melihat Sheila.
Tanpa menjadi Sheila berjalan meninggalkan Rey and the gank. Para pengunjung yang ada d kantin hanya memandang nya saja.
"Emang besok mau ngapain Rey?" tanya Beni penasaran.
"Kepo!" jawab Rey cuek.
Beni hanya bisa merengut mendengar jawaban Rey. Roni terkekeh melihat tingkah kedua temannya.
Sheila berjalan ke depan gerbang dan menunggu angkot. Dia memilih pulang ke rumah sekarang. Tubuh sakit semua. Hari ini dia benar benar merasa sangat sedih.
Sampai di rumah Sheila langsung mandi dan makan siang. Diliriknya jam sudah menunjukkan pukul setengah dua.
Masih tersisa satu jam setengah lagu dari waktunya masuk kerja, Sheila memilih istirahat dan tidur.
Sheila tertidur dengan pulas.
Rey berjalan masuk ke dalam ruangannya. Sejak dia tahu Sheila bekerja d cafee miliknya, Rey jadi lebih sering menghabiskan waktunya di kafe.
Jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Rey memangil pelayan.
"Tolong buatkan kopi, dan suruh Icha yang mengantarkannya."
"Baik bos, tapi maaf Icha nggak masuk hari ini." jawab Aldi salah seorang pelayan disana.
"Tidak masuk?? Apa dia ijin atau free?? tanya Rey heran.
"Maaf bos, daya kurang tahu." jawab Aldi lagi.
"Ya sudah, kamu boleh pergi."
Aldi pergi meninggalkan ruangan Rey . Rey menelpon pak Budi.
"Pak, apa Icha tidak masuk hari ini?" tanya Rey to the point begitu panggilan diangkat.
"Ya bos."
"Apa alasan nya, apa dia free?" tany Rey lagi.
"Maaf, tapi sampai saat ini dia belum memberi kabar. Dan saat ini dia tidak free." jawab pak Budi ragu ragu.
"Ok, terimakasih!" jawab Rey langsung mematikan panggilan nya.
Kemana dia? Apa dia sakit? bathin Rey.
Aku akan memastikan nya. Dari pada aku penasaran. Tapi kenapa aku harus repot repot mencarinya. Siapa dia??? Ah aku telpon saja.
dert....dert...
beberapa kali terdengar nada dering tapi tak diangkat. Rey jadi semakin penasaran. Kemana Icha pergi.
Setelah berpikir beberapa menit, Rey memilih untuk melihat Sheila di rumahnya. dia akan mengunjungi rumah sheila.
Sheila baru terbangun dari tidurnya jam empat sore. Dilihatnya jam di dinding. dia kaget. Saat akan bangun dia merasa sangat lemas. Tubuhnya terasa sakit semua. Sheila kembali berbaring.
Kenapa kau ini. Semua badanku sakit. Pasti akibat dipukulin Selina tadi. Haduh..gimana ini? Pasti Rey akan marah karena aku terlambat bekerja. Tapi aku nggak kuat untuk bangun. lemas sekali. Aku juga sedikit pusing. Pasti mati Rey menghukum aku.
Aku ijin saja dengan pak Budi.
Sheila mengambil handponenya dan ingin menghubungi pak Budi.
dilihatnya banyak panggilan tak terjawab dari bos tampan.
Tuh kan...pasti dia sangat marah karena aku nggak masuk. Di tambah tidak mengangkat telponnya. Matilah aku.... bathin Sheila.
Sheila menelpon balik Rey setelah mengumpulkan sedikit keberanian.
derrrt..... derrrrrt
Tapi nggak diangkat juga. Dua kali tetap tidak diangkat. Sheila menyerah.
" Terserah lah dianmau marah atau apa". ucap sheila.
Sheila kembali berbaring.
*****
Rey sudah mengendarai mobilnya menuju rumah Sheila. Di depan rumah dia berhenti dan melihat ke arah rumah. Sepi itulah kesan yang dia lihat.
"Apa dia ada di dalam atau mungkin juga dia pergi ya???" ucap Rey dalam hati.
Dia ingin turun tapi baru membuka pintu dia berhenti.
"Mengapa aku smapai seheboh ini mencarinya. Bisa besar kepala dia nanti.?" pikirnya.
Rey membatalkan niatnya. Rey kembali melajukan mobilnya meninggalkan rumah Sheila.
Rey melajukan mobilnya pulang kerumah. Rey masuk dan berjalan masuk ke kamarnya.
Sampai kamar Rey mandi dan mengganti pakaiannya. Dia sudah terlihat rapi dengan kemeja maroon dan celana bahan.
walaupun sering ke tempat seperti itu tapi Rey tidak begitu suka mabuk apalagi bermain perempuan. dia hanya membuang rasa jenuhnya.
Rey mengambil ponselnya. ponselnya tertinggal di dalam mobil.
Dilihatnya ada panggilan tak terjawab dari sicupu nama yang dia buat untuk Sheila.
Diambilnya ponselnya dan bersiap menelpon balik Sheila.
"Ya..hallo!" jawab Icha dengan suara lemah.
"Kau dimana? Kenapa tidak masuk bekerja. Apa kau ingin aku memecat mu karena kau malas bekerja!" ucap Rey cepat.
Sheila yang sedang pusing bertambah pusing mendengar Omelan Rey.
"Maaf!" jawab Sheila.
Rey kaget mendengar suara Sheila.
"Kau sakit?" tanya nya lagi.
"Aku tidak apa apa, hanya sedikit lelah. maaf aku tidak bisa masuk bekerja."
Rey langsung mematikan telponnya. Dia menghidupkan mobil dan menancap gas menuju rumah Sheila.
Entah kenapa dia khawatir dengan keadaan Sheila.
Kenapa tadi aku tidak langsung masuk saja ke rumah nya? ucapnya menyesal.
sebelum sampai kesana. Rey singgah dulu membeli makanan buat Sheila. Dia tahu pasti Sheila belum makan.
Sepuluh.mwnit kemudian, Rey sudah sampai didepan rumah Icha.
tok...tok...tok...
Rey mengetik pintu. Sheila berjalan keluar membuka pintu dan terkejut melihat reyy sudah berdiri di depan pintu nya.
Tanpa bicara Rey menerobis masuk kedalam rumah nya.
Rey langsung duduk di kursi dalam ruang tamu Icha. Bisa dikatakan bukan ruang tamu, karena hanya ada kursi plastik dan meja saja. Bukan sofa.
Rey memperhatikan seluruh ruangan. Sempit kecil dan sangat tidak layak. bathinnya.
Sheila duduk di krlursi depan Rey.
"Ada apa hingga bapak datang kesini?" tanya Icha.
Rey mengerutkan dahinya. " Bapak?" ulang Rey.
"Ya, Bapak kan bos saya. Dan ini bukan di kampus jadi saya harus profesional." Jawaba Icha.
Rey tersenyum tipis..Bahkan Icha tidak sampai melihatnya.
"Aku kesini mau melihat kau beneran sakit atau hanya pura pura saja. Karena aku tidak mau rugi menggaji orang yang malas. " Ucap Rey sarkastik.
Sheila kesal mendengar jawaban Rey.
"Bapak sudah lihat, sekarang silahkan bapak pergi. Lgipula tidak baik kita berduaan di sini?"
"Kamu berani mengusir saya." ucap Rey sambil melotot.
"Bukan mengusir pak, saya mengatakan yang sebenarnya. Tidak baik kita berdua disini." ucap Sheila.
"Kamu lupa siapa saya? saya bos kamu, majikan kamu?" ucap Rey dengan penekanan di kata majikan.
Sheila hanya mendesah pasrah.
"Trus, Bapak kau apa?" tanya Sheila ketus.
"Saya belum makan malam, saya mau kamu maska untuk saya."
"Tapi pak, saya sedang sakit. Besok saja ya. Besok pasti saya masakin!" ucap Sheila lagi.
"Nih, saya bawa makan. Temani saya makan sekarang. Tapi ingat besok kamu yang harus masak buat saya." Rey menyerahkan kantong plastik berisi makanan yang di bawanya tadi.
Sheila mengambilnya dan mengambil piring di daur. Kemudian dia menyiapkan makan untuk Rey dan dirinya.
Mereka mulai makan bersama.
" Kau harus banyak makan. Biar memiliki tenaga untuk melawan Selina." ucap rey.
Sheila menarik nafas panjang.
"Mereka main keroyok. Kalau satu lawan satu aku pasti menang." jawab Sheila membela diri.
Setelah selesai makan, minum obat ini. Rey menyerahkan obat yang di belinya tadi di apotek.
Rey menyudahi makannya. dan berdiri. Dia berjalan ke arah pintu dan keluar begitu sja tanpa bicara apapun.
Sheila geleng kepala dibuatnya. Eh...tapi dia perhatian juga. Dia mau mengantarkan makanan dan obat buat ku.
Sheila tersenyum sendiri.