Sheila & Rey

Sheila & Rey
Menjemput



Rey tidak menyerah. Dia sudah memutuskan bahwa dia akan mengejar Icha. Dia yakin icha juga memiliki perasaan yang sama dengannya.


Pagi ini dengan penuh percaya diri, Rey menjemput Icha ke rumahnya. Rey tidak turun hanya menunggu di mobil. Dilihatnya Icha sudah keluar rumah. Tampilannya sudah berbeda, tidak culun lagi. Tapi masih tetap menggunakan kacamata tebalnya.


Icha berjalan keluar dari halaman rumah. Dari jauh dia melihat mobil Rey yang terparkir. "Ngapain pagi pagi gini, sudah ada disini!" bathinnya.


Icha pura pura tidak melihat. Dia terus berjalan.


"Mau kemana kau. Apa kau tidak melihatku, sejak tadi aku menunggumu!" Ucap Rey.


Icha menoleh dan pura pura terkejut. "Oh, kamu disini, sejak kapan, kok aku nggak lihat ya?" ucap Icha.


"Aku tahu kau pura pura sudah lah. Cepat ayo naik. Kita sudah hampir terlambat." Rey membuka pintu mobilnya. Icha masuk ke dalam dan duduk. Rey bergerak mendekat, Icha waspada dia pikir Rey akan menciumnya. Rey memasang sabuk pengaman Icha dan kembali ke posisinya. Icha malu sendiri karena mengira Rey akan menciumnya.


Pagi ini jalanan tidak begitu ramai. Mereka dengan cepat bisa sampai di kampus. Di depan gerbang Icha meminta Rey untuk berhenti.


"Rey berhenti..!" teriak Icha. Rey mengerem mendadak karena kaget. "Ada apa?" tanya Rey.


"Aku turun disini saja!" ucap Icha cepat. tangannya sudah bergerakembuka seatbelt nya.


"Tunggu, kenapa kau turun disini?" tanya Rey heran.


Icha berdecak. "Aku nggak mau jadi sorotan dan bully an, para fans mu. Aku masih sayang nyawaku Rey." ucap Icha.


"Itu cuma alasanmu saja, ya kan. Kau malu jalan denganku. Atau.."


"Rey, aku cuma cari aman. Apa kamu tidak ingat kejadian kemaren waktu aku di kurung di toilet." ucap Icha memotong ucapan Rey.


Rey mendesah kecewa.


****


"Pagi Cha!" sapa Dimas.


"Eh..Dimas." jawab Icha agak canggung. Dia bingung harus bagaimana saat ketemu Dimas setelah penolakannya kemaren.


Dimas tahu Icha bingung. "Cha, loe nggak usah canggung. Aku nggak marah, aku memang suka padamu tapi jika kau tidak menyukaiku, aku mau bilang apa. Perasaan nggak bisa di paksakan. Tapi, kita masih bisa berteman kan?" tanya Dimas.


Icha memandang manik mata Dimas. Tak ada kebohongan disana. Icha mengangguk."Teman" ucapnya dan mengangkat tangannya menjabat tangan Dimas. Mereka berdua tertawa.


Rey masuk dan tak sengaja melihat Icha mengobrol dengan Dimas. Bahkan dia melihat Icha yang tertawa lepas. Rey mengepalkan tangannya. "Tadi saat bersama ku dia diam saja, tapi saat bersama dengan Dimas dia bisa tertawa lepas. Awas saja nanti." ucap Rey berjalan menjauh dari sana.


Icha masuk ke dalam kelasnya dan memulai pelajarannya. Sementara Rey tidak jadi masuk karena mood nya rusak melihat Icha dan Dimas tadi. Rey berjalan ke rooftop. Dia duduk sendiri disana.


Rey merogoh sakunya dan mengambil ponselnya.


Tring...Rey mengirim pesan pada Icha.


"Pulang nanti temui aku di rooftop"


Rey melihat ponselnya karena belum juga ada jawaban dari Icha. Dilihatnya masih centang satu. "Handpone nya pasti dimatikan," pikir Rey. Dia masih duduk diam menunggu.


Jangan lupa like and vote nya ya