Sheila & Rey

Sheila & Rey
Mencari icha



Rey turun dan menemui mamanya.


"Loh, Icha mana ma?" tanya Rey. dia melirik ke kiri dan kanan mencari Icha.


Dia sudah pulang, Mama sudah mencegahnya tapi dia tetap memaksa ingin pulang." jawab mama Rey.


"Apa yang Mama katakan padanya?" tanya Rey dengan tatapan tajam. Dia mengenal betul Icha dan juga mamanya. Pasti mamanya telah mengatakan sesuatu yang menyakiti hati Icha.


"Mama tidak mengatakan apapun, mungkin dia hanya merasa minder dan tidak cocok berada di lingkungan seperti kita." jawab mama Rey enteng.


"Dengar ma, aku tahu mama pasti telah menghina Icha. Icha memang miskin, tapi aku mencintai nya, dia berbeda dengan kebanyakan gadis yang mengejar ngejar Rey. Icha mandiri dan pekerja keras. Tak sedikitpun dia mau menerima bantuan dari Rey, dia istimewa , Ma."


"Dia seperti itu karena belum mendapatkanmu, jika sudah, pasti akan ketahuan belangnya. Dia juga sama dengan wanita diluaran sana yang rela.melakukan semuanya demi uang." ucap mama Rey.


"Ma, mama merestui atau Tidak, Rey tetap akan mencintai Icha. Dan Rey maunya hanya Icha." ucap Rey bejalan keluar dan mengambil mobilnya mengejar Icha.


"Aku tidak akan membiarkan wanita itu menguasai anakku. Aku akan melakukan apapun untuk memisahkan mereka berdua. Aku yakin dia hanya menginginkan harta keluarga ku. Cih..Harga diri, jaman sekarang tidak ada yang tidak bisa dibeli dengan uang. Termasuk cinta." ucap mama Rey.


Rey ngebut mengejar Icha. Dia yakin Icha pasti merasa sangat sedih saat ini. Dia kecewa dengan mamanya.


Rey pikir mamanya telah berubah dan mau menilai orang lain dari kepribadiannya tapi ternyata mamanya Sama saja menilai orang dari harta kekayaannya. Membuat Rey merasa muak.


Rey telah sampai di kost Icha. Dilihatnya pintunya masih tertutup rapat, "dia pasti belum pulang" bathin Rey.


Rey menunggu Icha hingga beberapa menit kemudian, namun Icha tak kunjung pulang ke rumahnya. Membuat Rey merasa prustasi.


Rey mengambil ponselnya dan menghubungi Icha. Namun Icha tidak bisa dihubungi. Nomor yang dituju sedang tidak aktif. Rey mencobanya beberapa kali tetap saja jawabannya sama. Rey kesal dan membanting ponselnya ke tempat duduk.


Sementara Icha tengah duduk di kursi di taman kota. Dia enggan pulang ke rumah. Dia tahu pasti nanti Rey akan mencarinya kesana.


Icha masih duduk termenung , airmatanya lolos begitu saja tanpa bisa dia bendung. Kata kata pedas yang diucapkan mama Rey masih terdengar sangat jelas di telinganya. Seperti nyanyian merdu yang takmjuga mau hilang.


"Apa salahku, apa karena aku miskin semua orang bisa menghina ku seenaknya, aku juga punya harga diri, aku tulus mencintai Rey, aku mencintai nya." ucap Icha terus menangis.


Rey mencari Icha ke kafe. Namun Icha juga tidak ada disana. Dia melajukan mobilnya menyusuri jalan ibukota. Dia berpikir dimana biasanya icha menghabiskan waktunya jika sedang sedih, Rey berhenti di pinggiran taman kota. Dilihatnya sekeliling, dia menyusuri jalanan setapak disana. Tak berapa lama Rey melihat Icha duduk termenung sendiri. Senyum mengembang dibibir Rey.


"akhirnya aku menemukanmu!" ucap Rey pelan. Dengan langkah cepat Rey mendekati Icha.


Icha yang sedang melamun tak mengetahui jika ada seseorang dibelakangnya sedang memperhatikan dirinya.


Rey duduk disamping Icha. Dia menarik kepala Icha dan merebahkannya dipundaknya. Icha spontan menoleh dan mendapati Rey yang duduk disampingnya. dia kembali merebahkan kepalanya di pundak Rey.


"Kenapa. kau pergi?" tanya Rey pelan.