
Rey melepaskan pelukannya. Dia masih memandang wajah imut Icha yang merah merona. Rey semakin gemas melihatnya. menurut Icha sangat cantik jika sedang malu malu.
"Gimana aku mau pulang? mana pakaianku?" tanya Icha.
"Itu pakailah." ucap Rey menunjukkan pakaian Icha yang terletak di kursi kecil. Icha langsung mengambilnya dan masuk ke dalam kamar mandi.
Icha sudah berpakaian rapi. Dia sudah bersiap untuk pulang. "Kamu cantik sekali!" kembali Rey memeluknya dari belakang.
Rey lepaskan. Ayo cepat antarkan aku pulang, ini sudah siang dan aku harus ke kampus." ucap Icha mencoba melepaskan pelukan Rey.
"Hari ini, tidak usah ke kampus. Kita ke rumah aku saja. Aku ingin mengenalkan mu pada mama?" ucap Rey masih memeluk Icha.
"Lain kali saja ya ke rumah kamu. Aku belum siap. Lagipula aku mau kita jalani hubungan ini dulu. Aku tidak mau terburu buru." jawab Icha.
Rey mendesah kecewa. "Ya sudah, ayo!" rey menggandeng tangan Icha keluar dari apartemen nya.
Icha dan Rey sedang berada di dalam lift. Rey masih menggandeng tangan Icha. Banyak orang yang memperhatikan mereka. "Rey..lepas. Kita dilihatin orang" ucap Icha pelan.
"Biarkan saja, biar mereka tahu kamu itu milikku. Tidak ada yang boleh menggodamu lagi." ucap Rey terus berjalan.
Icha mendesah pasrah. Ternyata ini sifat asli Rey, Posesif. Icha malas untuk mendebatnya lagi. Icha berjalan mengikuti Rey.
Rey m lqjukan mobilnya mwmb lah jalanan m uju ke rumah Icha.
"Sayang....kita sarapan dulu!" ucap Rey, Dia langsung membelokkkan mobilnya ke sebuah warung kecil di pinggir jalan.
"Tidak apa apa kan kita makan disini!" tanya Rey pada Icha.
"Tidak," jawab Icha cepat. Mereka turun dari mobil dan masuk ke warung tersebut.
Rey tersenyum."Seperti yang mamang lihat. Wah makin maju warungnya ya mas." ucap Rey.
"Alhamdulillah mas, berkat mas Rey. ngomong ngomong mau pesan apa mas?"
"Bubur ayam spesial dua ya mang. Ma teh manis hangat."
"Ok, bentar ya mas." ucap mang Ucup si pemilik warung. Meninggalkan Rey dan Icha.
"kamu kenal baik dengan pemiliknya, Kamu sering makan disini?" tanya Icha memperhatikan warung tersebut.
"Iya, emangnya kenapa? Kamu malu aku ajakin makan disini." tanya Rey lagi.
"Enggak. Kalau aku dah biasa tapi aku heran aja jika kamu mau makan di warung pinggir jalan kayak gini." jawab Icha membuat Rey tersenyum lucu.
"Aku nggak memandang mau makan dimana, yang penting enak dan bersih. Disini bubur ayamnya sangat enak dan paling enak dari semua tempat yang pernah aku datangi." jawab Rey.
"Aku udah tidak sabar untuk mencicipinya." Ucap Icha antusias.
Mang Ucup datang membawa dua porsi bubur ayam dan dua gelas teh manis hangat yang sangat menggugah selera.
"Terimakasih mang." ucap Icha ramah.
"Silahkan dinikmati neng dan mas Rey." ucap mang Ucup tak kalah ramahnya.
Rey langsung mengaduk bubur ayamnya. Begitu juga Icha. Dia sudah tidak sabar mencicipi nya. "Enak sekali", ucap Icha terus memasukkan bubur ayam ke dalam mulutnya.
Rey hanya tersenyum melihat tingkah Icha yang terlihat lucu dimatanya. Hanya dalam beberapa menit dua porsi bubur ayam sudah ludes tak bersisa. Rey memegang perutnya yang kekenyangan. Icha terkekeh melihat tingkah Rey.