Sheila & Rey

Sheila & Rey
Malu



Orangtua Icha tak langsung menerima lamaran Rey. Malam harinya ayahnya memanggil Icha. "Nak katakan dengan jelas, siapa sebenarnya kekasihmu itu, jangan berbohong kepada ayah"


Icha terdiam dan berpikir, namun akhirnya dia memilih untuk bicara jujur.


"Maafkan Icha yah, sebenarnya Rey masih memiliki orangtua, tapi mamanya tidak menyetujui hubungan kami dan mamanya mengusir Rey," .


Dan akhirnya Icha menceritakan semuanya, Rey hanya diam dan mendengarkan semua penuturan Icha. Lama ayahnya terdiam, berat untuknya melepaskan anak gadis kesayangannya. Menikah dengan Rey yang jelas jelas berbeda dengan mereka. Ketakutan masuk kedalam hatinya, bagaimana jika nanti Rey bosan dan memilih kembali kepada orangtuanya. Rey tak bisa hidup susah dengan segala keterbatasan berbeda dengan kehidupan mewahnya selama ini.


"Maafkan aku pak, tapi aku serius ingin menikah dengan Icha, aku mencintai Icha pak." ucap Rey


"Hidup berumah tangga tak hanya butuh cinta, nak. Banyak hal yang akan kalian hadapi, kau terbiasa dengan kehidupan mewah, apa kau bisa hidup susah tanpa uang orangtuamu, aku takut kau menyerah dan menelantarkan putriku,"


"Aku janji pak, aku akan berusaha membahagiakan Icha." kekeh Rey.


"Apa kau sudah siap dan yakin dengan keputusan mu?" bertanya kepada Icha.


"Aku yakin, yah. Aku percaya dengan Rey."


Ayah menghembuskan napas berat, sungguh sulit baginya menerima kenyataan ini. Walau calon menantunya kaya, namun justru itu dia menjadi khawatir tapi melihat kegigihan Rey dan keyakinan putrinya, mau tak mau ayah menyetujui nya.


"Baiklah, ayah setuju jika itu sudah menjadi keputusan mu, Nak. Dua hari lagi ayah akan menikahkan kalian."


"Terimakasih, yah" Icha memeluk ayahnya dengan rasa haru.


Rey pun bernapas lega. Lamarannya di terima dan dia akan segera resmi menjadi suami Icha.


Waktu berlalu dengan cepat, hingga tibalah saatnya hari pernikahan mereka. Acaranya cukup sederhana, hanya ijab kabul dan syukuran atau dalam bahasa kampungnya kenduri.


Dengan sekali tarikan napas, Rey resmi mengucapkan ijab kabul dan menjadikan Icha istrinya. Kini keduanya bisa bernapas lega. Hubungan mereka sudah halal.


Icha terlihat sangat cantik dengan gaun pengantin berwarna biru Wardah, gamis cantik beserta hijabnya. Begitu juga Rey terlihat sangat gagah dengan kemeja warna senada.


Setelah ijab kabul diadakan kenduri dan makan bersama.


Walau sederhana namun kesakralan tetap terasa, tak ada seorangpun dari pihak Rey disana. Pak lurah berperan sebagai pendamping pengantin pria, karena Rey datang sendiri. Rey sudah menceritakan semuanya, dia mengatakan ibunya ada di luar negeri, dan dia tidak memiliki keluarga lainnya.


Sempat terdengar bisik bisik tetangga mengenai pernikahan mereka, namun Icha dan keluarganya tidak ambil pusing. Biarlah mereka mau bicara apa, Allah yang maha tahu segalanya. Tak berniat meluruskan ataupun menyangkal. Semua akan berlalu seiring berjalannya waktu.


Keesokan harinya Rey meminta ijin membawa Icha kembali ke Jakarta. Mereka akan memulai hidup baru mereka. Mereka akan tinggal mandiri di rumah kecil yang tak jauh dari bengkel yang Rey miliki. Icha akan membantu Rey mengelola bengkel tersebut.


Dengan berat hati Icha meninggalkan kampung halamannya, derai air mata mengiringi kepergian nya. Ibunya hanya bisa menangis melihat anak gadisnya pergi. Berbagai wejangan dan nasehat sudah dia berikan, tak lupa dia terbaik semoga rumah tangga putrinya berjalan baik dan bahagia.


Menjelang malam akhirnya pasangan pengantin baru ini tiba di rumah kecil yang sudah di siapkan oleh Jimmy. Rey meminta Jimmy membelikan rumah untuknya yang letaknya tak jauh dari bengkel. Dan sia juga melarang Jimmy untuk datang ke desa. Rey takut, mata-mata mamanya akan mengikuti Jimmy dan akhirnya tahu dimana kampung halaman Icha. Rey takut mamanya akan mengusik keluarga kecil itu.


"Welcome my wife," ucap Rey membuka pintu.


Rumah yang indah dan bersih. Semua tertata rapi, perabotannya lengkap, dan baru. Icha merasa takjub dan tak percaya.


"Kapan kamu menyiapkan ini semua mas?" tanya Icha menatap bahagia Rey.


"Bukan aku, tapi Jimmy. Aku meminta bantuannya menyiapkan semua ini untuk mu,"


"Apa kamu suka?" tanya Rey yang sudah berada di hadapan Icha. Tangan nya menggenggam lembut tangan Icha.


"Aku suka, makasih mas. Aku bahagia sekali," Icha memeluk erat Rey.


"Aku akan ikut kemanapun kau pergi, ini terlalu indah mas. Aku sangat bahagia. Kau pasti menghabiskan banyak uang untuk ini mas"


"Tidak, aku hanya ingin istri dan anak anakku kelak merasa aman dan nyaman. Maaf karena hanya bisa membeli rumah yang kecil, tapi aku janji suatu saat nanti aku akan memberikanmu rumah yang besar."


"Shuuut!" Icha menutup bibir Rey dengan jari telunjuknya.


"Aku sudah cukup bahagia bisa menikah denganmu, aku tak butuh rumah yang mewah, asal kamu tetap di sampingku, aku sudah bahagia.*


"Makasih sayang," Rey membenamkan Icha ke dalam pelukannya.


"Sekarang kamu mandi dulu gih, jangan lupa dandan yang cantik. Mas nggak sabar, sayang!" bisik Rey.


"Apaan sih mas?" Icha tersipu malu, dia tahu arah pembicaraan Rey.


Rey memeluk pinggangnya "mas nggak sabar sayang, mas sudah lama menanti saat ini,"


Icha kembali menunduk malu.


"Mas mau pesan makanan dulu, ya. Kamarnya ada di lantai atas," Rey melepaskan pelukannya dan meraih ponselnya kemudian memesan makanan secara online. Icha langsung berlari menuju kamar dengan wajah memerah.