Sheila & Rey

Sheila & Rey
Terimakasih



Pagi menyapa. Cahaya matahari yang masuk lewat celah gorden menyilaukan mata Icha. Icha membuka matanya dan memperhatikan sekeliling. Dia mengucek ngucek kedua matanya. Mungkin dia salah lihat.


"Dimana aku, kenapa kamar ini terasa asing." Icha duduk dan kembali melihat sekeliling. "Kenapa ada Rey, dan dia tidur satu kamar denganku? jangan jangan...."


"Aaaaa.......... " Icha menjerit dengan sangat kencang. Rey terbangun mendengar suara Icha yang memekakkan gendang telinganya.


"Kenapa kau berteriak, Mengganggu tidurku saja!" ucap Rey, dia duduk dan menghadap ke Icha.


Icha melihat dirinya. "Dimana pakaianku, kenapa bajuku berubah, " Icha sudah merah padam membayangkan apa yang sudah terjadi padanya. Dia tidak menyangka Rey sebrengsek itu, Tega berbuat jahat padanya.


Icha bangkit dan membawa bantal, dia tidak memperdulikan jika dirinya tidak memakai apapun dibagikan bawahnya. dia hanya memakai baju kemeja Rey yang kebesaran. Icha mendekat dan memukuli Rey dengan bantalnya.


"Dasar ********, apa yang kau lakukan padaku. Kau jahat, Jahaaat, kau tega sekali padaku. Apa salahku Rey, kenapa kau berbuat seperti ini. kau jahat, aku benci kamu, benci, aku benci..." Icha terus memukuli Rey dan memakinya


.Dia meluapkan segala kekesalan dan kesedihannya.


Rey mencoba menangkap bantal.dan menenangkan Icha. Tapi Icha yang membabi buta membuat Rey kesulitan untuk menenangkannya. Rey hanya bisa mengelak dan menahan serangan Icha.


"Apa maksudmu! aku tidak melakukan papun." ucap Rey membela dirinya.


Akhirnya Rey bisa menenangkan Icha. Rey menangkap bantal.yang Icha gunakan dan membuangnya. Kemudian dia memeluk erat Icha. Icha tidak tinggal diam, Dia meronta dan memukuli Rey dengan tangannya.


"Diam!" bentak Rey menghentikan Icha.


"Dengar, aku tidak melakukan apapun padamu. Kau bisa lihat dan rasakan sendiri.


Apa kau lupa apa yang terjadi tadi malam." ucap Rey lagi dengan nada tinggi.


Icha terdiam, dia coba mengingat papa yang telah terjadi. Icha mulai mengingat dia pergi makan malam dengan Dimas, kemudian dia ketoilet, minum juice dan kwpalanya mendadak pusing. Tiba tiba raut wajah Icha berubah.


"Sudah ingat!" ucap Rey membuyarkan lamunan Icha.


"Bagaimana aku bisa bersamamu, kemarin kan aku pergi dengan Dimas." ucap icha pelan. Icha sedang berpikir keras.


"Kau tahu, aku menyelamatkanmu dari ******** itu. Dia sengaja menaruh obat ke dalam minumanmu. Jika aku terlambat sedikit saja. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padamu." ucap Rey dengan nada sedih di akhir kalimatnya.


"Apa benar Dimas seperti itu,!" Icha berucap sangat pelan tapi masih dapat didengar Rey. Emosi Rey kembali meluap."Kau pikir aku mengada ada? lebih baik ku biarkan saja Dimas membawamu ke hotel kemarin." ucap Rey ketus.


"Maaf!" ucap Icha. Dia menunduk sedih. Dia percaya pada Rey. Dia hanya tidak menyangka Dimas tega berniat jahat padanya. Icha ingat kemarin setelah meminum minuman itu dia tidak ingat apapun. Samar juga dia mengingat bayangan Rey memukul Dimas dan saat dia mencium Rey. Wajahnya berubah merona ., Icha menjadi malu sendiri.


Rey menarik nafas berat. Rey hendak bangkit, Tapi ucapan Icha menghentikan langkahnya."Bagaimana kau tahu aku pergi dengan Dimas, dan makan disana?" tanya Icha.


Rey merasa tenggorokan nya tercekat. Wajahnya berubah pucat. Bahkan untuk.menelan Saliva nya saja tidak bisa.


Rey kembali berjalan tanpa menjawab pertanyaan Icha. "Apa kau mengikuti ku?" lagi ucapan Icha telak kena ke dalam hati Rey. membuatnya kehabisan kata kata untuk menjawabnya.


Rey berbalik menghadap Icha. Kini mata mereka bertemu. Mereka saling pandang dalam diam. Akhirnya Rey mengakhiri nya dengan memandang kelain arah."Kau Tidak perlu tahu, bagaimana aku bisa menemukanmu, yang pasti lainkali kau harus berhati hati." ucap Rey.


"Kenapa kau menyelamatkan aku?" Icha kembali bertanya. Dan ini membuat Rey kehabisan kesabaran nya. Rey melangkah maju mendekati Icha. Rey kesal Icha terlalu banyak bertanya.


Icha mengangguk dengan gugup.Rey mencengkaram kedua bahunya dengan kuat. Icha sangat ketakutan.


"Ya kau benar, aku mengikutimu. Karena aku khawatir padamu. Aku cemburu kau pergi dengan cowok lain. Aku marah saat tahu dia ingin berbuat jahat padamu. Kau tanya alasannya kenapa. Karena aku mencintaimu, Puas!" ucap Rey dengan penuh emosi.


Rey sudah tidak dapat menahan diri nya lagi. pertanyaan Icha membuatnya mengungkapkan isi hatinya.


Icha masih diam mencerna ucapan Rey."Apa benar dia mencintai ku," ucapnya dalam hati.


Icha memandang wajah Rey dengan lama. Rey memilih menunduk. "Gantilah bajumu dan aku akan mengantarkan mu pulang." ucap Rey, kali ini suaranya sudah pelan..Dia sudah bisa meredam amarahnya.


Rey melepaskan cengkeramannya di bahu Icha. Dia berbalik dan berjalan menjauh. "Jika dia memang tidak memiliki perasaan yang sama denganku, Aku akan melepaskannya." kata hati Rey.


Rey terus berjalan, dengan tiba tiba Icha berlari dan memeluknya dari belakang. membuat Rey berhenti dan terdiam. "Terimakasih" ucap Icha pelan. Rey memejamkan matanya. Perlahan dia ingin melepaskan pelukan Icha. Tapi Icha semakin kuat memeluknya.


Rey mengendorkan pelukan Icha dan memutar tubuhnya. Icha menunduk malu. Dia membenamkan wajahnya di dada bidang Rey.


"Lepaskan, dan gantilah bajumu. Kita akan pulang sekarang." ucap Rey lembut.


Icha masih memeluknya erat. Dia menggeleng pelan. "A...aku mmau bilang..."


"Aku tahu tidak apa apa. Aku tidak marah, cinta memang tidak bisa dipaksakan. sesuai dengan janjiku aku akan melepaskanmu!" ucap Rey sedih. Memotong apa yang ingin diucapkan Icha. Rey tidak mau Icha meneruskan kalimatnya jika dia tidak mencintai Rey.


"Tapi, aku juga mencintaimu!" ucap Icha refleks. Dia kembali menunduk setelah mengucapkan kalimat tersebut. Semakin erat memeluk rey. Icha malu dan tak sanggup melihat wajah Rey.


Rey menarik sudut bibirnya, mendengar pengakuan Icha. Sebuah senyum bahagia menghiasi wajahnya. "Katakan, apa yang tadi kamu ucapkan. Aku tidak mendengarnya!" ucapnya.


"Tidak mau!" jawab Icha masih diam menunduk.


Rey mengangkat dagunya, "katakan" ucap Rey menaik turunkan alisnya menggoda Icha.


Icha memeluk erat Rey sebagai jawabannya. Rey tersenyum bahagia. Akhirnya cintanya di terima oleh Icha. Rey berjanji akan mengakhiri Petualangannya. Dan akan serius menjalin hubungan dengan Icha.


Rey membalas pelukan Icha tak kalah erat.


'Rey...lepas, sakit!" ucap Icha meronta.


Rey terkekeh, dan melonggarkan pelukannya. "Mulai saat ini kau hanya milikku. Tidak ada yang boleh dekat apalagi jalan bareng dengan mu. Paham?" ucap Rey.


"Kenapa kau jadi posesif Seperti ini?" Ucap Icha heran.


"Karena aku sangat mencintaimu dan aku tidak suka berbagi, jadi aku nggak mau ada orang lain yang coba mendekatimu," jawab Rey.


Icha memanyunkan bibirnya kesal. Rey gemas melihat bibir Icha. "Berjanjilah, bahwa kau akan setia padaku?" ucap Rey.


Icha mengangguk.


Rey mendekatkan wajahnya ,dan Icha memejamkan matanya. kini bibir tebal Rey sudah mendarat manis di bibir Icha. mereka berciuman. Ini pertama kali nya Icha dan rey berciuman dengan penuh cinta. Tidak seperti biasanya Rey yang selalu memaksa Icha.