
Icha dan Yuni sudah kembali. Mereka melanjutkan kegiatannya.
Beberapa kakak senior membantu mereka. Mereka akan menjelajah di malam hari. Tim dibagi menjadi dua, Sebagian ke arah timur dan sebagian ke arah barat.
Yuni, Dimas, Sheila dan sila di tim A yang akan bergerak ke arah timur. Tugas mereka hanya menemukan bendera yang di pasang oleh senoir nya. Setelah dapat mereka bisa kembali ke kamp.
Mereka berempat bersiap untuk pergi dengan membawa senter. Mereka jalan beriringan dan berpegangan tangan. Dimas berjalan paling depan karena dia satu satunya pria diantara mereka.
Mereka sudah menemukan bendera pertama, tinggal satu bendera lagi. Setelah mendapat kan bendera kedua, mereka bersorak dan berjalan balik ke kamp.
Icha dan Dimas berjalan dibelakang sementara Yuni dan sila di depan. Mereka asyiik bercanda dan tertawa, membuat Rey tambah geram.
Tanpa mereka sadari Rey terus memperhatikan mereka dari kejauhan. Awalnya dia ingin mendekati Icha tapi karena sudah dibagi menjadi tim dia mengurungkan niatnya.
Selina melihat Rey diam sendiri, berjalan mendekatinya.
"Sendiri aja Rey, aku temenin ya!" ucapnya manja.
Selina sudah duduk manis disebelah Rey.
Yuni, Sheila, dan sila lewat. Sementara Dimas mengumpulkan bendera mereka.
"Eh...cupu. Buatin kita minum donk!" ucap Selina.
Icha tidak menjawab dan terus melangkah. Selina geram karena Icha tidak mau memenuhi perintahnya.
"Rey...Suruh dia buat minum donk, dia kan pembantu loe. Aku haus nih! Kamu tega lihat aku kehausan." ucap Selina manja dan memeluk lengan Rey.
Rey berniat ingin membalas Icha. Dia sengaja memeluk Selina.
"Loe denger nggak apa yang dia bilang. Cepat buatkan minum untuk nya" perintah Rey pada Icha.
Icha berjalan dan membuatkan minuman untuk Rey dan Selina. Hatinya sakit bukan karena di bentak oleh Rey, tapi hatinya sakit saat melihat Rey memeluk Selina. Icha juga bingung dengan perasaannya sendiri.
Setelah selesai dia mengantarkan nya kepada Rey dan Selina.
"Ini minumannya!"ucap Icha dan meletakkan nya diatas pasir.
"Sayang....kayaknya aku juga laper deh. Aku pengen makan cemilan, kamu bawa nggak?" tanya Selina manja. Dia ingin menunjukkan kemesraan nya kepada Icha.
"Kau tidak dengar, cepat bawa cemilan kesini." ucap Rey lagi.
Icha mengambil makanan dengan hati mendongkol. Dia kembali dan meletakkan nya di pasir.
Pada saat yang sama "Cup" Selina mencium pipi Rey. Tepat dihadapan Icha.
Tanpa berbicara Icha pergi. Dia terus berjalan menuju ke arah pantai.
"Dasar cowok nggak tahu diri. Semalam dia seenaknya mencium aku. Kini dia
mencium cewek lain di depan ku. Dasar play boy kampret." omel Icha dalam hati.
Setelah Icha pergi Rey melepaskan tangan Selina di lengannya. Dia melangkah pergi.
"Rey...Rey.... panggil Selina.
Rey terus berjalan tanpa menjawab. Membuat Selina menjadi marah dan kesal.
Rey berjalan mengikuti arah Icha pergi. Dia khawatir dengan Icha.
"Kemana dia pergi, cepat sekali, kenapa sudah tak terlihat?" bathin Rey. Dia terus mencari Icha.
Icha berdiri di tepi pantai. Kakinya basah tersapu ombak pantai. Icha merentangkan tangannya menikmati indahnya pantai di malam hari.
Tiba tiba ada yang memeluk nya dari belakang. Icha kaget dan berontak tapi pelukan orang tersebut sangat kuat hingga dia tidak bisa melepaskannya. Icha sangat ketakutan.
"Biarkan seperti ini sebentar saja", Ucap orang yang memeluk Icha.
Icha sangat familiar denga suara tersebut. Itu adalah suara Rey. Icha diam dan tidak memberontak.
Lama Rey memeluknya. Icha kesal dan menyikut lengannya tepat di perut rey. Rey meringis menahan sakit. Dia tidak sempat mengelak karena gerakan Icha tiba tiba.
"Ngapain kau kesini! Sana urusin saja pacarmu. Bukankah aku sudah membuatkan makanan dan minuman untuk kalian!" Sindir Icha.
Rey terkekeh melihatnya.
"Kau cemburu?" ucap Rey to the point.
Icha kaget, "apa iya aku cemburu!" ucapnya dalam hati.
"Tii...tidak. siapa juga yang cemburu." Jawab Icha cepat.
Icha berjalan meninggalkan Rey. Baru satu langkah Rey sudah memegang pergelangan tangannya.
"Lepaskan, ini sudah malam. Mereka nanti mencari ku?" ucap Icha mencoba melepaskan cekalan Rey.
Rey marah Icha menghindari nya.
"Kenapa. Kau takut Dimas mencari mu. Apa kau takut dia melihatmu berdua dengan ku disini, iya!" bentak Rey.
"Apa maksudmu!"
"aku tadi melihatmu berduaan dengan Dimas. Bahkan kau tertawa bahagia dengannya. Kau senangkan berduaan dengannya!" ucap Rey ( dia tidak menyadari ucapan nya sendiri).
"Kau keterlaluan Rey. Apa hak mu melarang Ku?? aku mau berteman dengan siapa itu bukan urusanmu. Kau tidak bisa mengaturku sesuka hatimu?" Ucap Icha marah dan mendorong Rey.
Icha berlari meninggalkan Rey sendiri. Dia kesal dan marah dengan Rey. Hatinya sakit dibuat Rey.
Rey duduk diam di tepi pantai. Pikiran nya melayang. Dia menyesal telah membentak Icha tadi. Dia merasa sedih melihat Icha menangis.
"Apa aku keterlaluan ya, tapi aku kesal melihat dia dekat dengan Dimas." ucap Rey sendiri an.
Icha masuk ke dalam tenda.
"Cha, loe kenapa?? loe nggak di apa apain Selina kan?? tanya Yuni.
"Aku nggak apa apa. Cuma lelah aja. Aku tidur duluan ya." jawab Icha.
Icha langsung menarik selimutnya dan tidur.
Yuni heran melihat tingkah aneh Icha. Tapi dia tidak berani membangunkannya. Dia takut Icha marah.
Akhirnya dia juga menarik selimut dan ikut tidur.