
Keesokan paginya, sesuai dengan yang dikatakan oleh Rey semalam , Rey beneran mengajak Icha ke rumah orangtuanya.
"Tapi itu sangat jauh Rey." ucap Icha
"Apa kau tidak serius dengan hubungan kita?" tanya Rey dengan tatapan tajam. Balik lagi ke sifat asliya yang mudah marah.
"Bukan begitu, tapi skripsi ku belum selesai dan aku mau meja hijau dua Minggu lagi." jawab Icha
"Ok, aku beri kamu waktu dua Minggu, Setelah itu jangan lagi beralasan, karena aku akan tetap kesana dengan atau tanpa kamu " ucap Rey kesal.
Icha mendekat dan memegang pundak Rey pelan, dia tahu Rey kecewa. Icha mengusapnya perlahan, "Rey, aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi, kau tidak perlu takut, apapun keadaan mu, aku menerimanya karena aku tulus mencintaimu bukan hartamu " ucap Icha meyakinkan Rey
"Maafkan aku Cha, aku hanya takut kehilanganmu. Aku takut jika kita masih disini, mama akan memisahkan kita kembali, aku takut Cha. aku takut kehilanganmu lagi." ucap Rey terdengar lirih.
Icha memeluknya dan membenamkan kepalanya di dada bidang Rey. "Percaya kepadaku Rey, kali ini cinta kita tidak akan kalah, aku akan berjuang bersamamu." ucapnya pelan
Rey merasa begitu tenang, hatinya yang gundah gulana seperti mendapatkan guyuran air hujan yang dingin dan menyejukkan. Rey begitu bahagia.
"Sementara dua Minggu ini, aku akan mencari kontrakan di dekat sini. Aku tidak mau menyusahkan Tante Mery." ucap Rey.
"Baiklah, ayo. Aku juga mau ke butik. Sementara waktu kau bisa membantuku memeriksa laporan keuangan butik dan aku jadi bisa konsen pada skripsi ku, gimana?" tanya Icha
"Baiklah nyonya Reyhan, apapun untukmu " ucap Rey tersenyum lembut.
Icha tertawa melihat tingkah lucu Rey
Mereka berdua berangkat ke butik bersama, Icha mengerjakan skripsinya disana dan Rey memeriksa laporan keuangan butik yang sudah menumpuk di mejanya.
...****************...
"Aku mau lihat sampai kapan kau bertahan diluar sana tanpa uang Rey " ucap mamanya tersenyum licik.
Mama Rey sudah memblokir semua akses keuangan Rey, mobil dan yang lainnya juga di tinggalkan oleh Rey
Bu Sinta mengerjakan semua pekerjaannya, dia akan menunggu putranya kembali dan memohon kepadanya, dan dia tetap meminta seseorang memata-matai Rey.
"Pak Budi" panggilnya
"Ya, nyonya "
"Cari tau siapa pemilik butik tersebut, aku ingin membeli butiknya, berapa pun harganya, aku ingin agar Icha di pecat dari sana." ucap Bu Sinta penuh amarah
"Baik nyonya, akan saya laksanakan " jawab pak Budi, sedikit membungkuk dan langsung keluar ruangan.
Satu jam kemudian dia sudah kembali dengan beberapa lembar kertas di tangannya.
"Maaf nyonya, saya sudah menemui pemilik butik, tapi dia mengatakan jika dia tidak mau menjual butiknya berapa pun harga yang saya tawarkan. " ucap pak Budi
Bu Sinta duduk dan bersandar di kursi kebesarannya. "Apa dia memiliki alasan khusus, pak?" tanya Bu Sinta penasaran
"Dia mengatakan jika butik itu peninggalan suaminya, jadi tak mau menjualnya "
"Tawarkan sepuluh kali lipat dari harga yang ada di pasaran, aku tidak mau tahu, butik itu harus jadi milikku "
" Baik nyonya, akan saya usahakan " ucap pak Budi
"Peninggalan suami, dia pasti akan menjualnya, tidak ada manusia yang tidak tergiur dengan uang. Icha kita lihat saja, kemana pun kalian pergi, aku akan tetap membayangi kalian. karena kau telah mengambil putraku. Aku tidak akan pernah memaafkan mu. Tidak akan!" ucap Bu Sinta sambil mengepalkan kedua tangannya.