Sheila & Rey

Sheila & Rey
Apartemen Rey



"kenapa kau duduk sendiri disini?"


Pertanyaan Rey sangat sulit untuk di jawab. Alya memilih untuk diam saja. Apa yang harus dia katakan. Haruskah dia bilang bahw ibunya telah menghina dan menyuruhnya pergi????


"Apa yang dikatakan oleh mama?" tanya Rey lagi.


Rey mendesah panjang dan berat. Tampak dia sangat menahan kekesalannya.


"Kau tidak perlu merasa takut,katakan saja apa ya g telah mama ucapkan."


"Ibu mu tidak mengatakan apapun. Aku hanya merasa pusing dan mengantuk jadi aku langsung pamit." jawab Icha.


"Apa kau pikir aku anak.kwcil.yang bisa saja kau.bohongi dengan kata katamu.itu. Aku sudah tahu semuanya. Mama menghinamu dan minta kau meninggalkan aku kan? tanya Rey sambilenghuncang bahu Icha.


"Tidak Rey, mamamu tidak mengatakan apapun."


"Aku rasa kita memang tidak cocoxk. Lebih baik.kita akhiri saja hubungan kita." ucap Icha sedih dan menunduk.


" Lalu kau anggap apa aku selama ini???


Apa kau pikir perasaan ku main main yan yang dengan mudahnya bisa kau mainkan, putus!!! segampang itu kau katakan putus!!!" bentak Rey.


Icha kembali menitik kan airmatanya. Dia juga sangat mencintai Rey, tapi kata kata ibunya Rey benar. Mereka memang tidak mungkin cocok, bagikan langit dan bumi perbedaan diantara mereka.


"Aku tidak tahu apa yang sudah mama katakan, tapu satu hal yang ahrus kau tahu. Aku tidak akan pernah melepaskanmu." ucap Rey dan memeluk Icha kuat. Dia membenamkan Icha didalam pelukannya.


Icha masih menangis. Dia juga sangat mencintai Rey. Bagaimana mungkin dia bisa meninggalkan nya.


"Maafkan aku Rey. Aku juga sangat mencintai mu, tapi semua yang mama mu.katkan benar!"


"Persetan dengan semua ucapan mama. Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Walau pun kau teris menolakku, aku akan tetap mencintai mu. Jangan pernah katakan perpisahan kecuali maut yang memisahkan kita." ucap Rey.


"Percayalah padaku!" ucap Rey.


Icha hanya kembali menangis dalam pelukan Rey.


"Ayo",ajak Rey setelah Icha berhenti menangis.


Rey menarik tangannya dan membawa Icha pergi. Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju kawasan perumahan elite. Rey turun dan membuka kan pintu untuk Icha.


"Kita mau kemana Rey?" tanya Icha heran.


"Mulai saat ini kau akan tinggal disini. Ini apartemen ku." ucap Rey menarik Icha menaiki lift menuju apartemen nya di lantai lima.


"Tapi Rey...!" tolak Icha.


"Aku tidak akan tinggal disini. Kau tenang saja. Aku akan tinggal di apartemen lain dilantai tujuh. Ini apartemen pembelian ku sendiri bukan dari uang papa atau mama."


Rey terus menggeret Icha untuk terus mengikutinya.


Tring....


Mereka tiba di lantai lima. Rey mencari nomor kamarnya dan membuka pintunya dengan kunci yang sudah dia bawa.


"Masuklah, mulai saat ini kau akan tinggal disini. Dan ini perintah. Aku tidak mau di bantah." ucap Rey.


"Besok barang barang mu akan diantar kesini oleh kurir. Kau tidak perlu khawatir. Setiap hari akan ada pelayan yang membersihkan kamar ini." ucap rey. Dia asyik menjelaskan ruangan kamarnya.


Dia menunjukkan dapur, kamar tidur dan ruangan lainnya. Icha hanya bisa mengikutinya. " Yang ini kamarmu dan itu kamarku." ucap Rey lagi.


"Sekarang kau mandilah dulu. Aku akan memesan makanan. Setelah itu kita akan makan bersama." ucap Rey lagi.