
Rey keluar dari ruangannya. Dilihat Icha asyiik mengobrol dengan Jimmy.
Rey marah dan menarik Icha keluar dari sana.
"Ayo pulang." ucap Rey sambil menarik tangan icha. Bahkan dia lupa untuk berpamitan dengan Jimmy.
"Kak, aku duluan ya. Sampai ketemu nanti." ucap Icha melambaikan tanagnnya pada Jimmy. Rey terus menarik nya. Langkah Rey yang lebar membuat Icha kesusahan mengikutinya.
Jimmy heran dengan sikap Rey yang tidak biasanya. "Rey kenapa ya? Apa yang salah ?" ucapnya pelan.
"Rey kamu apa apaan sih. Selalu saja kasar dan seenaknya." ucap Icha Marah.
"Oh...jadi kamu marah karena aku mengganggu mu tadi. Kau marah karena aku mengajakmu pulang dan menghentikan obrolanmu dengan Jimmy, Iya?" bentak Rey.
"Apa maksudmu? Kau marah sama kak Jimmy?" tanya Icha heran.
"wow.. kau bahkan sudah memanggilnya kakak. Hebat..." ucap Rey sinis.
"Aku nggak ngerti Rey, kenapa kau marah dia itukan teman mu, Lagi pula dia itu teman kecil ku, dia sahabatku saat dulu kami masih Sama dinkampung.!"
"Tetap saja aku tidak suka.!" Ucap Rey masih dengan wajah marahnya.
"Apa kau cemburu?" tanya Icha. Sontak membuat Rey terkejut. Wajahnya berubah pias. Untung dia cepat menguasai dirinya.
"Siapa yang cemburu, aku hanya tidak suka kau dekat dengannya." jawab Rey mengelak.
"Cepat naik Atau aku tinggal kan kau sendiri disini." ucap Rey berjalan masuk ke dalam mobilnya.
Icha diam saja. Rasanya malas mengajak bicara Rey yang pemarah.
Tring... sebuah pesan masuk ke ponsel Icha.
Icha mengambil ponselnya dan membuka pesan tersebut.
"Hai Cha, save ya, ini nomor aku jIimmy."
Icha segera mensave nomor Jimmy di ponselnya.
Rey meliriknya. Siapa yang mengirim Pesan?" tanya rey masih dengan wajah galak.
Rey mendadak mengerem mobilnya. Hingga dia dan Icha hampir terbentur dasbord.
"Kau...." Ucap Rey penuh emosi.
"Sudah aku katakan jangan berhubungan dengannya. Apa sih susahnya menuruti.kata kata ku." ucap Rey frustasi Dia mengelap wajahnya dengan kedua tangannya. Mencoba meredakan amarahnya.
Rey kembali melajukan mobilnya. Setelah dia merasa amarahnya sudah turun. Icha masih mendiamkannya. dia memandang keluar menikmati lalu lalang kendaraan yang lewat.
.Icha bahkan tidak meliriknya. Meryaudah sampai. Rey menghentikan mobilnya.
"Maaf!" ucap Rey mcah keheningan.
Icha masih belum mau bersuara. Rey meraih tangannya dan menggenggamnya. "Aku tidak bermaksud memarahimu, tapi aku paling tidak suka melihat kau berduaan dengan orang lain. " tuturnya.
Icha menarik tangannya dari genggaman Rey, tapi Rey semakin.mwnguatkan genggamannya. "Tapi kau bisa bicara baik baik. Jangan kasar seperti tadi.!" ucap icha lagi.
"Aku minta maaf." ucap Rey pelan. Rey menarik Icha ke dalam pelukannya.."Aku janji akan selalu menjagamu. akan selalu ada buatmu."Tapi ingat, aku paling tidak suka dikhianati!" tutur Rey lagi.
"Tapi Rey... Dia itu beneran sahabat kecilku. Kami hanya berteman. Lagipula kau kan sudah mengenalnya. Dia itu teman mu kenapa kau jadi marah dan cemburu."
"Aku tidak cburu, aku hanya tidak suka berbagi. Yang sudah menjadi milikku tidak.boleh dekat apalgi sampai dimiliki orng lain. Ingat itu!" ucap Rey penuh tekanan di akhir kalimatnya.
"Tapu....kau tidak bisa seenaknya memperlakukan aku begini. Aku juga punya perasaan, aku punya kehidupan dan aku juga ingin punya teman. Kau tidak bisa memutuskan semuanya sendiri begini."
"Lalu kau mau.apa?" tanya Rey menantang.
"Aku cuma ingin kau memberi ku kepercayaan. Lagi pula siapa yang jadi pacarmu?" aku bahkan belum mengatakan iya." elak Icha.
Rey memegang bahu Icha kuat.
"Kau....!" ucapnya setengah berteriak. Rey bingung harus bicara apalagi. Benar, Icha belum.mwnyatakan perasaannya. Selama ini dia lah yang memaksa Icha. Rey terdiam.
Icha tersenyum.tipis. " Aku masuk dulu. Sampai ketemu lagi besok." Icha berjalan masuk ke rumahnya. Rey masih berdiri di tempatnya.
Sampai Icha masuk kedalam.rumah Rey masih berdiri diluar.