
Rumah tangga Icha dan Rey berjalan dengan sempurna, selayaknya rumah tangga lainnya apalagi mereka masih pengantin baru.
Icha membuka usaha kafe tak jauh dari bengkel Rey. Walau kafenya kecil namun laris manis. Selain rasa kopi yang ditawarkan enak, tempatnya juga strategis jadi nongkrong santai sambil minum kopi, yang sangat disukai oleh anak muda pada jaman sekarang.
Icha membuka usahanya jam sepuluh pagi dan tutup jam sepuluh malam. Ada dua orang asisten yang membantunya, ditambah satu orang peracik kopi handal yang sengaja di cari oleh Rey.
Jimmy juga sering berkunjung, dia sudah ikhlas dan merelakan Icha menikah dengan Rey. Saat ini dia sedang dekat dengan seorang gadis yang sederhana tapi baik dan cantik. Gadis itu bekerja di sebuah butik, dan pertemuan pertama mereka juga terjadi disana saat Jimmy membelikan baju untuk Icha atas permintaan Rey.
Awalnya gadis itu mengira Jimmy ingin membelikan untuk istrinya, tapi akhirnya Jimmy menjelaskan jika dia disuruh bosnya untuk membelikan baju untuk Icha, dan kebetulan ukurannya sama dengannya.
Gadis itu membantu Jimmy memilih, mulai dari gaun, piyama, lingeria hingga dalaman. Sambil mengobrol dan bercanda. Sekali lagi Jimmy meminta tolong untuk membantunya menyusun pakaian tersebut di kamar bosnya, dia merasa malu dan enggan melakukannya, apalagi itu pakaian wanita.
Gadis itu menyetujuinya, dan mereka akhirnya berkenalan. Dia bernama Sely.
Setelah pulang bekerja Jimmy dan Sely berangkat menuju kediaman Rey, kemudian Sely membantunya menyusun semua pakaian Icha kedalam lemari.
Dia juga membantu Jimmy membeli perobatan dapur lengkap, dan terakhir mereka menghias kamar pengantin Rey.
Keduanya semakin dekat, mereka sering bertemu dan Jimmy merasa nyaman dengannya, gadis itu sederhana sama seperti Icha.
Jimmy ingin menghilangkan perasaan cintanya pada Icha dan coba membuka hatinya untuk Sely.
...****************...
Waktu berlalu dengan sangat cepat, tak terasa kini pernikahan keduanya memasuki tiga bulan.
Rey dan Icha sangat menikmati perannya sebagai pasangan baru. Sarapan pagi bersama, makan siang bersama, nonton berdua, jalan jalan, dan tentu saja tidur berdua.
Icha merasa sangat bahagia, begitu juga Rey.
Malam ini mereka berdua sedang menonton televisi, Icha duduk bersandar di pundak Rey.
"Mas..."
"Hem.." jawab Rey masih fokus pada film action kesukaannya.
"Mas, keluar yuk!"
"Keluar? jam segini?" tanya Rey melirik jam, dan kembali menatap Icha. Jam menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Aku laper mas, pengen makan yang hangat-hangat, kayaknya makan sate enak."
"Iya, tapi aku pengen banget mas," rengeknya
Rey merasa heran, selama menikah Icha tak pernah makan malam hari, kalaupun menemani Rey makan, dia biasanya hanya makan telur.
Lagi Rey menatapnya, kemudian dia mengangguk setuju. "Bentar ambil jaket dulu" ucapnya.
Rey kembali dengan dia buah jaket, untuknya dan Icha. Kemudian mengambil kunci mobil dan keluar. Icha sudah menunggunya di depan dengan tidak sabar.
"Buruan mas, laper nih!".
"Iya, bentar" Rey mengunci pintu rumah.
Mereka dalam perjalanan mencari sate yang diinginkan Icha. Hingga mereka berhenti di ujung jalan, dimana ada seorang pedagang sate yang onggok disana.
Icha turun dan memesan dua porsi sate spesial. Rey mengikutinya dan duduk di sebelah istrinya, dia masih menatap bingung, ada apa dengan istrinya kenapa malam ini dia terlihat aneh.
"Ini non, silahkan dinikmati." sang pedagang meletakkan dua porsi sate diatas meja.
"Makasih, Pak."
"Ayo mas," Icha memberikan satu porsi untuk Rey dan satu porsi akan dia makan sendiri.
Rey menatap aneh, dia tak langsung memakan satenya, dan malah menatap sang istri yang asyik menikmati sate miliknya.
"Enak banget ya?" bisik Rey penasaran. Icha hanya mengangguk, mulutnya penuh dengan makanan.
Rey meraih satu cucuk dan melahapnya, biasa saja gumannya dalam hati.
"Kok nggak dimakan mas?" tanya Icha
Rey melirik piring Icha, sudah habis. Dala sekejap Icha berhasil menghabiskan satu porsi sate spesial.
"Mau?" tawar Rey karena Icha melirik piringnya, dari sorot matanya tampak jelas Icha menginginkan nya.
"Mas nggak mau?"
"Mas masih kenyang , sayang" Rey menggeser piringnya kehadapan istrinya dan Icha melahapnya tanpa banyak bicara.