
Sheila bangun cepat pagi ini. setelah mandi dan melaksanakan ibadah sholat Sheila buru buru kedapur. Dia memasak sarapan dan makan siangnya. Dia harus mengirit, agar bisa menabung, dan untuk membayar uang kost dan biaya hidupnya.
Pagi ini dia memasak oseng tempe dan tumis kangkung. Masakan sederhana dan khas masyarakat desa.
Dia memasukkan makanan ke dalam kotak bekalnya. Pengalaman kemaren saat dia kelaparan membuatnya lebih berjaga jaga dari segala keisengan Rey. Sheila bersiap untuk pergi ke kampus.
******""
Rey terbangun setelah matahari menyinari wajahnya dari celah gorden. Dengan malas dia melihat ponselnya. Jam berapa sekarang? Dia terkejut saat melihat jam sudah menunjukkan pukul tujuh tiga puluh pagi.
Notif pesan, wa dan Instagram juga sangat ramai. Rey mengabaikannya dan memilih berjalan ke kamar mandi.
Rey memang sangat terkenal, Siapa yang tidak kenal Rey. Semua cewek berlomba lomba untuk menjadi pacarnya. Secara fisik! Rey sangat tampan, Tingginya 187 cm, tubuhnya tegap dan atletis. Hidungnya mancung, alisnya tebal dan hitam, matanya sangat indah. Mampu menghipnotis cewek yang sedang memandang nya.
Rambutnya hitam dan tebal di tambah dengan kulitnya yang putih seperti oppa oppa Korea. Membuat siapapun yang melihat langsung jatuh hati padanya.
Secara finansial di juga sangat kaya. Rey adalah anak seorang konglomerat dan Pengusaha terkaya di kota nya. Ayahnya Rangga Aditama memiliki bisnis dimana. mana sampai diluar negeri. Ibunya juga pemilik beberapa butik terkenal di Jakarta. Bahkan kampus tempat Rey menuntut ilmu juga yayasan milik keluarganya.
Sudah ganteng kaya pula. Cewek cewek sampai ngantri untuk menjadi pacarnya.
Playboy, ya. Rey memang terkenal playboy. Hampir semua cewek di kampus pernah menjadi pacarnya. Dia selalu bergonta ganti pacar. Pacaran dengan Rey paling lama satu bulan. Dan Rey paling tidak bisa menolak jika ada cewek yang mengatakan cinta padanya.
Tapi diantara sekian banyak pacarnya, tak satupun yang tulus mencintai Rey. Sebagian hanya ingin isi dompetnya dan sebagian lagi hanya untuk ajang pamer. Karena pernah berpacaran dengan cowok terganteng di kampus mereka.
Selesai mandi Rey, turun kebawah dan langsung berjalan keluar.
Mbok Inah memanggilnya.
"Den, Rey tidak sarapan?"
"Tidak bi, Nanti saja di kampus."
"Den, Tadi nyonya berpesan, katanya nyonya ada peragaan busana di Paris selama tiga hari, Tadi berangkat pagi pagi sekali den. Jadi nggak sempat berpamitan."
"Ya Bik. Makasih!" jawab Rey.
Rey melanjutkan langkahnya menuju ke luar rumah. Mengambil mobil sport berwarna putih yang sangat jarang dia gunakan. Biasanya Rey lebih memilih naik motor. Kali ini dia merasa agak malas jadi memilih naik mobilnya.
Rey sampai di kampus dan langsung menuju ke ruangannya.
Rey melihat sekeliling.
"Dimana si cupu? Kenapa dia belum juga datang. Padahal ini kan sudah siang."
Rey merogoh kantong nya mengambil ponsel dan bersiap siap menelpon.
Rey menghentikan aktivitas nya.
"Bagaimana aku mau menelponnya, nomor Handponenya aja aku tidak punya.
Ahk..... Rey bertambah kesal. Rey membanting ponselnya di sofa.
Empat puluh lima menit kemudian, Sheila masuk ke dalam ruangan. Jam sudah menunjukkan jam sepuluh lima belas menit.
"Dari mana saja, kau Hah!" Bentak Rey Dengan penuh emosi.
Sheila Sampai terlonjak kaget dan mundur ke belakang karena terkejut.
" Ma...maaf tadi aku ada kelas pagi." Jawabnya.
"Mana ponselmu?" Rey mengulurkan tangannya meminta ponsel Sheila.
Sheila menyerahkan ponselnya. " Ini"
Rey kaget.
"Ini yang kau katakan ponsel?" Ucapnya dan menunjukkan ponsel Sheila tepat didepan wajahnya.
"I...iya.." jawab Sheila pelan.
Ponsel Sheila hanyalah ponsel jaman dulu kala yang hanya bisa di gunakan untuk menelpon dan SMS. Itupun kalau dia punya uang untuk mengisi pulsanya.
"Benda apa ini!" Ucap Rey sinis dan membanting ponsel Sheila.
Sheila memungut ponselnya yang berserakan di lantai. Dia sangat sedih. Ponsel itu dia beli dengan jerih payahnya sendiri dengan menabung uang jajannya selama berbulan bulan. Dan dengan entengnya Rey membanting nya.
" Kau boleh menghina ku sesuka hatimu. Tapi kau tidak berhak memperlakukan aku seperti ini." Ucap Sheila matanya sudah berkaca kaca.
"Aku bisa membelikanmu yang baru, katakan kau mau merk apa, sebutkan saja?" ucap Rey sombong.
"Aku memang orang miskin, tapi aku punya harga diri. Simpan saja uangmu buat pacar pacarmu. Aku nggak butuh!!!" Ucap Sheila penuh tekanan di akhir kalimatnya.
Dia berlari membawa ponselnya keluar ruangan Rey.
Rey terdiam mematung mendengar ucapan Sheila. Selama ini cewek yang dekat dengannya tanpa di tawarin selalu minta di belikan ini dan itu. Baru kali ini ada cewek yang menolaknya.
Rey tak habis pikir dengan sikap Sheila. "Sombong sekali dia, padahal dia hanya gadis miskin tapi berlagak punya harga diri. Dan tadi dia berani sekali menghina aku. Awas saja. Aku kan membuatnya menyesali semua ucapannya."
Rey berjalan keluar ruangan nya dengan perasaan yang sangat dongkol.
Dijalan dia bertemu Dewi salah satu mantannya.
"Hai..Rey!" Ucap Dewi berjalan mendekati Rey.
"Hai..." jawab Rey tersenyum manis. Membuat Dewi semakin terpesona.
"Kau sekarang sombong banget sih Rey. Aku kangen lho ma kamu. Jalan yuk?" Ajak Dewi manja.
"Mau kemana?" tanya Rey sambil tersenyum padahal dalam hati dia malas meladeni Dewi yang terkenal matre.
" Jalan ke mall, habis itu kita nonton! Mau ya???" Rengek Dewi. Tangannya sudah bergelanyut manja di lengan Rey.
"Maaf ya, lain kali saja. Aku ada Janji hari ini. Nanti aku kabari, Bye!!" Ucap Rey. Sambil melepaskan tangan Dewi.
Dewi menghentak kan kakinya. Dia kecewa Rey menolaknya.
Rey terus berjalan menuju parkiran. Dia masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya.
Di Depan gerbang dia melihat Sheila sedang berjalan kaki pulang.
"Eh...itukan si cupu." bathin Rey.
Rey kembali kesal mengingat kejadian tadi di ruangannya. Rey berniat ingin menabraknya. Saat sudah dekat tiba tiba dia mengerem mendadak. Dia berubah pikiran.
Aku masih penasaran, Apakah benar dia bukan Icha pegawai di kafe aku.
Aku akan mengikutinya untuk memastikan kecurigaan ku.
Sheila terus berjalan kaki menuju Rumah kostnya. Rey terus mengikutinya.
"Bodoh sekali dia berjalan kaki, Padahal ini sudah sangat jauh. Apa dia terlalu miskin hingga nggak sanggup untuk membayar angkutan umum!" Gumam Rey merasa kesal.
Dia sudah merasa bosan mengikuti Sheila.
Sheila berbelok dan masuk ke gang yang sempit.
Rey terpaksa memarkir kan mobilnya di tepi jalan.
Dia turun dan mulai mengikuti Sheila.
Tak berapa lama Sheila berbelok ke sebuah rumah yang sangat kecil. lebih tepatnya disebut kamar. Dia membuka tas dan mengambil kunci. Lalu membuka nya dan masuk ke dalam rumah.
"Oh....jadi disini tempat tinggalnya." Ucap Rey.
Rey memandangi rumah kost Sheila yang sangat kecil. Lebih besar kamar pembantunya di bandingkan dengan tempat tinggal Sheila. Dia tidak habis pikir bagaimana Sheila sanggup tinggal di tempat sempit dan padat seperti itu.
Rumah kost disana berjajar rapi sekitar ada dua belas kamar. tetapi memiliki halaman yang luas dan asri.
Setelah lama mengamati Rey berbalik hendak meninggalkan rumah Sheila.
Baru dua langkah dia kembali berbalik.
Alangkah terkejutnya Rey melihat siapa yang keluar dari rumah kost tersebut.
Penasaran...
Tunggu kelanjutannya ya.....
Mohon dukungannya dengan klik like and vote, Terima kasih.