Sheila & Rey

Sheila & Rey
KetemuJimmy



"Rey, lepas....." ucap Icha.


"Bentar lagi.. biar seperti ini dulu."


"Tapi aku sesak, kau peluk aku terlalu erat. Aku nggak bisa nafas."


Rey melepas pelukannya. Mereka duduk di tepi pantai dan melihat langit Sangat indah pemandangan di malam hari.


Selina memandang mereka dari kejauhan, dia mengepalkan tangannya marah.


"Awas kau Icha, aku akan buat kau hancur karena berani merebut Rey dari ku."


Rey dan Icha kembali ke tenda masing masing.


Rey tersenyum bahagia, hatinya berbunga bunga.


Icha masuk ke dalam tenda.


"Cha, loe dari mana aja?" tanya Yuni kepo.


"Aku dari pantai, " jawab Icha.


"Kok loe nolak Dimas, Cha. Dia kan tampan, baik, udah gitu perhatian lagi." ucap Yuni.


"Tapi aku cuma anggap dia sahabat, nggak lebih. Aku nggak ada persaan Sama dia!" jawab Icha sedih.


"Dia pasti sangat kecewa.!"


"Ya... dia tampak sangat terpukul. Tapi ya udah lah, perasaan mana bisa di paksakan, Ya kan?"


Icha mengangguk.


"Tidur yuk, besok pagi kita harus segera bersiap untuk pulang." ucap Yuni dan langsung menarik selimutnya.


Pagi hari setelah berkemas merek kembali pulang. Icha naik mobil bersama dengan Rey. awalnya dia menolak, tetapi Rey memaksanya. Akhirnya dia mengikuti kemauan Rey.


"Kenapa dengan wajahmu itu?" tanya Rey melihat wajah Icha yang di tekuk.


"Kenapa kau selalu memaksa ku, aku mau pulang bersama mereka. Kenapa kau tidak paham juga." ucap Icha.


"Oh...kau ingin berduaan dengan Dimas, iya?"


"Loh, kok jadi aku yang salah. Aku nggak enak ma Yuni itu aja. Palagi sama yang lain." jawab Icha pelan. Tapi Rey mendengarnya.


"Kau malu pulang denganku?" Kau malu orang tahu kalau kita pacaran?" Apa..."


"Bukan....." potong Icha cepat.


"Sudahlah aku malas berdebat."


"Bagus, jadilah penurut." ucap Rey mengelus pucuk kepala Icha.


"Hari ini kau tidak usah kerja."


"Kenapa?" tanya Icha heran.


"Temani aku ke bengkel. Sudah lama aku tidak mengecek nya."


"Tapi...


Belum selesai icha bicara Rey sudah menatap tajam padanya. Icha terdiam...


"Baiklah..." jawabnya pelan.


Mereka sampai di bengkel Rey. Rey turun dengan Icha. Icha sudah terbangun.


"Selamat datang tuan," sapa salah seorang montir disana.


Rey mengangguk, "Jimmy ada?" tanya Rey.


"Ada di dalam, ucpa montir tersebut. Rey menarik tangan Icha masuk kedalam. Icha memperhatikan bengkel Rey. Bengkelnya sangat besar .


"Ini milikmu Rey?" tanya Icha.


"Iya, tapi aku meminta temanku yang mengurusnya. Aku lebih suka di kafe." jawab Rey sambil terus membawa Icha masuk ke dalam.


"Sore Bos, " apa Jimmy.


"Sore. Giman keadaan bengkel, Jim?" tanya Rey.


"Alhamdulillah aman bos." jawab Jimmy.


"Oh ya, kenalkan ini Icha. Dan Icha ini Jimmy sahabat serta orang kepercayaan aku yang mengurus bengkel ini." Ucap Rey.


Jimmy agak terkejut melihat wajah Icha. Seperti nya sangat familiar tapi dimana?" ucapnya.


"Oh ya, Jim Mana laporan bulan ini?" tanya Rey mengagetkan Jimmy.


"Bentar Rey, aku ambil dulu."


"Apa dia Icha, tetanggaku dulu, tapi mana mungkin dia sampai disini. Apalagi bersama.dengan Rey?" bathin Jimmy.


"Cha bentar ya, aku sekalian cek laporan bengkel. Nggak lama kok. Kamu kalau minta aja disana" ucap Rey.


Icha mengangguk.


Rey duduk di kursinya dan mulai memeriksa laporan Jimmy.


"Cha, kalau boleh tau kamu kenal Dimana sama Rey?" tanya Jimmy


"Kebetulan kita satu kampus, kak Rey senoir aku."


"Kamu baru masuk ya?" tanya Jimmy lagi.


"Iya kak, aku baru di Jakarta ini. aku merantau kesini. orangtua aku tinggal di Bogor," jawab Icha.


Jimmy kaget, benarkah ini ichanya. karena mereka berasal dari daerah yang sama.


"Apa kamu Icha anak pak selamat dari kampung rambutan?" tanya Jimmy antiusias.


"Iya, kok kakak kenal dengan orangtua aku?" tanya Icha heran.


"Ya aku kenal, dulu kita tetangga Cha. sebelum orangtua aku pindah tugas ke Jakarta ini. Kamu lupa ma aku, aku yang selalu gangguin kamu kalau main boneka. Dan aku yang ajarin kamu naik sepeda sampai kita masuk ke parit. kamu tidak ingat?"


"Oh... kakak, kakIwan anak pakde Karyo?" tanya Icha antusias.


Jimmy mengangguk. Dia tersenyum bahagia. Gadis yang dia cari selama ini kini ada dihadapannya.


"Kamu makin cantik, Cha!" puji Jimmy.


"Kak Jimmy bisa aja."


"Beneran, Kakak sampai nggak tanda. Kamu tinggal dimana? bisa minta nomor telepon dan alamat kamu?"


Icha memberikan alamat dan nomor telponnya.,