
Rey keluar dari ruangan dimana mereka menyekap Selina. Beni sudah menunggunya diluar. "Dimana Dimas?" tanya Rey.
Beni beranjak dari kursinya dan berjalan, Rey mengikutinya. Dimas di sekap diruang yang letaknya jauh dari ruangan Selina. Dimas disekap diruang bawah tanah. Rey masuk kedalam. Ruangannya gelap, pengap dan sangat kotor. Benar benar membaut orang merasa sangat takut. Dimas duduk diikat disebuah kursi Dengan mata tertutup.
"Buka tutup matanya!" perintah Rey.
Dimas mulai mengerjap kan matanya, menyesuaikan matanya dengan cahaya kecil dari penerangan yang ada di dalam ruangan.
"Rey?" ucapnya kaget. Tampak wajahnya ketakutan.
"Pa kabar Dimas?" ucap Rey mengejek.
"Kenapa kau menangkap aku Rey, apa salahku?" ucap Dimas membela diri.
"Kau tanya apa salahmu, baik lah kalau kau lupa aku akan mengingatkanmu." ucap Rey dan maju mendekat ke arah Dimas dengan senyum smirk nya.
"A...apa yang akan kau lakukan?" ucap Dimas semakin ketakutan.
"Aku hanya ingin mengingatkanmu saja. Mungkin kau lupa." Rey memukul wajah Dimas hingga mengeluarkan darah segar. Dimas meringis menahan sakit.
"Apa kau sudah ingat!" tanya Rey lembut didepan wajah Dimas. Tapi tatapan matanya siap mengoyak ngoyak tubuh Dimas.
Dia kembali menghajar Dimas hingga Dimas, tidak dapat bergerak. Tubuh dan wajahnya penuh luka dan darah. Siapa pun yang melihat nya pasti akan bergidik ngeri. "Itulah akibatnya jika berani mengganggu milik ku. Satu hal lagi, Icha milikku jangan pernah berpikir untuk mendekati nya apalagi memiliki nya jika kau masih sayang dengan nyawamu." ucap Rey dan meninggalkan Dimas yang sudah tak berdaya.
"Bereskan dia" ucap Rey pada anak buahnya.
Rey berjalan menemui Beni dan Roni. Kini mereka duduk bertiga dijoglo didepan baskamp mereka.
" Thanks bro!" ucap Rey pada Roni.
"Buang dia di tepi jalan tapi jangan bunuh dia. Aku tidak mau jadi pembunuh." ucap Rey.
"Bagaimana jika nanti dia akan balas dendam!" ucap Beni mengingatkan.
"Tidak akan, lakukan seolah olah dia kecelakaan. Jangan sampai meninggalkan jejak." ucap Rey lagi. Beni dan Roni mengangguk paham.
"Rey, benar loe yang ada di dalam photo itu?" tanya beni masih tidak percaya.
" kenapa? loe pikir gue berbohong cuma buat nyelamatin Icha. Benar gue yang ada di dalam photo itu, gue yang bawa Icha pulang ke apartemen gue. Dimas memberinya obat hingga dia tidak sadarkan diri, kalau gue terlambat sedikit saja, pasti Dimas sudah mendapatkan nya. " ucap Rey.
"Berati loe dan Icha...?" Beni tak melanjutkan ucapannya. Dia hanya memberi kode lewat tangannya.
"Gila loe, gue nggak sebejat itu, gue nggak mau ambil kesempatan dalam kesempitan. Kalau pun gue mau, gue mau kita berdua ngelakuinnya dengan sadar bukan karena pengaruh obat."
"yah..nggak seru loe!" ucapnya lagi.
Rey melemparkan Beni dengan bantalan yang ada didekatnya. "Gue mencintai Icha dan gue akan menjaganya. Icha berbeda dengan cewek yang ada diluar sana dan gue sangat mencintainya."
Rey sampai didepan rumah Icha. Dia mengetuk pintu dan langsung masuk ke dalam rumah begitu pintunya terbuka.
"Kamu dari mana Rey?" tanya Icha.
"aku baru saja memberi hukuman kepada orang orang yang sudah memfitnah dirimu?" ucapnya dengan marah.
"maksudmu?"
"Aku baru saja menemui Dimas dan Selina. Mereka berdua bekerjasama mengambil gambar dan menyebarkannya."
"Dimas dan Selina?" ucap Icha kaget.
"Ya, kau benar. Tapi tenang saja aku sudah memberikan hukuman yang pantas untuk mereka berdua."
"Apa yang kau lakukan? Jangan berbuat macam macam Rey. Aku tidak apa apa, nanti juga beritanya kan berlalu." ucap Icha khawatir dengan Rey.
"Aku tidak bisa melihat kau disakiti. Itu sama saja mereka menyakiti aku. Dan aku takkan pernah membiarkan siapapun menggangu milikku. Termasuk dirimu. Kau tidak perlu khawatir , akunsudah membereskan semuanya.kauntunggu saja berita nya besok." ucap Rey.
Icha tahu jika sudah seperti ini Rey Tidak mau lagi dibantah. Icha hanya memilih diam.
"Tidak ada minum untuk ku?" tanya Rey mengalihkan pembicaraan.
"Maaf, sebentar akan aku ambilkan." ucap Icha. Dia bergegas ke dapur dan mengambil minum untuk Rey. Rey bernafas lega, Icha tak lagi bertanya apa yang telah dia lakukan. Jika rey mengatakannya dia yakin Icha pasti akan marah.
Icha keluar membawa juice jeruk untuk Rey dan dirinya. Rey langsung meminum juice mau begitu Icha meletakkannya dimeja.
"Sayang.." panggil Rey dengan mode manjanya.
Icha menoleh. Rey kembali bersuara. "Yang..." panggilnya karena belum mendapat jawaban dari Icha.
"Yang...aku lapar?" ucap Rey manja.
"Trus...." ucap Icha.
"Masakin donk!"
"Kan bisa delivery, aku pesenin ya. kamu mau makan apa?" tanya Icha.
"Aku mau makan kamu!" ucap Rey cepat. Icha melotot kearahnya. Rey terkekeh melihat Icha marah. "Cepat masak, calon suami sudah kelaparan kamu malah duduk melotot begitu. Atau kau mau kita...." Rey menggantung kalimat nya dan menaik turunkan alisnya.
Icha melotot mendengar ucapan mesum Rey. Icha hendak protes. Tapi tatapan mata Rey menghentikan nya. Rey sudah maju mendekat ke arah Icha. Membuat Icha segera beranjak meninggalkan nya. Rey tersenyum lebar melihat Icha yang ketakutan.
Senang sekali rasanya melihat tingkah lucu Icha. Rey semakin jatuh cinta padanya. Rey merebahkan tubuhnya di pinggir tempat tidur icha. Sambil menunggu Icha yang sedang memasak makanan untuk nya.