
"Duduk" ucap Rey masih melihat berkas yang ad di tangannya.
"Jadi namamu Sheila Anjani. Tapi kenapa kau menggunakan nama Icha disini bukan nama aslimu?" tanya Rey.
Sheila menarik nafas panjang.
"Tuan, didalam biodata saya saya juga menuliskan nama panggilan. Dan Icha adalah nama panggilan saya. Jadi untuk mempermudah memanggil nama saya. Saya menggunakan nama Icha." Jawab Sheila.
Rey nampak manggut manggut.
"Jadi kamu kerja part time disini. Tidak masalah. Hanya saja gajimu di bayar setengah dari gaji karyawan lannya. Apa kamu sudah paham?" tanya Rey lagi.
Sheila mengangguk. Walau dibayar setengah tapi gaji disini cukup besar. Sama dengan gaji penuh di kafe lain.
" Baiklah kalau sudah paham. Ada satu lagi pertanyaan yang masih mengganjal di dalam hati ku. Kenapa kau harus berpura pura menjadi gadis culun dan merubah penampilanmu.?"
Rey sudah sangat penasaran alasan Sheila merubah penampilan di kampus berbeda dengan saat bekerja.
"Aku hanya tidak ingin menjadi perhatian. Dengan berpenampilan culun seperti yang Anda katakan, orang orang akan enggan berdekatan denganku. Dengan begitu aku bisa tahu siapa teman yang tulus mau berteman dengan ku, atau hanya mau memanfaatkan aku. Lagipula aku datang kesini untuk mencari ilmu bukan untuk mencari pacar. Jadi buat apa aku harus terlihat cantik." jawab Sheila panjang lebar.
"Kenapa kau tidak berpenampilan sama saat bekerja. Apa.kau ingin menggoda lelaki kaya dan memacari nya?" tuduh Rey.
Kata kata Rey sangat mengena di hati Sheila. Sakiiit itu yang ia rasakan dengan tuduhan yang di ucapkan Rey.
"Bukan. Aku merubah penampilanku terpaksa karena pekerjaan yang mengharuskan aku tampil seperti ini. Mereka tidak mau menerima ku dengan penampilanku itu."
"Memang kafe ini untuk para anak muda, dan pasti waiters disini juga harus muda, cantik dan anggun." ucap Rey lagi.
"Ini terimalah!"
Rey mengeluarkan handphone keluaran terbaru dari sakunya.
" Aku sudah memasukkan nomorku disana. Kau harus datang kapan pun saat aku membutuhkanmu mu. Ingat perjanjian kita tiga bulan, tekan Rey pada akhir kalimatnya.
"Ya, Aku ingat. Tapi kau juga harus menepati janjimu setelah tiga bulan, aku kan terbebas darimu. Dan kau tidak akan mengusik kehidupanku lagi." ucap Sheila.
"Ok. Deal." jawab Rey tegas.
"Tapi maaf aku tidak bisa menerima hadiah mu ini. Handpone ku sudah aku perbaiki. Dan masih layak untuk digunakan. Ambil kembali ponselmu." ucap Sheila dan mengembalikan ponsel itu kepada Rey.
Rey terlihat kesal.
Ponselmu itu sudah sangat tua dan tidak layak untuk digunakan. Aku tidak mau kau beralasan tidak ada signalnya saat aku menelpon mu nanti. Kau harus menerima nya. Aku paling tidak suka di bantah."
"Tapi, kak!!!
"Tidak ada tapi tapian. Kau bisa mengembalikannya saat perjanjian telah berakhir."ucap Rey.
Dengan berat hati Sheila menerimanya.
Dia melihat daftar kontak, hanya ada satu nama disana.
Mata Sheila melotot tak percaya melihat tulisan namanya. "Boss Tampan."
Rey tersenyum melihat Sheila terkejut.
"Bisa bisa nya dia menuliskan nama boss ganteng. Narsis sekali.
Sheila mengambil ponsel tersebut dan berniat Menganti nama tersebut.
Dia mulai menekan tombol ganti.
Rey tahu Sheila pasti akan mengganti namanya. Dengan cepat Rey menindas Sheila.
"Awas kalau kau berani mengganti namanya. Kau akan tahu akibat nya nanti."
Sheila berhenti mengetik dan membatalkan nama yang akan dia ketik. Sheila ingin menuliskan Setan kampus. untuk nama Rey.
Cepat masukkan nomormu dan telpon ke nomor itu sekarang. Aku akan menyimpannya.
Sheila menelpon Rey.
ponsel berdering dan Rey segera menyimpan nomor sheila.
Rey menuliskan nama Cupu tengil untuk sheila . Rey tersenyum tipis melihat nama yang dia gunakan.
"oh ya. makan itu sebagai ganti kotak bekalmu yang aku makan tadi siang.
Dan ini Rey melempar sejumlah uang merah diatas meja. Belanja lah makanan yang sehat dan bergizi. Mulai besok kau harus membawakan ku bekal ke kampus. Dan aku nggak mau makan kangkung dan tempe lagi." ucap Rey.
Sheila sudah akan protes tapi Rey kembali bicara.
sheila kembali harus menekan emosinya. Dia berpura pura tersenyum, padahal dalaam hatinya dia sangat marah dan kesal. Kalau dalam dunia kartun pasti sudah ada api yang berkobar di atas kepala nya.
"Cepat habiskan, dan kembali bekerja. Aku tidak membayar mu untuk ber malas malasan." ucap Rey lagi.
Icha sudah tidak dapat menahan kesabaran nya. Emosinya naik ke ubun ubun.
" Kau tidak bisa memperlakukan aku seenaknya Seperti ini. Aku bukan mainan mu."
Sheila marah dan wajahnya sudah merah padam.
Rey berdiri dan berjalan mendekat padanya.
"Jadi kau mau apa, Hah? tantang Rey dengan wajah sangarnya.
Dia terus mendekat. Sheila sudah berdiri, kini Rey tepat berada dihadapan sheila.
" Katakan, kau mau apa? Mau protes? Mau marah, Silahkan!!! Tapi ingat Aku bosnya
disini.
Rey terus maju mengikis jarak antara dirinya dengan Sheila. Kini wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.
Sheila nampak panik dan takut. wajahnya sudah berubah pucat. keberanian nya tadi menguap begitu saja.
"Katakan apa mau mu!" tanya Rey pelan, tepat di depan wajah Sheila. Bahkan hangat nafas Rey terasa jelas menerpa wajah Sheila.
"A...a...aku....." ucap Sheila gugup.
"Katakan." ucap Rey semakin mengintimidasi Sheila.
Seringai naka nampak di wajahnya.
Sheila tak tahu akan berbicara apa, wajahnya panik melihat Rey yang semakin mendekat. Seumur hidupnya dia belum pernah sedekat ini dengan cowok lain.
wajahnya sudah pucat, tiba tiba dengan sekuat tenaga dia mendorong Rey dan berlari keluar ruangan.
Rey tertawa melihat tingkah Sheila. Ternyata dia sangat polos dan lugu sekali. Baru seperti itu saja dia sudah sangat pucat. Hahaha....
sheila terus berlari Tanpa menutup pintu. Dia berlari menuju ke toilet.
"Ada apa ini, kenapa dengan jantungku. Kenapa berdetak sangat cepat. Dan tadi, apa yang akan dia lakukan.
A........ teriak Sheila membayangkan apa yang akan dilakukan Rey.
Seseorang keluar dari toilet dan memperhatikan Sheila dari atas ke bawah.
"kamu tidak apa apa?" tanya nya heran.
"Tidak, tadi aku melihat kecoa disini , dan kini sudah pergi." ucap Sheila beralasan.
"Mana...mana!" gadis itu ikut panik.
"Kecoa nya sudah pergi, tenanglah."
"Gadis itu langsung berjalan keluar toilet dengan cepat meninggalkan Sheila sendiri.
Sheila membasuh wajahnya dengan air kran. Dia masih sangat syok mengingat wajah Rey yang hanya dua senti dari wajahnya.
"Dasar bos mesum, Aku harus lebih berhati hati dan menjaga jarak darinya." ucap Sheila dalam hati.
Beberapa menit kemudian dia keluar dari toilet dan kembali bekerja. Dia tidak jadi memakan sphagetti yang Rey tawarkan.
"Icha kenapa kamu lama sekali di ruangan bos, apa yang kamu lakukan.?" tanya Siti heran.
"Bos mewawancarai aku, menanyakan alasan kenapa aku kerja paruh waktu tidak seperti yang lain. Dia juga mengingatkan peraturan yang wajib aku patuhi." ucap Sheila berasalan.
Tidak mungkin dia menceritakan semua yang terjadi di dalam.
Siti kelihatan tidak puas dengan jawaban Sheila. Dia dulu tidak melakukan wawancara itu.
"Pasti Icha hanya beralasan saja. Aku yakin pasti dia merayu bos di dalam.. Bos kan ganteng dan kaya. Aku harus bergerak cepat sebelum Icha mendapat bos". bathin Siti.
Tunggu keseruan cerita Rey dan Sheila selanjutnya ya....
mohon dukungannya dengan klik like dan vote sebanyak banyaknya. Terimakasih