
Rey langsung melangkah masuk kedalam ruangan mamanya. Saat itu bu Sinta sedang meeting dengan dua orang karyawannya. Melihat kedatangan Rey, Shinta menghentikan rapatnya.
"Kita lanjutkan nanti." ucap Bu Sinta
Kedua pegawai tersebut keluar, menyisakan Rey dan mamanya.
"Secepat itu kau kembali, tak ku sangka, kenapa apa kau sadar, jika kau tak bisa hidup tanpa Mama? apa kau menyesal?" tanya Bu Sinta dengan senyum mengejek.
Rey terkekeh mendengar ucapan mamanya.
"Ibu Sinta yang terhormat, anda terlalu percaya diri." ucap Rey dengan senyum mengejek.
Bu Sinta terkejut, dia pikir Rey datang karena dia menyesal dan ingin kembali padanya.
"Apa yang anda pikirkan nyonya, saya datang kesini bukan untuk melihat anda tapi kedatangan saya untuk memperingatkan anda,
Jangan berbuat sesuatu yang bisa membuat saya melewati batasan saya.
Anda sudah keterlaluan dengan coba membeli butik Tante Mery. Apa anda pikir semua orang sama seperti anda yang gila akan uang."ucap Rey.
"Tapi kau juga tak bisa hidup tanpa uang Rey?" ucap bu Sinta
"Anda benar, tapi beberapa hal anda lupa. Kebahagiaan tak pernah bisa dibeli dengan uang anda, berapa pun itu." ucap Rey lagi.
"Apa anda bahagia setelah mengusirku?
"Apa anda bahagia dengan semua harta yang anda miliki? aku justru kasihan melihat anda, anda memiliki segalanya tetapi anda tidak bahagia, anda kesepian."
"Rey!!!!" bentak Sinta.
"Kenapa, Ma" sahut Rey.
" bukankah semua yang aku ucapkan itu benar! Apakah semua uang anda ini bisa membeli kebahagiaan? anda tetap sendirian nyonya, anda akan menangisi semua kesombongan anda ini pada akhirnya. Silahkan anda menikmati semua kekayaan anda tapi jauh di dalam hati kecil anda, anda pasti kesepian dan tak bahagia." ucap Rey
"Aku cuma mengingatkan, jangan coba coba menyentuh Tante Mery jika Tidak ingin aku berbuat nekad." ucap Rey.
"Apa yang diberi wanita itu, hingga kau jadi seperti ini Rey?"
"Bukan Icha yang membuat ku seperti ini tapi mama. Mama yang membuat diri mama kesepian dan jauh dari kebahagian.
Pernahkah mama bertanya apa mauku?
Tidak, ma...karena mama tidak punya waktu untuk ku."
Setelah bicara Rey keluar dari ruangan mamanya dan pergi meninggalkan mamanya sendiri yang terduduk diam dan menangis.
Bu Sinta yang kesal membuang semua berkas yang ada di mejanya dan dia kembali menangis.
...****************...
Di kampusnya Icha baru saja menemui dosennya dan melakukan bimbingan terakhir. Lusa dia akan maju dan melaksanakan ujian meja hijau. Icha harus belajar agar bisa menjawab semua pertanyaan dosen dan lulus dengan nilai yang baik.
"Halo Rey!" ucap Icha begitu ponselnya tersambung ke ponsel Rey.
"Ya halo." jawab Rey datar.
"Kamu kenapa Rey?"
"Aku tidak apa apa. Kapan kamu pulang. dan bagaimana skripsinya" tanya Rey.
"Rey... "
"Aku sedang jalan pulang, jemput aku di butik ya." Icha mematikan ponselnya dan naik ojek online yang sudah menunggunya.
Dia menuju ke salah satu butik Tante Mery, dan akan kembali bekerja. Icha ingin sebelum pergi dia sudah menyelesaikan tugasnya memeriksa laporan keuangan butik.
Icha sampai setengah jam kemudian dan ternyata Rey sudah menunggunya disana.
"Sudah lama Rey?" tanya Icha.
"Belum, baru juga sampai. Sudah makan?" tanya Rey
Icha menggeleng. "Yuk kita makan dulu," ucap Rey yang sudah menggenggam erat tangannya.
Icha menatap tangannya sekilas dan tersenyum di dalam hatinya.
Rey dan Icha memilih makan di rumah makan padang, dengan menu sederhana. Icha menatap Rey yang sedang asyik memakan makanannya. Tampaknya enak dan dia makan dengan lahap.
Icha juga memakan makannya.
Selesai makan mereka berjalan memasuki butik dan mulai memeriksa laporan yang sudah menumpuk diatas mejanya.