Sheila & Rey

Sheila & Rey
Suasana Baru



Pagi pagi sekali Jimmy sudah berangkat mengantarkan Icha ke Surabaya. Jimmy memilih untuk berangkat dengan menggunakan pesawat terbang. Selain lebih cepat sampai, dengan naik pesawat perjalanan juga lebih nyaman. Mereka berangkat dengan Penerbangan pertama.


Icha diam di sepanjang perjalanan nya. Dia masih bingung, dengan apa yang akan dia lakukan disana. Tidak ada saudara, hanya bibi Jimmy lah tujuannya. Yang terpenting saat ini adalah dia harus segera pergi jauh dari kehidupan Rey, seperti janji nya.


Biarlah Rey nanti menyalahkannya, yang terpenting bagi Icha adalah keselamatan dan kesembuhan Rey. Icha sudah ikhlas melepaskan Rey, yang terpenting Rey bisa segera sembuh.


Icha akan selalu mendoakan nya dari jauh. Biarlah cinta mereka menjadi kenangan indah dalam hidupnya.


Aku tak pernah menyesal pernah mencintai mu, Rey. Maafkan aku, aku melakukan Ini semua demi dirimu. Aku ingin kau segera sembuh. Aku mencintai mu, Rey. Maafkan aku, aku harus pergi." bathin Icha


Perjalanan yang cukup panjang telah berakhir. Kini Jimmy dan Icha telah sampai di kediaman bibi Jimmy di sebuah kampung di Surabaya.


Bibi Jimmy memiliki sebuah toko pakaian, sederhana namun lengkap.


Dia tinggal sendiri, oleh karena itu kemaren saat Jimmy menelponnya dan meminta agar Icha tinggal dengannya, bibi nya langsung menyetujuinya.


"Bu, ini Icha yang aku ceritakan kemaren?" ucap Jimmy memperkenalkan Icha.


"Merlinda, biasa di panggil bibi Merlin." ucap Merlin.


"Icha Tante." ucap Icha pelan.


"Cha, ini Tante aku, kamu nggak usah sungkan Tante aku baik kok, ya kan Tante?" ucap Jimmy kearah bibi Merlin.


"Jangan panggil aku Tante, ini di kampung Jim. Orang nanti beranggapan lain tentang ku?" protes Merlin.


Jimmy tertawa. Dia senang mengganggu bibinya, Merlin memang tidak suka di panggil tante, karena di kampung ucapan tersebut identik dengan hal hal buruk. Jadi dia lebih senang di panggil bibi.


"Maafin aku bi. Oh ya, Cha. Kamu jangan sungkan, kamu boleh tinggal di sini sampai kapan pun kau suka, ya kan bik?" tanya Jimmy lagi.


"Benar, bibi sangat senang jika memiliki teman. Dan bibi rasa kita akan cocok. Bibi jadi merasa memiliki anak lagi, apalagi perempuan, wah asyik bisa diajak masak bareng, belanja dan temen ngobrol." ucap Merlin antusias.


Merlin sudah menatap kesal ke arah Jimmy. Namun Jimmy cuek dan tak menanggapinya.


"Siang ini aku akan balik, Karena banyak pekerjaan yang aku tinggalkan." ucapnya lagi.


"Kak, terima kasih." ucap Icha pelan berjalan dan memeluk Jimmy.


Jimmy membalas pelukan Icha.


Andai kau tahu, aku akan sangat bahagia jika aku bisa lebih dari seorang kakak buatmu. Tapi tak apa, seperti ini saja aku sudah merasa senang. Aku harap suatu hari nanti perasaan itu bisa berubah Cha, dan kau bisa menerima ku." ucap Jimmy di dalam hatinya.


"Udah donk, ntar aku nggak jadi balik nih, kalau kau nangis terus." ucap Jimmy melepaskan pelukannya.


Setelah makan bersama, Jimmy pamit berangkat balik ke Jakarta.


Icha mengantar Jimmy sampai di depan teras. "Jaga dirimu baik baik Cha. Jangan sungkan untuk menelpon ku, kapan pun kau ada masalah." ucap Jimmy.


"Baik kak, terima kasih." ucap Icha lagi.


Jimmy mendekat dan mencium kening Icha. Kemudian dia berbalik dan berjalan menjauh tanpa menoleh kebelakang. Jimmy takut, jika dia menoleh hatinya semakin tak kuat, dia takut Icha bisa melihat cinta dimatanya.


"Masuklah nak." ucap Bu Merlin.


Icha menoleh, "Ya Bik." jawabnya dan menutup pintu.


Icha duduk di tepi tempat tidurnya setelah selesai mandi. Tadi dia dan Merlin sudah sempat mengobrol sebentar.


Mulai besok Icha akan membantu Merlin di tokonya. Icha memaksa Merlin menerimanya bekerja, selain karena segan tinggal menumpang tanpa berbuat apapun, Icha berasalan jika dia takut merasa bosan sendiri di rumah, Icha juga ingin agar dia bisa melupakan kesedihannya.


Icha tak mungkin selamanya menumpang kepada Merlin, dia sudah berencana untuk menabung dan segera mencari rumah kost jika sudah memiliki uang yang cukup.