Sheila & Rey

Sheila & Rey
Pisang Goreng



Icha bangun pagi seperti biasa, Segera bersiap setelah mandi dan menyelesaikan kewajibannya.


"Pagi Bik." sapa Icha kepada bik Sumi


"Pagi Cha," jawab Bik Sumi dan duduk di meja makan berhadapan dengan Icha.


Buk Sumi memperhatikan penampilan Icha yang menurutnya jauh lebih cantik dari biasanya.


"Cha, kamu cantik sekali hari ini? mau ketemu pacar ya?" goda Bik Sum


"Enggak ah Bik, Icha mau bekerja. Icha di terima di tempat Icha magang Bik." jawab Icha


dia duduk dan mulai menyantap nasi gorengnya.


"Alhamdulillah, selamat ya, bibik ikut senang mendengarnya."


"Tapi bik, Icha jadi jarang ke butik donk Bik, nggak bisa bantuin bibik lagi."


"Nggak apa apa Cha. Tenang aja, kan banyak pekerja bubuk yang jagain toko, tugasmu bantu bibi memeriksa laporan keuangan, Ok!


"Kalau itu Icha bisa bik. Siiip bibiku yang cantik. Ya udah Icha berangkat dulu ya, assalamualaikum" Icha mencium pipi dan tangan Bik sum lalu berangkat.


Sampai di depan rumah, Icha sudah di tunggu oleh ojek online yang sudah dia pesan tadi melalui aplikasi.


"Maaf menunggu mas." ucapnya ramah kearah tukang ojek.


"Baru nyampe Bu." jawab tukang ojek


Mereka segera berangkat, hari ini Icha menggunakan celana pensil plus jas yang sangat pas dan terlihat sangat cantik di tubuhnya.


"Pagi, mbak." ucap Icha menyapa sekretaris Rey


"Pagi" jawab Sinta


Icha masuk dan merapikan meja Rey, menyediakan air dan kembali duduk di meja yang telah disediakan untuknya.


Sepuluh menit kemudian Rey sampai bersama pak Budi.


"Buatkan aku kopi!" perintah Rey


Icha bergegas membuatkan kopi untuk Rey dan membawanya ke hadapannya.


Rey mencicipinya dan memuntahkannya. "Apa kau ingin membuatku diabetes? ini terlalu manis." ucap Rey


Icha kembali ke pantry dan membuat lagi kopi untuk Rey, kali ini dia menggunakan setengah sendok teh gula. Setelah selesai dia kembali membawanya ke hadapan Rey.


"Ini pak kopinya." ucap Icha meletakkan kopi di hadapan Rey dan tersenyum paksa.


Rey mencicipi kopinya sambil memegang berkas di tangannya.


"Lumayan." ucap Rey


"Oh ya, belikan saya sarapan."


"Saya pak?" tanya Icha


"Iya, kamu. Siapa lagi? kamu kan sekretaris pribadi saya." jawab Rey ketus.


Mengapa sikap menyebalkan mu nggak hilang juga sih Rey. Selalu saja mengerjai aku, awas kalau sampai minta yang macem macem.


"Kau belikan saya pisang goreng," ucap Rey santai


"Nggak salah pak? bapak pesan apa?"


"Saya paling tidak suka mengulang perkataan saya, saya mau pisang goreng, sekarang. Cepat!" ucap Rey


"Baik pak." ucap Icha


Dengan perasaan dongkol dan hati kesal, Icha keluar ruangan dan pergi mencari pisang goreng pesanan Rey.


"Pak Budi, suruh seseorang mengikutinya. Awasi dia jangan sampai sesuatu yang buruk terjadi padanya." perintah Rey


Pak Budi segera menelpon seseorang untuk mengikuti Icha.


Icha sudah berkeliling mencari penjual pisang goreng, namun nasib buruk sedang berpihak padanya, sampai saat ini dia belum juga menemukan pisang goreng pesanan Rey.


Icha terus berkeliling, dan tak sengaja melihat seorang anak menjual gorengan diatas tampah, Icha memanggilnya dan akhirnya dia menemukan pisang goreng pesanan Rey. Dengan langkah cepat, Icha bergerak menuju kantor membawa pisang goreng bosnya.


"Ini pak pesanannya."


"Letakkan disitu ,saya sudah tak berselera. Kau terlalu lambat." jawab Rey


Emosi Icha baik ke ubun ubun, Dia merasa jika Rey hanya mengerjainya.


"Bapak ngerjain saya?" ucapnya lantang.


Rey menyuruh pak Budi keluar dengan isyaratnya. Pak Budi segera keluar meninggalkan mereka berdua.


"Tidak, tadi saya memang kepingin makan pisang goreng, tapi sekarang sudah tidak lagi." jawab Rey santai.


"Bapak tahu nggak, saya sudah berkeliling mencari penjual pisang goreng itu, dan bapak seenaknya mengatakan sudah tidak menginginkannya." ucap Icha dengan penuh emosi.


"Kenapa? kau marah?" tanya Rey menatap Icha.


Icha menarik nafas dalam dan membuangnya kasar. Dia memejamkan matanya, dan kembali menatap Rey dengan marah.


"Terserah," ucapnya mengalah dan berbalik tapi baru akan melangkah lengannya sudah di cekal oleh Rey.


"Kau kesal? marah?" tanya Rey lagi


"Tidak!" jawab Icha ketus


"Itulah yang kurasakan Cha, aku marah, aku kesal karena kau menolak ku. Kau membohongi dirimu sendiri. "


Icha berbalik menatap Rey. "Tidak ada hubungannya dengan hubungan kita, kita sudah berakhir."


"Tapi aku tidak mau ini berakhir, aku mau dirimu. bertahun aku mencarimu, tapi sedikitpun bayangan mu tak ku temukan. Hingga saat kita bertemu kau malah menolakku." ucap Rey


"Lepaskan aku!"


Rey menyentak tangan Icha kuat hingga dia tertarik dan menabrak tubuh Rey.


"Kau bisa mendengar detak jantungku Cha, masih sama seperti yang dulu. Apa kau menolakku karena aku cacat!"


"Ti..tidak. Aku....aku ..." Icha bingung harus menjawab apa. Dia menatap Rey yang berjarak hanya beberapa senti dihadapannya. Rey melingkarkan tangannya di pinggang Icha.


"Bahkan detak jantungmu juga masih sama Cha." ucapnya.


"Lepas Rey," ucap Icha berontak.


Rey tersenyum tipis tiba tiba "Cup..."


Rey menempelkan bibirnya di bibir Icha, sontak Icha menolaknya dengan membuang mukanya.


Rey yang kesal atas penolakan Icha, memegang belakang kepala Icha dan kembali menciumnya dengan paksa.


"Katakan jika kau tidak merasakan debaran yang ku rasakan." ucap Rey setelah melepas ciumannya. Icha mengatur nafasnya yang ngos ngosan akibat ulah Rey.


"Kau masih belum mengakui hatimu?" tanya Rey


"Aku tidak mencintaimu, Rey. Lepaskan aku!" ucap Icha


Rey kembali menciumnya kali ini lebih kasar, dan menggigit bibir tipis Icha.


"Ampuni aku Rey, lepaskan aku!" ucap Icha dengan berderai airmata.


"Apa kau masih belum mengakui perasaan mu?" tanya Rey


Apa jawaban Icha???