
Icha keluar dari kelas. Mata kuliah hari ini telah selesai. Jam menunjukkan pukul satu siang. Dia merogoh sakunya dan mengambil ponselnya.
"Yah..lowbat." ucapnya. Dia mengembalikan ponsel tersebut ke dalam tas. Icha berjalan pulang ke rumahnya. Dia harus bergegas karena akan masuk kerja.
Didepan gerbang Icha melihat mobil Rey masih terparkir rapi. " Dia belum pulang, tapi dimana dia ya?" Icha celingak-celinguk mencari Rey tapi tak terlihat.
"Kenapa aku mencarinya. Dia kan bukan siapa siapaku!" ucap Icha dan terus berjalan ke luar gerbang.
Pukul dua empat puluh lima Icha sudah Sampai di kafe. Icha mengganti bajunya dan bersiap.
"Hai, Cha.. tumben hari ini cepat?" ucap putri.
"Kebetulan hari ini mata kuliahnya cepat berakhir." Jawab Icha cepat dan pergi meninggalkan putri menuju ke dapur.
"Cha....kamu sangat cantik hati ini.!" ucap Aldi. Icha tersenyum."Kau ini, baru juga ketemu dah gombal. Jadi kemaren aku nggak cantik, ya?" ucap Icha manyun.
Sambil menyusun makanan yang akan dia antarkan.
"Bukan begitu cha, kamu cantik tapi hari ini
kamu terlihat lebih cantiik." puji Aldi lagi.
Icha sudah bersiap mengantarkan pesanan. Ucapan Aldi menghentikan langkahnya.
"Ngomong ngomong, Gimana kalau Minggu depan kita jalan. Minggu lalu kan nggak jadi. Minggu ini Bisa ya?" ucap Aldi.
"Aku nggak janji ya. Takutnya nanti kalau janji terus nggak jadi, kamu pasti kecewa." ucap icha. Dia melangkah meninggalkan Aldi dan mengantarkan pesanan nya.
"Aku tunggu Cha" teriak Aldi. sedikit lebih keras.
Icha terus berlalu. "Susah sekali menolaknya!" bathin Icha.
Dilain tempat Rey masih menungu Icha di rooftop. Dia semakin kesal karena Icha tak kunjung datang. Dilihatnya pesan yang dia kirim belum juga dibaca oleh Icha.
Jam ditangan Rey sudah menunjukkan pukul lima sore. Rey turun dengan gontai. Icha tak juga datang.
Rey masuk ke mobilnya dan melajukannya ke kafe miliknya. Dia yakin Icha pasti sedang berada disana.
Rey turun dengan tergesa. Dia masuk dan dilihatnya Icha sedang asyik melayani pelanggan.
"Baik, Bos!" jawab Siti cepat.
Siti bergegas membuatkan minuman yang dipesan Rey dan meminta Icha mengantarkan nya pada Rey.
"ini juice nya, Pak" ucap Icha. Dia meletakkan juice pesanan Rey.
Rey menoleh kearahnya . Icha yang dipandang merasa aneh. "Kenapa dia memandangku begitu. Apa ada yang salah dengan penampilan ku. seperti nya biasa aja." bathin Icha.
"Mana ponselmu?" tanya Rey.
Icha merogoh sakunya. "Tidak ada!" ucapnya pelan. "Tadi Baterai ponsel ku habis dan aku mengecas nya di rumah. karena buru buru aku lupa membawanya! Memang ada apa?" tanya Icha polos.
Rey hendak marah, namun melihat wajah Icha yang polos dan jujur. Kemarahan Rey seketika menguap. "Sudah sana kembali bekerja. Aku tidak mau rugi karena sudah membayar mu tapi kau malas dan mengobrol saat bekerja." ucap Rey.
Icha tampak marah dan memanyunkan wajahnya. Rey bertambah gemas melihatnya.
Icha keluar ruangan sambil mengumpat. Dia marah Rey mengerjainya. "Huh..dasar! Manggil aku cuma nanyain ponsel ku doang, huh!!" ucap nya dalam hati.
Dia melanjutkan pekerjaannya.
Sementara Rey menikmati juice. Dia tersenyum sendiri mengingat wajah kesal Icha.
.
Icha terus sibuk bekerja. Setelah selesai Icha bersiap siap untuk pulang ke rumah. Semua pelanggan sudah pulang. Icha keluar dari kafe tepat jam sepuluh malam. Aldi sudah menunggunya.
"Bareng yuk!" ajak Aldi sudah bersiap diatas motornya.
Icha awalnya ingin menolak tapi merasa tidak enak karena sudah menolak nya beberapa kali. "Aku pulang bareng Aldi aja, lagian ini sudah malam." bathin Icha.
"Ya udah aku ikut, tapi jangan ngebut ya!" ucap Icha sambil tertawa kecil. Dia naik ke atas motor Aldi. Dan mereka langsung berangkat.
dari kejauhan Rey melihat mereka. Tadi dia tergesa ingin segera ke parkiran dan mengajak Icha pulang bareng. Tapi sudah keduluan Aldi.
Rey masuk ke mobilnya dan melajukannya kencang.