Sheila & Rey

Sheila & Rey
Persiapan



Icha memegangi dadanya. Jujur saat bersama Rey detak jantungnya berdetak lebih kencang. Icha masih dapat merasakan ciuman Rey tadi.


Dia kembali memegang bibirnya. Icha mengusapnya pelan.


"Ku nggak boleh kecolongan lagi. Sudah dua kali dia mencium ku. Aku harus lebih berhati hati. Aku nggak boleh dekat dekat dengannya."


Icha berjalan menuju kamar dan merebahkan dirinya di kasur. Bayangan wajah Rey dan ciumannya terus berputar di kepalanya.


Matanya enggan terpejam. Icha sudah berusaha tapi tetap nggak mau tidur.


Rey juga sedang berbaring di tempat tidur nya. Dia kembali teringat dengan icha, Rey tersenyum sendiri mengingat reaksi Icha saat dia menciumnya. Benar benar masih polos. Ciuman nya masih terasa manis. Tanpa sadar Rey memegang bibirnya.


Rey tak dapat mengontrol dirinya saat melihat bibir Icha yang merah menggoda. walaupun tanpa lipstik. Seperti ada magnet yang menariknya.


Rey tersenyum sendiri ...


Ponsel Rey tiba tiba berdering.


"Halo, Rey besok kamu ikutkan?" tanya Roni begitu ponselnya tersambung.


"Iya, kenapa?" tanya Rey.


"gue cuma mastiin aja. Oh ya, gue nebeng ma elo ya?" males mau bawa mobil sendiri."


" ya udah, besok kita bareng aja. Ketemu di kampus aja, Ok!" jawab Rey.


"Siiip" balas Roni.


Rey mematikan telponnya.


oh iya Icha ikut nggak ya???


aku pastiin dulu ah.. ucap Rey pelan. Dia kembali mengambil handpone nya.


"cupu, besok kau harus ikut dalam acara kemping. Jika tidak, aku akan mencoret namamu dari daftar penerima beasiswa. Ingat persiapkan semua kebutuhanku."


Ting pesan terkirim.


Icha membaca pesan tersebut dengan hati geram. Dia memang akan ikut acara tersebut. Dan sudah meminta ijin pak Budi. Tapi kenapa kini Rey mengirimkan pesan yang sangat menyebalkan.


Icha meletakkan ponselnya tanpa menjawab pesan Rey.


Rey masih menunggu balasan pesan dari Icha tapi tidak ada. Karena tidak sabar, Rey menelponnya.


derrrrrt..derrrrrt... ponsel Icha berdering.


pasti Rey ucap Icha. Benar saja memang Rey yang menelponnya. Icha tidak mengangkatnya.


ponselnya terus saja berdering, akhirnya Icha mengangkatnya juga. Rey memang sangat menyebalkan gerutu Icha.


"Halo" jawab Icha dengan suara serak orang bangun tidur.


"Kenapa lama sekali mengangkat. telponnya." bentak Rey.


Icha sampai menjauhkan ponsel dari telinganya. "Aku ngantuk, ada apa sih?" jawab Icha.


"Besok, kau harus ikut acara kemping itu. Dan ingat tugasmu selalu mempersiapkan semua kebutuhan ku disana. Paham!" ucap Rey.


"Kau..


Tut...Icha sudah mematikan ponselnya. Rey menjadi marah dan membanting ponselnya di tempat tidur.


"Berani sekali dia memutuskan telponku disaat aku masih bicara. Awas saja dia besok. Aku akan menghukumnya." ucap Rey geram.


Besok dia dan teman temannya akan berangkat ke puncak. Acara nya di adakan disana. Sebenarnya berangkatnya siang hari jam dua. Tapi persiapan nya sudah sejak pagi hari.


Akhirnya Rey tertidur juga. Sementara Icha sudah lelap dengan mimpi indah sejak tadi.


*****


Pagi pagi sekali Rey sudah berada di depan rumah Icha.


"Buka pintunya, aku sudah di depan" pesan masuk yang dikirim oleh Rey.


ada apa lagi dia pagi pagi sudah disini. bathin Icha.


Icha membuka pintu.


"Ada apa?" tanya Icha masih jutek. Dia masih kesal dengan sikap Rey kemaren.


"Ayo ikut aku belanja. Aku nggak mau nanti mati kelaparan disana. Cepat lah, aku tunggu di mobil". Rey berlalu setelah mengucapkan kalimat itu.


Icha dengan kesal akhirnya mengunci pintu dan mengikuti nya.


Mereka pergi berbelanja ke mall. Icha memilih beberapa Snack dan keperluan kemping secukupnya. Rey melirik troli belanjaan Icha. Sedikit sekali yang dia beli. Bathin Rey.


Rey mengambil lagi beberapa jenis cemilan dan makanan.


"Kenapa banyak sekali?" Protes Icha.


"Terserah aku, uang juga uangku. Kenpa kau yang protes?" ucap Rey membuat Icha emakin kesal. Setelah selesai membayar tagihan Rey mengajak Icha berbelanja pakaian. Rey membeli kaos dan kemeja untuknya dan jaket untuk Icha. Dia tahu pasti cuaca disana dingin. Karena mereka akan ke kemping dekat dengan pantai. Dan Icha tidak memiliki jaket.


Setelah selesai membayar, Rey memberikan jaket tersebut kepada Icha.


"Nih, buat kamu!" ucap Rey.


"Buat ku, tidak perlu. Aku bisa pake jaket aku yang lama." tolak Icha.


Rey heran melihat Icha. Biasanya para cewek yang dia bawa ke mall akan kalap dan membeli semua yang dia lihat. Berbeda dengan Icha yang tampak cuek, bahkan jaket ini pun dia tolak. sungguh gadis yang sangat berbeda, ucap Rey dalam hati.


"Aku tidak mau, kau beralasan sakit nanti disana. Dan tak bisa menyediakan semua kebutuhan aku. Ingat perjanjian kita. "Ucap Rey . Dia tidak mau Icha menolak pemberiannya.


Belum Icha membantah, Rey sudah menatap nya tajam. Icha hanya bisa menerimannya dengan pasrah.


Rey tersenyum penuh kemenangan.


Setelah itu mereka langsung pulang ke rumah. Icha turun dan Rey melanjutkannya perjalannnany ke rumahnya.


Rey akan bersiap siap. Rey sangat bersemangat untuk kemping kali ini.


Icha masuk ke rumahnya dan menyusun perlengkapan yang akan dia bawa. Tasnya penuh, bukan karena perlengkapan nya. Tapi oleh perlengkapan dan makanan Rey. Icha menggerutu sebal melihatnya.


Dengan susah payah Icha mengeluarkan tas dan ranselnya Dia mengunci.pintu dan bersiap ke kampus.