
Pagi ini Sheila sudah merasa lebih baik. kemarin dia sudah meminum obat yang dibawakan oleh Rey. Setelah Rey pulang dia pun langsung beristirahat.
Sheila memasak makanan untuk bekal Rey. Setelah selesai dia sarapan dan mandi. kemudian menyusun bekalnya dan bersiap ke kampus. Tak lupa dia merubah penampilan nya. kacamata tebal dan rambut di kepang adalah ciri khas nya.
Icha berjalan masuk ke dalam kampus. Yuni sudah menunggu disana.
"Pagi Cha, Gimana keadaan kamu??" tanya Yuni khawatir.
"Aku nggak apa apa! kamu nggak usah khawatir." jawab Icha.
"Cha, kita Harus balas mereka nanti!" ucap Yuni.
"Tidak usah, aku malas berurusan dengan mereka. Pasti tidak akan ada habisnya. Sudah lah lebih baik kita menghindari mereka."
"yuk masuk!" Icha menarik tangan Yuni. mereka berjalan menuju kelas nya.
Sampai di dalam kelas. Dimas sudah duduk tepat disebelah kursi Icha.
"Cha loe nggak apa apa? kata anak anak Lo habis di keroyok Selina dan anggota nya.
Sheila mengangguk. " Ya, tapi aku nggak apa apa kok, nih lihat!"
Dimas terus memperhatikan Icha. Entah kenapa dia suka memperhatikan Icha dan merasa tertarik dengan nya.
Sheila meletakkan tasnya dan mengambil kotak bekal nya. Lalu berjalan menuju ke ruangan Rey. Ruangannya kosong, Rey belum datang. Meletakkan bekalnya dan berjalan keluar.
Di depan pintu Selina sudah berdiri menunggunya. Sheila terlonjak kaget.
Selina maju dengan wajah penuh amarah.
Ditariknya rambut Sheila.
"Hei, cupu. Kamu berani ya menantang aku. Bukankah sudah aku bilang kemarin jangan dekati Rey, dia itu pacarku..Nampaknya peringatan semalam belum.cukup ya!" bentak Selina.
Sheila meringis menahan sakit.
"Bu...bukan se..pergi itu, kak? Aku hanya mengantar pesanan kak Rey," jawab Sheila.
Selina melayang tangannya ingin menampar Sheila, Sheila sudah memejamkan matanya.
Belum sempat tangan tersebut mendarat, Rey sudah menahannya.
Rey mencengkram.erat tangan Selina. Dia marah Selina mau menampar Icha.
"Siapa yang mengijinkan mu menindas nya? Siapa???? bentak Rey pada Selina.
Selina kaget. Selama ini Rey sangat baik kepadanya, tidak pernah memarahinya. Dia semakin membenci Sheila.
"Ta...tapi Rey ?? jawab Selina terbata bata.
"Jangan ikut campur urusanku. Dan ingat jangan pernah mengusiknya lagi. Atau kau akan tahu sendiri akibatnya." Rey menghempaskan tangan Selina. Dan menarik tangan Sheila masuk ke ruangan nya.
selina.hanya melihat dengan wajah penuh amarah.
"Awas saja. Tunggu pembalasanku Sheila. Kau telah berani mengambil Rey dariku.aku tidak akan membiarkan nya." gumannya.
Rey masuk dan masih terus menarik tangan Sheila. Sheila meronta, tapi tenaga Rey lebih kuat hingga dia hanya bisa mengikuti nya.
"Apa kau bodoh, hingga mau dintindas begitu saja. Apa kau tidak bisa melawan, Ha??? bentak Rey.
Icha terdiam, "Apa apaan dia kenapa dia memarahi aku. bukankah aku disini hanya korban". Bathin Icha
"Jawab!!!" bentak Rey lagi.
Icha sampai terlonjak karena terkejut.
"A..aku mana bisa melawan mereka dalam jumlah banyak sedangkan aku sendiri. Ini semua juga karena kamu! tunjuk Icha pada Rey. Dia begitu karena cemburu padaku. Kamu yang membuat aku seperti ini. Seenaknya saja kalian memperlakukan orang miskin seperti aku. Kau menindasku. Dia juga. Kalian memang orang kaya yang jahat." ucap Icha.
setelah bicara seperti itu dia lari keluar ruangan Rey.
Icha sedih,nasibnya sungguh malang. Semua orang di kampus ini memusuhinya. Icha berjalan ke taman dan menangis.
Dimas cemas menunggu Icha tak kembali juga. Dia keluar kelas dan mencarinya.
dilihatnya Icha ssdang duduk di kursi sambilmmenangis.
"Dia menangis" bathin Dimas.
Dimas berjalan mendekat dan duduk di samping Icha.
"Nih..." menyerahkan sapu tangannya.
Icha menerimanya dan menghapus airmata nya.
"Loe kenapa, cerita ma gue. kita kan teman.!" ucap Dimas.
Lama Sheila terdiam. Dia masih terisak.
"Ya udah kalau belum mau cerita, hapus donk air matanya. Kamu tambah jelek kalau nangis." ucap dimas lagi.
Sheila menghapus air matanya. "Kenapa orang kaya itu jahat ya? mereka selalu seenaknya?? apa orang miskin seperti aku hanya untuk mereka hina? Apa akuntidak pantas menimba ilmu sama seperti mereka.? ucap.icha di sela tangis nya.
"Sudah lah Cha. Bersabar lah." dia meraih kepala Icha dan meletakkan nya di pundaknya.
"Ada aku yang akan selalu ada untukmu." Ucapnya.
Rey tidak mencegah Icha pergi dan juga tidak mengejarnya. Dia duduk memikirkan apa yang sudah Ichal katakan tadi.
lama dia berpikir, tapi belum juga mendapatkan jawabannya.
Rey berdiri meraih tas. Dan memasukkan kotak bekal Icha ke dalam tasnya. Rey keluar menuju kelasnya.
sampai di kelas, beni sudah duduk manis di dalam tak jauh darinya Roni sedang duduk bermain harminoka. Rey memilih duduk di belakang.
"Hey...kenapa wajahmu pagi pagi sudah kusut? ejek Beni.
Rey mendengus kesal. Tanpa menjawab dia
duduk di kursinya.
Dosen datang dan mata kuliah pun dimulai. Rey mengikuti pelajaran dengan malas.
pikirannya melayang memikirkan ucapan Icha tadi.
Setelah selesai dia langsung keluar diikuti oleh beni dan Roni.
Rey berjalan ke rooftop. Mereka selalu menghabiskan waktunya di sana. Rey duduk dan membuka bekal makanan yang dia bawa.
"Wah, enak tuh. Bagi Rey," ucap beni ingin mengambil makanan Rey.
Dengan cepat Rey menarik kotak bekal nya dan menepis tangan beni.
"Enak saja, tidak boleh ini milikku."
"Dikit aja Rey, pelit amat!"
"Nggak boleh!"
Beni mendengus kesal.
"Loe masih suruh Icha buatin bekal buat lie? tanya Roni
Rey mengangguk sambil terus makan.
"Sampai kapan loe kerjain tu anak, kasian Rey.' ucapnya Roni.
"Itu urusan gue,kenapa loe yang sewot." Rey terus melahap bekalnya.
Roni kesal mendengar jawaban Rey. dia berjalan menuju pintu keluar dan turun dari sana. Beni bingung dibuatnya. tidak biasanya mereka bertengkar apalagi masalah cewek.
"Rey ..." panggil beni.
"Hmmmm..." jawab Rey.
"Loe suka sama Sicupu?"
Rey berhenti makan mendengar ucapan beni. "ya enggak lah" jawabnya.
Beni diam mendengar jawaban Rey.
****
Dilain tempat setelah habis pelajaran Icha dan Yuni bersiap untuk pulang. Didepan sudah berdiri Cici salah seorang anggota Selina.
"Sheila, Selina memanggilmu dan ingin minta maaf, ayo ikut aku." ucapnya.
"Kenapa harus ikut, lagi pula aku sudah memaafkannya. jawab Sheila.
"Dia ingin minta maaf secara langsung, yuk sebentar saja. " Cici menarik tangan Sheila.
"Tunggu bentar ya." ucap Sheila pada Yuni.
"Aku ikut" jawab Yuni.
"Tidak. usah, cuma sebentar kok." ucap Cici tetus Menarik tangan Sheila untuk mengikutinya.
Sheila sampai di depan toilet. Selina dan teman teman nya sudah menunggunya disana. Sheila heran kenapa dia dibawa kesini.
Selina memegang baju Sheila dengan kuat. dua orang temannya memegang tangan Sheila.
"Kau,... gara gara kau Rey sampai memarahi aku. Aku akan memberi mu pelajaran yang tidak akan kau lupakan seumur hidupmu. siram dia!" perintah Selina.
beberapa orang menyiramnya dengan air kotor dan bau. seluruh tubuhnya basah dan kotor. Kemudian mereka menarik tangan nya dan memasukkan ke dalam toilet yang paling sudut. Dan meletakkan bacaan Toilet Rusak, di depan pintunya. Jadi tidak akan ada orang yang menyelamatkan nya.
Setelah itu mereka meninggalkan toilet tersebut. Dengan tertawa lepa Selina meninggalkan kampus. Dia puas telah menyingkirkan Sheila.
Cici kembali menemui Yuni.
"Kamu pulang saja, Sheila sudah diantar pulang dengan Selina." ucapnya.
Yuni coba menelpon Sheila tapi nomor yang di telpon tidak aktif. Akhirnya dia berjalan pulang .