Sheila & Rey

Sheila & Rey
kontrak



Maafkan aku Rey?" ucap Icha menangis.


"Kau tidak perlu minta maaf, aku bahagia karena sudah menemukanmu kembali." ucap Rey mengecup puncak kepala Icha.


" maaf tapi aku tidak bisa kembali padamu." ucap Icha menunduk.


"Kenapa, apa karena aku cacat? kau malu?" ucap Rey dengan nada sedih


"Bukan karena itu, tapi aku benar benar nggak bisa Rey."


"Aku tahu, kau masih mencintai ku, ya kan??"


Lihat aku, katakan jika kau tidak mencintai ku." ucap Rey dengan keras. Terdengar nada menuntut dari suaranya.


"Aku ... aku tidak mencintaimu, maafkan aku." ucap Icha.


Setelah itu dia mendorong Rey dan bangkit dari duduknya. Icha berjalan keluar ruangan. Didepan pintu dia kembali berucap "Aku bersyukur bisa melihatmu lagi, tapi setelah ini lupakan aku, dan aku juga akan melupakan mu. Ini adalah hari terakhirku disini. Aku mohon jangan mencariku." ucapnya.


Rey membanting vas bunga diatas meja. Rey sangat kesal karena Icha menolaknya.


Icha segera berlari ke kamar mandi. Disana dia menangis sejadi jadinya.


"Maafkan aku Rey, aku sangat mencintaimu, tapi aku telah berjanji untuk meninggalkan mu dan aku emang tidak pantas bersanding denganmu." ucapnya pelan.


Setelah puas menangis, Icha mengusap airmatanya dan mencuci wajahnya di westafel.


Icha kembali keruangannya untuk melanjutkan pekerjaannya kembali.


Baru sepuluh menit Icha bekerja, pak Devan kembali memanggilnya masuk kedalam ruangan nya.


"Ada apa lagi ini, jika ku harus keluar hari ini, aku siap. Lagipula laporan ku juga sudah di ACC." bathin Icha.


"Siang pak," sapa Icha ramah.


"Silahkan duduk, Sheila." ucap pak Devan.


"Sebenarnya saya suka dengan kinerja mu disini dan saya merasa kamu juga berbakat. Namun ternyata penilaian boss berbeda


" ucap pak Devan sengaja menggantung.


"Saya tahu pak, saya tidak masalah jika di pecat sekarang juag." jawab Icha.


"Dipecat?? Siapa yang bilang kau akan di pecat" tanya pak Devan heran.


"Pak Reyhan meminta mu menjadi asisten pribadinya," ucap pak Devan.


"Maaf pak, tapi saya tidak bisa. Saya hanya bekerja hingga batas waktu magang saya, selebihnya saya menolaknya karena saya ingin berkonsetrasi dengan kuliah saya." ucap Icha.


Disaat yang sama pintu terbuka. Pak budi mendorong kursi roda Rey.


"Maaf nona, tapi anda sudah menandatangani kontrak kerja anda selama satu tahun kedepan. Jika anda membatalkannya sepihak anda harus membayar denda 1 milyar rupiah." ucap pak Budi.


"Maaf pak, saya tidak menandatangani kontrak tersebut. Jadi saya tidak mau. " ucap Icha tegas.


Rey tertawa melihat nya, Inilah yang dia suka dari Icha, tegas dan berani saat dia benar, walau dia ditindas, dia akan tetap berontak.


"Kalian boleh pergi." ucap Rey mengusir Devan dan pak Budi.


"Apa maksudmu?" ucap Icha suaranya sudah meninggi.


"Tenanglah sayang ..


Lihat ini, bukankah ini tanda tanganmu, Aku bisa menuntutmu jika kau tidak mau bekerja sama" Rey melempar salinan kontrak kerja Icha.


"Aku tidak pernah menandatangani ini, ini palsu" bantah Icha.


hahahaha


Rey mentertawai Icha yang terlihat panik. "Silahkan saja, Ini asli tanda tangan mu." ucapnya.


Icha melihat tanda tangan tersebut dan benar itu adalah tanda tangannya. Matanya membulat tak percaya.


"Aku tidak menandatangani ini" ucap Icha lirih


"Mulai besok bersiap lah Karena kau akan menjadi sekretaris pribadi seorang Reyhan. Kamu juga harus terlihat cantik, elegan dan yang pasti perhatian." ucapnya.


Icha berjalan keluar ruangan dan duduk lemas di salah satu meja kosong disana matanya menerawang jauh.


"Apa yang bisa aku dapatkan dari ini semua? aku pergi jauh menghindarinya, tapi mengapa takdir membawanya kembali kesisiku."


"Mau sampai kapan anda bengong disitu, cepat buatkan aku minum" ucap Rey yang sudah berada tak jauh darinya.


Icha berjalan ke pantry dan membuatkan kopi Rey .


"Ini kopinya tuan" ucap Icha meletakkan kopi di hadapan Rey .