Sheila & Rey

Sheila & Rey
Aku ingin kembali



Icha masuk ke dalam kamar mandi, setelah selesai mandi. Dia kebingungan. Bajunya sudah basah dan kini dia rendam di kamar amndi. Dan dia tidak membawa baju ganti. Bagaimana ini?" pikirnya.


Dia membuka pintu kamar mandi dan mengintip keluar, "Tidak ada orang" pikirnya. Icha keluar dan berjalan mengendap endap menuju lemari pakaian. Dia membukanya dan melihat isinya. Semua Hanay pakaian pria. Tidak ada satupun pakaian wanita.


Setelah lama melilihbakhkrnya Icha mengambil.kaos oblong Rey yang kedodoran di badannya. Mau gimana lagi. Tubuh nya dan Rey sangat berbeda. Rey tinggi besar sedangkan Icha kecil dan imut.


Icha memakainya dan tertawa sendiri di depan kaca. Dia seperti orang orangan sawah.


Icha keluar kamar. Rey yang melihat penampilan Icha hanya bisa menelan ludahnya. Bagaimana tidak Icha terlihat sangat seksi dengan kaosnya yang kedodoran. Ditambah dia tidak menggunakan pakaian dalam. Jelas terbayang bukit kembarnya. Pikiran kotor Rey sudah melayang kemana mana.


Rey hanya bisa menelan salivanya. Jiwa kelelakian nya bangkit. Sesuatu dibawah sana sudah berdiri dan tegang.


Rey berusahaentuasai dirinya. Dia membuang muka tak ingin melihat Icha. Dia takut akan hilaf melihat pemandangan indah di depan matanya.


"Rey...." panggil Icha.


"Ya...." jawab Rey.


"Kamu kenapa, kok dari tadi kamu buang muka aja. Kamu marah ma aku?" tanya Icha polos.


Rey mengutuk situasi ini. dia membalikkan badannya menatap Icha. dia benar bodoh atau hanya berpura pura, bagaimana aku memandangnya aku takut tak bisa mengontrol diriku." bathin Rey.


"Rey....." lagi Icha memanggilnya yang masih bengong . "Apa kau marah, karena aku memakai bajumu. Tidak ada baju lain Rey jadi aku...!"


Rey menarik tengkuk Icha dan menciumnya. Icha kaget dengan apa yang dilakukan oleh Rey. Lama Rey menciumnya hingga keduanya kehabisan nafas.


"Lain kali jangan berpakaian seperti ini lagi, jika tidak mau aku khilaf" ucap Rey menunduk dan masih ngos ngosan.


Alya menggerutu mendengar ucapan Rey. Dia juga nggak mau memakainya jika tidak terpaksa.


Ting..tong...be berbunyi.


Rey meninggalkan Alya dan membuka pintu. Kurir pengantar makanan datang. Rey kembali masuk dan menutup pintu nya. Membawa makana yang di pesan ke dalam.


"Sayang....ayo makan." ucap Rey.


Setelah makan malam Rey menonton TV, sementara Icha membersikan sisa makanan mereka dan membuang sampahnya serta mencuci piringnya. Dia menemui Rey di ruang tv.


Icha duduk disebelah Rey. "Boleh aku bicara?" tanya Icha hati hati.


"Katakanlah, ada apa." ucap Rey.


Dia menatap Icha dengan tajam. "Apa lagi yang akan dia bicarakan?" bathin Rey.


"Aku tidak mau tinggal disini. Bukan aku menolak kebaikanmu. Tapi aku lebih nyaman tinggal di kost ku yang dulu. Lagi pula apa kata orang jika kita tinggal bersama tanpa ikatan pernikahan. Aku juga tidak mau ibumu semakin salah paham denganku." ucap Icha.


"Aku tidak perduli dengan semua itu?" ucap Rey dengan nada tinggi. Nampak dia sudah emosi.


Icha menarik nafas dan menghembuskan ya dengan kuat dan berat.


"Sayang... dengarkan aku. Aku ingin ibumu dan orang orang tau jika cinta ku padamu tulus, bukan karena dirimu kaya seperti yang mereka tuduhkan padaku. Aku ingin mereka tahu cinta kita suci dan aku mencintaimu apa adanya." ucap Icha.


"Tapi...."


"Jika kau tidak setuju lebih baik kita berpisah saja."Ancam Icha.


Rey membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang telah dia dengar.


"Apa yang kau katakan tadi, sekali lagi kau berani mengatakan itu, aku pastikan kau tidak akan keluar dari kamar. Aku akan mengurungmu disini dan kita akan melakukan yang seharusnya dilakukan oleh suami istri. Aku tidak akan melepaskan mu." ancam Rey balik.


"Tidak, kau jangan coba coba melakukan itu...! ucap Icha berjalan mundur. Rey terus maju mengikuti langkah Icha, hingga Icha tak lagi bisa mundur karena terhalang tembok di belakangnya.


"Bagaimana, kau mau mencobanya?" tanya Rey dengan tatapan tajam. Posisinya sudah sangat intim.


Icha dengan cepat menggeleng. "Tidak maafkan aku..!" ucapnya menunduk. Airmatanya menetes disudut matanya.


"Jangan pernah ucapkan kata kata itu lagi, kalau tidak mau aku berbuat nekat." ucap Rey. Dia juga menunduk.


"Icha sudah terisak. Tadi dia benar benar ketakutan. Rey membawanya ke pelukannya. "Maafkan aku!" ucap Rey. Dia mencium pucuk kepala Icha. Dia juga menyesal telah membuat Icha ketakutan.