Sheila & Rey

Sheila & Rey
Akhirnya



Icha segera menuju kamar, lagi-lagi dia mendapatkan sebuah kejutan, kamar mereka telah dihias sedemikian cantik, ada taburan mawar diatas tempat tidur. Bunga dan lilin aroma terapi berjajar rapi, lampu kamar yang temaram, semua telah disiapkan secara sempurna. Icha tak dapat menutupi rasa bahagianya, tanpa sadar bibirnya mengulas senyuman yang indah. Dia tertegun beberapa saat menikmati pemandangan indah di depan matanya.


Sebuah suara dan pelukan hangat membuyarkan lamunannya. Rey datang dan memeluknya dari belakang. Bahkan Icha sampai tidak menyadarinya, "Kamu suka?"


Icha sedikit menoleh kebelakang, "Mas yang menyiapkan ini semua?" tanya Icha tak percaya.


"Aku hanya meminta bantuan kepada Jimmy, dia yang mempersiapkan semua ini tentunya dengan bantuan Sely." jawab Reyhan.


"Sely? siapa mas? Pacar kak Jimmy?" tanya Icha penasaran.


"Kok kamu kaget gitu?" Rey balas bertanya.


"Bukan, aku hanya penasaran, akhirnya kak Jimmy punya pacar juga." jawab Icha segera meluruskan dia tahu Rey mulai curiga.


"Iya mungkin! karena selama ini aku melihat mereka begitu dekat. Kamu kenapa? seperti nya kamu cemburu?" curiga Rey.


"Enggak mas, aku justru senang banget. Kak Jimmy sudah terlalu baik kepada kita, aku hanya merasa berhutang Budi, aku sudah menganggap kak Jimmy seperti kakakku sendiri, mas jangan salah paham, dia lah yang menolongku selama mas nggak ada."


"Ya aku tahu, tapi itu urusan nanti, saat ini aku hanya ingin menikmati moment indah kita," seru Rey.


Dia meletakkan kepalanya di pundak sang istri, mencium pipinya sekilas. Bush...wajah Icha memerah...dia merasa sangat malu.


"A..aku mandi dulu mas," tolak Icha halus.


"Apa kau sengaja menghindari ku?" Bukannya melepaskan Icha, Rey justru menguatkan pelukannya.


"Ti...tidak mas, aku hanya ingin membersihkan diriku--"


Ting...tong.. bel berbunyi.


Setelah membayar pesanannya, Rey masuk kembali dan mengunci pintu dari dalam.


Dia menuju dapur mengambil piring dan menyusun makanan diatasnya, kemudian menyajikannya diatas meja. Lalu mengambil air minum. Setelah itu dia kembali ke kamar memanggil Icha untuk makan bersama.


Icha sedang mengeringkan rambutnya saat Rey memasuki kamar. senyum mengembang di sudut bibir Rey, siapa yang menyangka dia dan Icha sudah menjadi suami istri.


"Mas kok senyum-senyum sendiri?" tanya Icha heran. Dia bangkit dan berjalan ke kamar mandi menjemur handuknya.


"Ayo makan," Rey menarik tangannya turun.


Di dapur keduanya makan sambil berbincang. Rey dan Icha menikmati makan malam pertama berdua dengan status yang berbeda.


Selesai makan, Icha membawa piring ke westafel dan mencucinya. Rey memilih naik ke kamar dan mandi.


Icha segera naik ke kamar menyusul Rey setelah selesai mencuci piring. Dia menghidupkan televisi menunggu Rey yang sedang berada di kamar mandi. Tak lupa Icha memilihkan piyama untuk Rey.


Selesai mandi Rey menyusul Icha duduk menonton televisi. Rey memeluk Icha dari samping, Icha merasa gugup. Dia tahu apa yang diinginkan suaminya tapi dia merasa takut, canggung dan tak tahu harus berbuat apa.


"Sayang..." panggil Rey. Tangannya mulai bergerilya di dalam kaos Icha. Bibirnya mengecup lembut pipi sang istri. Icha merasa malu dan bersemu merah. Dia menoleh, matanya menatap tepat manik mata Rey. Rey semakin mendekat, mengikis jarak dalam hitungan detik dia menyatukan bibirnya, awalnya Icha hanya diam, namun Rey sangat lembut dan membuatnya terbuai. Perlahan Icha mulai membalas walau dia masih kaku.


Rey melepaskan ciumannya dan menatap sayu, "Boleh mas melakukannya?"


Icha yang awalnya menunduk kini kembali menatap wajah suaminya. Keraguan di hatinya hilang melihat wajah sayu dan penuh harap Rey.


"Ini juga yang pertama buatku, Cha. Aku juga bingung, tapi aku akan melakukannya dengan lembut," bujuk Rey.


Pelan Icha mengangguk, senyum mengembang dibibir Rey. Tanpa bicara dia kembali menyatukan bibir mereka dan menggendong istrinya ke tempat tidur. Dan memulai malam panjang mereka. Malam indah untuk memadu kasih bagi pasangan pengantin baru ini. Malam yang tak kan terlupakan, menjadi kenangan manis mereka berdua.