Sheila & Rey

Sheila & Rey
Mungkinkah



Rey sudah sampai di Jakarta. Malam ini dia sengaja menginap di apartemen nya. Terbayang kembali saat dirinya dan Icha dulu menginap bersama.


Rey tersenyum sedih. Meratapi nasibnya. Icha pergi meninggalkannya. Rey sudah menyuruh Roni mencari tahu dimana Icha berada. Namun tampaknya usaha Roni belum juga membuahkan hasil. Roni belum menemukan Icha nya.


Roni juga baru memberitahukan jika Icha di DO dari kampus dan diusir dari kontrakan nya oleh ibunya Rey dua hari setelah Rey kecelakaan dua tahun yang lalu.


Rey pikir Icha masih tetap kuliah dan tinggal di Jakarta.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Rey melalui sambungan ponselnya.


"Maaf Rey, namun aku belum menemukan titik terang." jawab Roni.


"Terima kasih Ron. Terima kasih sudah mau repot membantuku." ucap Rey sedih.


"Rey..." panggil mamanya.


"Aku tutup dulu ya, nyokap manggil." ucap Rey langsung mematikan ponselnya dan duduk kembali di kursi rodanya.


"Rey... kok di kunci pintunya?" tanya mama Rey begitu pintu kamar di buka oleh Rey.


"Ada apa ma?" tanya Rey tanpa menjawab pertanyaan mama nya.


"Perusahaan kita yang ada di Surabaya, lagi dalam masalah dan mama juga lagi repot disini. Mama bingung mana yang harus di dulukan!


ehmm . Kamu mau nggak bantu mama. Coba check kesana. Nanti pak Budi akan membantumu." ucap mamanya.


"Baiklah Rey mau, kapan Rey berangkat?" tanya Rey


Mamanya sangat senang mendengarnya, "dua hari lagi. Mama sangat senang kau mau membantu mama. Terima kasih nak. Oh ya, semua kebutuhan mu selama disana akan dipersiapkan oleh pak budi, kau tidak perlu khawatir." ucap mamanya dan pergi meninggalkan Rey.


Icha akau akan terus mencari mu, siapa tahu jika kau juga ada di Surabaya dan aku bisa bertemu dirimu disana. lagipula disana aku bisa lebih leluasa mencarimu dari pada disini bersama mama yang terus saja mengawasiku. bathin Rey.


Rey kembali mengunci kamarnya dan masuk kedalam. Bangkit dari kursi rodanya, kemudian dia melangkah ke tempat tidur. merebahkan dirinya sambil memandang photonya bersama Icha. Tak lama kemudian dia pun terlelap.


Sementara di Surabaya Icha juga duduk termenung. Dia baru saja selesai mengerjakan tugas kantor yang dia bawa ke rumah. Juga laporan magangnya. Icha tinggal satu Minggu lagi magang di kantor tersebut. Dan setelah itu dia akan menyusun skripsi dan akhirnya dia akan lulus.


Icha sangat berharap dia cepat lulus dan bisa mencari pekerjaan yang layak. Agar dirinya membalas kebaikan bibi Merlin dan juga dia berani pulang ke kampung halamannya.


jujur Icha sangat merindukan kedua orang tuanya dan juga adik adiknya.


Lelah melamun Icha menutup jendela kamarnya dan membaringkan dirinya di tempat tidur, dan akhirnya dirinya pun terlelap.


...****************...


Jam sepuluh pagi, pesawat yang ditumpangi Rey telah sampai di bandara Ir Juanda Surabaya.


Rey turun di bantu oleh pak Budi. Dari bandara segera melaju menuju kantor sebelum berisitirahat ke hotel.


Suasana di kantor terlihat sangat sibuk menyambut bos besar yang akan melakukan sidak. Semua persiapan sudah hampir selesai dan sempurna.


"Semua berkumpul di depan, berbaris dengan rapi , Direktur sudah sampai." perintah sang manager.


Semua karyawan sudah berbaris rapi. Tinggal Icha yang masih duduk di kursinya.


"Cha ,Lo nggak ikut nyambut pak direktur?" tanya Nana salah satu teman atau ruangan Icha yang centil.


"Kamu saja, aku masih ada kerjaan. Lagipula aku hanya Anak magang disini." ucap Icha menolak.


"Cha ayo, semua harus berkumpul disana tidak terkecuali," ucap Nindy yang datang menyusul Icha.


Dengan malas Icha berjalan mengikuti Nindy ke depan dan ikut baris, namun Icha memilih di barisan paling belakang.


"Sini ayo, siapa tahu boss melihat kita. katanya boss kita ganteng, terus single lagi.." ucap Nindy bersemangat.


"Kamu aja, aku disini ja." ucap Icha masih memilih dibelakang .


Rey turun diikuti oleh pak Budi. Semua menunduk hormat,


Pak Budi terus mendorongnya kursi roda Rey melewati barisan para karyawan yang menyambutnya. Rey tampak diam dengan wajah datar dan dingin.


Namun Icha langsung menunduk, jantungnya berdetak kencang dan dadanya terasa sesak.


"Rey.." ucapnya pelan nyaris tak terdengar.


Bagaimana dia bisa ada disini. Bukankah mamanya membawa dia ke luar negeri.


Apa itu Rey? dia sudah sembuh ? dan sekarang berada di kursi roda?? dia cacat??? semua spekulasi itu berputar di kepala Icha. Hingga sebuah panggilan menyadarkannya dari lamunannya.


"Cha , pak manager memanggilmu." ucap Nindy.


"Hah...pak manager?" tanya Icha.


"iya, kamu sih dari malah melamun. kamu lihat nggak pak boss kita, orangnya ganteng banget loh." ucap Nindy.


Icha tak lagi mendengarkan ucapan Nindy. Icha diam. "Cha!" panggil Nindy lagi.


"Eh ...iya iya...." jawab Icha dan berjalan menuju ruangan manager.


Sementara Rey juga sama terkejutnya dengan Icha.Rey tak menyangka dia akan menemukan Icha nya disini. Dadanya terasa sesak akan rasa rindu yang meluap minta untuk segera di tumpahkan. Bahagia, akhirnya bisa menemukan pujaan hatinya. ingin rasanya Rey segera berlari dan memeluk Icha nya.


"Pak Danu?" panggilkan manager keruangan ku sekarang." ucap Rey.


"Baik tuan." jawab Icha.


"Tuan memanggil saya." ucap Devan Manager perusahaannya.


"Ya benar, apa ada karyawan disini bernama Icha?" tanya Rey.


"Tidak ada tuan. Lalu pegawai dengan baju berwarna pink tadi, siapa namanya?" tanya Rey semakin penasaran.


"Oh itu, bukan karyawan Disini tuan, dia adalah anak magang, dan namanya Sheila Anjani." jawab Devan.


Rey tersenyum mendengar nya. Akhirnya aku menemukan Icha ku. Tunggu saja aku tak akan melepaskan mu lagi Icha .


"Kapan masa magangnya berakhir?" tanya Rey.


"Minggu depan tuan, ini Minggu terakhir mereka disini." ucap Devan.


"Perpanjang masa magangnya dengan berbagai alasan kau harus bisa membuatnya mendatangi kontrak agar dia mau bekerja selama satu tahun disini. Dan buat perjanjian yang memberatkannya hingga dia tidak pernah bisa berpikir untuk keluar atau mengundurkan diri." ucap Rey.


"Baik, tuan." jawab Devan.


Kesalahan apa yang di lakukan Icha, hingga tuan Rey sampai semarah itu dan memaksanya bekerja disini." bathin Devan.


Devan segera membuat surat perjanjian yang diminta Rey dan memberikannya kepada Rey untuk diperiksa.


"Bagus, minta dia segera tanda tangani." ucap Rey.


"Baik tuan." jawab Devan dan berlalu .


"Cha, ikut keruangan saya. " panggil Devan.


"Ya pak." jawab Icha.


"Ini laporan magang yang kau minta, silahkan tanda tangan disini sebagai bukti kami sudah menyelesaikan tugas kami dan kau sudah menyelesaikan masa magang mu." ucap Devan.


Icha mengambil laporannya dan menanda tangani berkas yang diberikan Devan.


"Sudah pak." ucap Icha meletakkan penanya.


"Kau bisa melanjutkan pekerjaanmu." ucap Devan lagi.


"Terima kasih pak." jawabnya.


*maafkan aku Cha. aku nggak tahu apa masalah boss dengan mu yang pasti aku minta maaf. ucapnya pelan.


tinggalkan jejak ya*....