
"lepas......lepaskan aku Rey. kau tidak bisa seenaknya saja padaku. le..pas...."
Icha terus meronta.
Rey terus menyeretnya pergi jauh dari sana. Icha sampai kesulitan berjalan. Tenaga Rey sangat kuat. Icha terpaksa mengikutinya.
"Kau bisa diam tidak? Kalau tidak aku akan mencium mu disini. Atau kau memang minta dicium" ucap Rey.
Icha langsung diam dan tidak lagi memberontak. Dia mengikuti langkah kaki Rey.
Rey tersenyum tipis dan terus melangkah. Mereka sampai di sebuah taman kecil di pinggir pantai.
Rey melepaskan cekalan tangannya.
"Apa kau terlalu bodoh, hingga diam saja saat di tindas okeh Selina?" tanya Rey.
"Jadi aku harus apa?" jawab Icha
"Mereka banyak dan aku sendiri. Ini semua karena kau...! Icha menunjuk Rey.
Kalau kau tidak dekat dengan ku, maka Selina tidak akan menggangguku. Urus saja pacarmu itu.!" Icha berjalan setelah mengatakan kalimat tersebut.
Rey kembali menarik tangan Icha.
"Apa maksud ucapan mu?" tanya Rey mengintimidasi.
"A....aku tiii...tidak bermaksud apa apa!" jawab Icha terbata.
"Siapa yang bilang dia pacarku!" Rey semakin mendekat ke Icha. Icha ketakutan dan mundur. Rey tersenyum...
"Kenapa kau marah, Kau cemburu??? ya kan?" Tanya Rey semakin mengintimidasi nya.
Sheila merasa terpojok. Dia bingung mau menjawab apa. Refleks dia menginjak kaki Rey. Rey meringis dan Icha langsung berlari menjauh. Saat sudah jauh di berbalik dan menjulurkan lidahnya ke arah Rey.
Rey terkekeh.
"Sungguh menggemaskan" ucap Rey.
Sementara itu Icha terus saja berlari. Dia berhenti setelah benar benar kelelahan. Icha memegang dadanya. Jantungnya berdetak lebih kencang saat berdekatan denga Rey.
"Untung dia tidak mendengar detak jantungku. Kenapa aku ini, Mengapa jantung ku tidak bisa di kontrol saat dekat dengan Rey. Apa aku sakit???? Atau........
Aaaaaa......tiba tiba Icha menjerit. Dia tidak membayangkan. jika dia bisa suka pada Rey.
"Cha loe kenapa?" tanya Yuni mendatanginya.
Icha terdiam. "eh...aku enggak apa apa." jawab Icha cengengesan.
"Ya udah yuk!" ajak Yuni. Mereka jalan bersama.
"Loe harus cerita ma gue, kenapa selama ini loe nyamar!" ucap Yuni.
"Sebenarnya aku nggak nyamar, aku cuma nggak mau orang membenciku karena wajahku ini. Aku punya pengalaman tidak menyenangkan. Jadi aku lebih suka tampil dengan kacamata tebal. Lagipula kacamata melindungi mata dari debu, ya kan!" jawab Icha.
"Kamu ini bisa saja. Tapi bener kamu cantik banget. Aku sampe nggak ngenalin kamu tadi. Suer!!" ucap Yuni.
"Pasti Selina semakin membenciku." ucap Icha pelan.
"Jangan khawatir ada babang Rey yang akan melindungi kamu, ya kan!!!" goda Yuni.
"Apa an sih! Aku kira kau kan bilang ada aku yang selalu disampingmu, huh!"
"Kamu tidak memperhatikan. Rey itu peduli banget lho. Dia yang nyelamatin kamu waktu di pantai. Dia juga yang nyelamatin kau dari Selina tadi. Aku yakin Rey pasti suka ma kamu."
"Kamu salah. Dia peduli karena aku ini pembantunya. Dia nggak mau rugi, tau!"
"Percaya ma aku. Rey pasti suka sama kamu Kita lihat aja nanti. Oke!!" ucap Yuni bersemangat.
"by the way, titip salam ya ma babang Roni yang ganteng. Bilang sama dia. "Love you so much by Yuni." ucap Yuni dengan gaya nya.
Icha hanya tertawa melihat tingkah laku sahabatnya itu.
Mereka kembali ke tenda dan menyiapkan makan siang. Lalu makan bersama.