Sheila & Rey

Sheila & Rey
Kedatangan Mama



Icha dan Rey kembali ke aktivitas biasanya. Bangun pagi, sarapan dan berangkat bekerja bersama.


Rey akan mengantarkan istrinya terlebih dahulu sebelum dia ke bengkel. Walau jaraknya sangat dekat, tapi Rey tidak pernah membiarkan Icha pergi dan pulang sendiri. Rey selalu menemani nya.


"Nanti sore mas jemput, mas mau ajak kamu jalan jalan."


"Jalan-jalan? kemana?" Icha menatap heran.


"Rahasia.."


Cup, Rey mencium kening istrinya, setelah itu kembali masuk ke dalam mobilnya dan pergi.


Icha berjalan santai memasuki kafe. Sudah ada dua orang pekerja yang sedang membersihkan meja. Icha tersemyum dan terus melangkah masuk.


Sepuluh menit dia berkutat dengan alat masak di dapur. Icha suka membuat roti dan cemilan sebagai teman minum kopi disana.


Dan semua makanan yang dia buat, habis laris manis setiap harinya, karena rasanya yang sangat enak.


"Bu, ada yang nyariin." seorang pelayan bernama Ardi menghampiri nya.


"Siapa?" tanya Icha heran. Dia tidak memiliki janji ketemu dengan siapapun hari ini.


"Tolong lanjutkan ya," ucapnya pada Ardi.


Icha segera mencuci tangannya dan bersiap ke depan. Sementara Ardi dia memasukkan adonan yang sudah selesai kedalam loyang dan memasukkan nya ke oven.


Icha tertegun di depan pintu saat melihat seorang wanita yang berdiri membelakanginya.


Dari postur tubuh dan juga gayanya Icha tahu siapa wanita itu. Wanita yang selama ini sangat dia hindari, mama Rey.


Walau dia sudah memperkirakan saat ini akan tiba, namun tetap saja dia tidak siap menghadapi nya.


"Selamat pagi, Tante." sapa Icha setelah beberapa saat mengumpulkan keberaniannya.


Wanita itu berbalik, dan membuka kacamata nya.


"Wow, tak ku sangka Upik abu sudah berubah menjadi Cinderella sekarang tapi sayangnya Upik abu tetaplah Upik abu, walau sudah di poles dengan apik." sindirnya. Dia berjalan mengelilingi Icha dan menilai penampilan nya.


"Ada apa Tante datang kesini?"


"Aku minta kau tinggalkan anakku? gara gara kau, dia pergi meninggalkan aku dan perusahaan nya. Kau hanya memberikan pengaruh buruk padanya."


Icha menahan amarah dan mengepalkan tangannya. "Maaf Tante, tapi aku tidak bisa. Kami sudah menikah."


"Hahahah....kau bermimpi menjadi menantuku, tidak mungkin. Aku tidak akan pernah merestuinya. Terserah, kau melakukan apapun tapi dimata ku kau bukan siapa siapa."


"Jika hanya itu yang ingin Tante bicarakan, Tante bisa pergi sekarang karena Tante pasti sudah tahu jawabannya."


"Kau! kau sadar sejak bersama mu dia menderita, dia tidak pernah bekerja, hidupnya mewah sejak kecil karena aku memanjakannya tali lihatlah sekarang gara gara kau putraku harus bekerja keras, kau....pembawa sial!!!' geram Mama Rey.


"Katakan berapa uang yang kau inginkan!" Dia membuat penawaran.


"Simpan saja uang Tante, satu hal lagi. kenapa Tante tidak meminta langsung pada Rey. Minta dia meninggalkan ku, dan kembali pada Tante, tapi satu hal yang harus Tante ingat, cinta kami begitu kuat, dan tak akan terpisahkan. Rey tidak akan meninggalkanku, percuma saja usaha Tante ini."


"Aku pasti akan memisahkan kalian, Rey akan sadar karena dia memilih wanita yang salah."


"Silahkan tante." Icha mempersilakan mama Rey pergi. Setelah itu dia terduduk lemas. Perlu keberanian yang cukup untuk membalas tiap ucapannya.


Tanpa sadar airmatanya menetes. "Mbak," Ardi memanggilnya. Icha segera menghapus airmatanya.


"Ya!"


"Rotinya sudah matang, mau buat lagi atau gimana?"


"Eh...buat lagi juga boleh. sebentar."


Icha bangkit dan berjalan ke belakang. Dia ingin melupakan semua dengan menyibukkan diri di dapur.


...****************...


Rey baru saja mandi dan kini duduk menonton televisi. Dia terus memperhatikan sang istri yang terlihat murung.


"Sayang, kamu kenapa?"


"Eh...aku. aku tidak apa apa mas" jawab Icha


"Kau tidak bisa bohong, sayang. Ada apa? apa Mama datang menemuimu?" Rey ingin tahu istrinya bohong atau tidak.


Sebenarnya dia tahu karena Rey memasang cctv di kafe tersebut tanpa sepengetahuan istrinya, bukan untuk memata matai tapi dia takut mamanya akan datang dan mengancam istrinya seperti tadi.


Icha mendongak, dia tak dapat menutupi rasa terkejutnya. "Mas!"


"Aku tau, kebetulan tadi aku melihat Mama lewat, apa yang mama katakan padamu."


"Mama minta kita...."


"Lalu kenapa kau pikirkan! Aku mencintaimu dan aku bahagia bersama mu."


"Tapi mas, Mama benar, sejak bersama ku, mas jadi anak yang membangkang mas tidak lagi..


"Dia tidak pernah menganggap aku anaknya, apa dia tahu apa yang aku rasakan? apa mau ku? dia hanya memikirkan uang dan uang." Rey bicara dengan penuh emosi.


"Mas, maafkan aku." Icha menangis.


"Berjanjilah kau tidak akan meninggalkan ku!" mohon Rey. Icha mengangguk.


Tiba tiba Icha merasa pusing, dan mual. Saat akan berdiri menuju kamar mandi, dia terhuyung.


"Sayang, kamu kenapa?" Rey terkejut dan langsung menangkapnya. Dia meletakkan Icha di sofa.


"Aku pusing mas," jawabnya.


"Kita ke dokter ya,"


"Enggak usah mas, aku tidak apa apa, mungkin masuk angin."


"Tidak, kita harus ke dokter sekarang, mas takut terjadi apa-apa. Sebentar mas ganti baju dulu."


"Mas!"


"Aku tidak suka dibantah." setelah bicara Rey ke kamar mengganti pakaiannya dan membawa jaket untuk Icha. kemudian mereka keluar dan berangkat ke klinik untuk memeriksakan Icha.